Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 17 Des 2021 06:11 WIB

TRAVEL NEWS

Media Asing Soroti Bali yang Hanya Terima 45 Wisman Semenjak Dibuka Lagi

Ilustrasi libur natal dan tahun baru di berbagai tempat wisata Indonesia, Bali dan Semeru
Bali (Foto: Kemenparekraf)
Jakarta -

Bali hanya menerima 45 turis asing pada tahun 2021 setelah dibuka kembali. Hal ini pun menjadi sorotan media asing.

Seperti dikutip detikTravel dari CNN, Jumat (17/12/2021), destinasi di seluruh dunia mengalami pengurangan turis yang signifikan di tengah pandemi virus corona. Tetapi hanya sedikit yang mengalami pukulan lebih keras daripada Bali, pulau di Indonesia yang telah lama dicintai oleh para pelancong global.

Karena tindakan kontrol perbatasan yang ketat dan bandara yang ditutup, Bali berubah dari menerima jutaan pengunjung internasional menjadi hanya 45 pada tahun 2021.

Bandingkan dengan sekitar 6,2 juta kedatangan internasional pada 2019 dan 1,05 juta pada 2020.

"Itu jumlah kunjungan wisatawan asing terendah yang pernah kami catat," kata Nyoman Gede Gunadika, Kepala Seksi Pariwisata Provinsi Bali, kepada CNN.

Angka dua digit itu dihitung dalam periode Januari-Oktober 2021 dan dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik Bali.

Karena Bandara Internasional Ngurah Rai (DPS) di Denpasar telah ditutup untuk penerbangan internasional hampir sepanjang tahun, para turis itu hampir semuanya datang melalui kapal pesiar pribadi.

Meskipun bandara secara resmi dibuka kembali untuk penerbangan internasional pada 14 Oktober, sejauh ini hanya ada penerbangan domestik masuk dan keluar dari bandara, terutama dari ibu kota Indonesia, Jakarta.

Syarat wisman masuk ke Bali, Indonesia

Untuk datang ke Bali, wisatawan asing harus menghadapi persyaratan masuk terkait Covid yang ketat. Mereka harus mendapatkan visa bisnis dengan biaya USD 300 (tidak ada visa turis saat ini), mengikuti beberapa tes PCR dan membeli asuransi kesehatan khusus.

Selain itu, biaya tiket pesawat lebih tinggi dari biasanya karena kurangnya penerbangan langsung.

Salah satu calon pengunjung Bali adalah Justyna Wrucha, seorang warga negara Inggris yang merencanakan perjalanan ke Bali bersama suaminya. Ini akan menjadi kunjungan pertama mereka ke pulau itu, yang katanya telah lama ada dalam daftar keinginan mereka.

"Kami pikir pemerintah di Indonesia dan Bali sangat keras dengan memberlakukan karantina 10 hari pada orang yang divaksinasi lengkap," kata Wrucha kepada CNN.

Kebijakan Covid Bali terkait pengunjung asing ditentukan oleh pemerintah pusat di Jakarta, bukan oleh otoritas lokal di pulau itu. Awalnya, karantina lebih pendek tetapi baru-baru ini meningkat karena kekhawatiran varian baru Omicron.

Wrucha dan suaminya akan tiba di Jakarta pada 26 Desember, dikarantina di sana selama 10 hari dan kemudian terbang ke Bali kecuali ada perubahan atau masalah di menit-menit terakhir.

Dia mengatakan mereka mengandalkan media sosial, terutama Instagram, untuk tetap memperbarui berita daripada di saluran resmi pemerintah.

"Sebelum Covid, orang-orang dari Eropa dan Inggris mencintai Bali," tambahnya.

Ray Suryawijaya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Badung Bali, sependapat dengan Wrucha.

"Dengan semua hambatan itu, sulit bagi kami untuk mengharapkan turis asing datang ke Bali," katanya.

Namun, ada secercah harapan kecil dengan kembalinya pariwisata domestik secara bertahap. Ray melaporkan, tingkat hunian hotel di Bali saat ini berkisar 35%.

"Pada akhir pekan, sekitar 13.000 wisatawan domestik berkunjung ke Bali," tambahnya.

Meski sedikit, pengunjung yang datang merupakan catatan yang menggembirakan untuk mengakhiri tahun.

Karena banyak penduduk lokal Bali yang bergantung pada pariwisata untuk menghidupi keluarga mereka, meski itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan musim 2021.



Simak Video "Kemenparekraf Bidik Australia untuk Dongkrak Jumlah Wisman "
[Gambas:Video 20detik]
(msl/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Adu Perspektif
×
24 Tahun Reformasi dan Alarm Demokrasi Filipina
24 Tahun Reformasi dan Alarm Demokrasi Filipina Selengkapnya