Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 11 Sep 2021 05:01 WIB

TRAVEL NEWS

Getok Harga Kopi dan Mi Instan di Puncak, Wajar atau Kurang Ajar?

Tim detikcom
detikTravel
Kemacetan di Puncak, Minggu (5/9/2021)
Ilustrasi Puncak (Ahmad Masaul/detikcom)
Bogor -

Harga segelas kopi dan seporsi mi instan bisa berkali lipat di Puncak, Bogor. Ada yang berpendapat wajar, ada yang bilang kurang ajar untuk pedagang yang menggetok harga.

Harga tinggi makanan di Puncak itu sempat heboh di media sosial belum lama ini. Ada traveler mengaku disuruh membayar Rp 20 ribu, bahkan sampai Rp 100 ribu untuk segelas kopi.

Koordinator Pedagang Puncak Bogor, Dadang Sukendar, menganggap wajar harga mahal segelas kopi instan itu. Dia bilang harga mahal kopi itu ditambah dengan durasi duduk si pembeli. Si pembeli itu duduk semalaman di warung tersebut, bukan cuma satu atau dua jam.

Dadang yang juga pemilik warung makan di kawasan Masjid Atta'Awun, Puncak, Bogor itu bilang harga tersebut tidak ditetapkan oleh pedagang, tetapi merupakan hasil musyawarah.

"Kalau tamunya tidak sadar sampai dipakai nginep, bapak juga pasti itung-itungan dong. Kemarin sama pak camat, kalau tamunya gitu mungkin saya juga akan itung-itungan dikarenakan warung bukan tempat penginapan," kata Dadang.

"Masalah harga itu perlu dipahami, dikaji misalkan. Ada yang dibilang wajar, ada yang dibilang kurang ajar," dia menambahkan.

Bagi traveler harga Rp 100 ribu untuk segelas kopi itu sangat tidak wajar. Sebabnya, warung makan tidak memasang daftar menu dan harga yang mudah diketahui oleh pelanggan. Selain itu, sejumlah wisatawan yang langganan ke Puncak menyebut ada tipe-tipe wisatawan yang dijadikan sasaran oleh pedagang di Puncak.

Salah satu wisatawan yang celaka itu adalah mereka yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Selain itu, wisatawan yang berpenampilan mewah biasanya juga bakal digetok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Deni Humaedi meminta pengunjung dan pedagang sama-sama mengambil langkah yang tidak saling merugikan. Setidaknya, kedua belah pihak harus menciptakan komunikasi agar tidak berbuntut masalah.

Traveler lain secara konkrit menyarankan agar wisatawan yang mampir di warung kopi atau mi instan di Puncak menanyakan harga per porsi. Selain itu, disarankan agar menanyakan banyak hal secara rinci ketimbang ada masalah di akhir transaksi.

Bagaimana menurut traveler? Wajarkah harga Rp 20-100 ribu buat ngopi dan duduk semalaman di warung di Puncak?

Tonton video 'Getok Harga Kopi-Mie Instan, Pedagang Puncak Bogor Sebut Masalahnya Ada di Tamu':

[Gambas:Video 20detik]



(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA