Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 03 Des 2021 08:15 WIB

TRAVEL NEWS

China Kembangkan Kresek dari Sperma Ikan

Syanti Mustika
detikTravel
Image of Happy Family tossing of Yee Sang or YuSheng with raw salmon fillet traditional Chinese New Year prosperity delicacies.
Ilustrasi ( iStockphoto)
Jakarta -

China berhasil menemukan solusi dari pencemaran plastik. Mereka sedang mengembangkan plastik dari sperma ikan.

Dirangkum detikcom, Jumat (3/12/2021) para peneliti di Universitas Tianjin di China tengah mengembangkan plastik biodegradable berkelanjutan. Bahan bakunya berasal dari campuran sperma salmon dan minyak sayur.

Proyek ini memungkinkan jawaban dari masalah sampah plastik dunia yang terus meningkat.

Peneliti mengektraksi untaian DNA dari sperma salmon (dan katanya semua makhluk hidup punya komponen ini), kemudian digabungkan dengan bahan kimia dari minyak nabati, sehingga dihasilkan cairan jel yang licin yang dikenal dengan hidrogel.

Gel ini kemudian dicetak dan dikeringkan menjadi beragam bentuk dan dikeringkan dengan cara dibekukan untuk menghilangkan kelembapan dan dia menjadi padat.

Sejauh ini, para peneliti telah membuat cangkir, potongan puzzle, dan molekul DNA dari plastik ramah lingkungan.

Proyek ini merupakan proyek berkelanjutan karena bahan bakunya berupa DNA. Dan, secara teknis tidak hanya bisa dari sperma salmon tetapi bisa dari bahan lainnya, seperti bahan limbah dari tanaman, ganggang, atau bakteri.

Dari produk yang diciptakan, memang selintas mirip dengan plastik pada umumnya, namun ini diklaim menghasilkan kurang dari 5% emisi karbon yang dihasilkan plastik biasa.

"Sepengetahuan kami, plastik DNA yang kami laporkan adalah bahan yang paling ramah lingkungan dari semua plastik yang dikenal," kata pemimpin tim peneliti Dayong Yang kepada The Times of London.

Selain rendah emisi karbon, Yang bersama timnya juga menuliskan dalam Journal of American Chemical Society jika plastik mereka rendah konsumsi energi dan berkualitas dalam proses pembuatannya.

Namun produk ini tetap punya kelemahan. Plastik ini tidak sekuat plastik yang sudah ada. Para peneliti menyarankan jika produk baru ini harus diperlakukan seperti bahan kedap air.

Bahaya plastik memang tidak main-main. Jadi, wajar saja para peneliti berusaha menemukan cara bagaimana bisa mengurangi atau menghasilkan pengganti dari plastik yang begitu lekat dengan manusia.



Simak Video "4 Teknologi yang Mencoba "Melawan" Kuasa Tuhan "
[Gambas:Video 20detik]
(sym/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA