Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Rabu, 12 Jan 2022 23:12 WIB

TRAVEL NEWS

Tari Perut Mesir, Ritual Sakral yang Kini Dianggap Erotis

Putu Intan
detikTravel
Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir
Ilustrasi tari perut. Foto: DW (SoftNews)
Kairo -

Bagi sebagian orang, tari perut Mesir dipandang sebagai tarian erotis. Padahal dalam sejarahnya, tarian ini bermakna sakral. Tari Perut Mesir diperkirakan sudah ada sejak 2.200 tahun yang lalu. Hal itu tercatat dalam manuskrip sejak masa Mesir Kuno dipimpin firaun.

Mulanya, tari perut ini ditampilkan di kuil wanita suci di seluruh Mesir. Tari ini dibawakan dalam upacara untuk wanita muda yang sudah mencapai masa pubertas.

Mengutip jurnal berjudul History of the belly dance: is it to entice men or a female's rite of passage, tujuan upacara sakral ini adalah menghantarkan mereka mencapai kewanitaan.

Dalam upacara itu juga dilakukan ritual persiapan pernikahan dan doa untuk kesuburan para wanita muda.

Tarian ini dimulai sebagai bentuk pemujaan terhadap dewi wanita. Tarian itu juga dilakukan untuk mempersiapkan tubuh wanita agar dapat hamil dan baik dilakukan pada saat hamil.

Gerakan-gerakan pada tari perut Mesir ini dapat membantu meningkatkan kesehatan wanita. Selain itu, tari perut Mesir dipercaya dapat mempermudah wanita ketika melahirkan.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat Barat menemukan tarian ini dan memandangnya dengan cara lain. Awalnya orang Prancis menyebutnya sebagai danse du ventre yang artinya tarian perut.

Masyarakat Barat menggambarkan tari perut sebagai tarian yang bertujuan seksual. Dari yang mulanya bermakna spiritual, tari perut kerap dianggap negatif.

Tari perut Mesir diidentikkan dengan tarian striptis, erotis, dan diasosiasikan dengan penari telanjang. Padahal, tari perut Mesir sama sekali tak ada hubungannya dengan hal tersebut.

Pandangan seperti ini rupanya membuat penari perut Mesir menjadi resah. Salah satunya adalah Amie Sultan.

Sultan mengatakan, penari perut Mesir rentan mendapatkan diskriminasi dari masyarakat Mesir yang konservatif. Para penari ini tak jarang diasingkan keluarga, berhadapan dengan hukum, dan dilecehkan karena pekerjaan mereka.

Sultan ingin tari perut Mesir dipandang sebagai sebuah kesenian yang melekat dalam budaya masyarakat Mesir. Ia juga mengajukan tari perut Mesir masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.



Simak Video "Tempe hingga Perkedel Bikin Heboh Paviliun Indonesia di COP27 Mesir"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA