Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 13 Sep 2021 17:10 WIB

TRAVEL NEWS

Berapa Tarif Selimut Hidup di Cianjur?

Cianjur -

Fenomena 'selimut hidup' buat menemani malam-malam yang dingin di vila-vila Cipanas, Cianjur memang benar adanya. Mereka ada dari zaman dulu dengan tarif mengikuti perkembangan zaman.

Zaman dulu, sekira 30 tahun yang lalu, selimut hidup dipatok dari harga puluhan ribu. Saat ini, tarif mereka mencapai jutaan dan tergantung dari proses tawar-menawarnya.

"Kalau nggak nginep ya Rp 50 ribu dan kalau nginep ya Rp 100 ribu, dulu. Itu pas umur saya 20 tahun," kata Abah Asep yang kini berumur 55 tahun. Ia sudah malang melintang di dunia kelam Puncak ini hampir di seluruh hidupnya.

"Kalau sekarang harganya juga naik tinggi. Kalau sekarang ada Rp 1,5 juta nginep tergantung bagaimana tamu menawarnya. Paling minim sampai jam 4 pagi itu satu ribu (Rp 1 sampai 1,5 juta)," imbuh dia menerangkan.

Tak hanya melakukan hubungan itu, mereka yang dijadikan selimut hidup memang dipesan untuk menemani para traveler nakal. Namun saat pandemi ini jumlah pelanggannya pun berkurang drastis.

"Mereka, selimut hidup ini dibooking buat nemenin tidur, nemenin ngobrol," kata Asep.

"Sekarang praktik selimut hidup ini baru turun karena Corona. Ada aja kalau sebelum Corona, setiap hari," imbuh dia.

Pada zaman dulu, Asep pernah mengurusi belasan selimut hidup. Hingga berumur sekira 30-an tahun profesi ini dijalaninya.

"Ya bener dulu itu setelah menjadi wakil paman saya. Tiap hari pemasukannya? Kadang bertelur semua, ada juga yang nggak bertelur," kata dia.

"Nggak masalah bertelur atau nggak, kalau sama saya, makan satu makan semua. Itu kan urusan saya. Jumlahnya 1.000.000 pengeluaran, kecil tapi gede. Tahun dulu itu kan seperti itu," imbuh dia.

"Ada 14 cewek yang saya pelihara. Kurang lebih mereka saya kelola sampai umur 30 tahun. Sekitar 10 tahun," kata dia lagi.

Lalu, Asep punya istri kedua dan disuruh berhenti karena urusannya terlampau rumit. Selepas pamannya yang menjadi kepala meninggal maka bubar pula bisnis itu.

"Terakhir kali ada 7 orang. Mereka ada yang pulang, pindah. Kebanyakan Sukabumi, Sukaraja, Cianjur, perkampungan lah," terang Asep.

(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA