Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 29 Jan 2022 15:43 WIB

TRAVEL NEWS

Ingat Traveler! Jangan Buang Sampah ke Laut, Akibatnya Fatal

Wisatawan melakukan penyelaman di lokasi menyelam Batee Tokong, Sabang, Aceh, Sabtu (9/10/2021). Kemenparekraf menyatakan Sabang merupakan salah satu destinasi wisata bahari terbaik dengan keindahan alam bawah laut yang ada di Indonesia dengan beberapa lokasi penyelaman di antaranya The Canyon, Batee Tokong, Pulau Rondo dan Arus Balee. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Ilustrasi laut Indonesia harus dijaga. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta -

Sampah plastik di laut menjadi masalah yang belum terselesaikan. Masih banyak masyarakat yang abai untuk membuang sampah pada tempatnya.

Dalam webinar Harta Karun d Laut Nusantara, salah satu personil Wolftank sebagai nature ambassador Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kin, mengingatkan pemancing atau turis untuk tidak membuang sampah plastik ke laut. Sebabnya, bisa berdampak pada ekosistem bawah laut.

"Khususnya, untuk para pemancing dan turis yang suka main ke laut itu tolong jangan buang sampah sembarangan ya, karena sampah itu bisa sampai ke tengah samudra, nyangkut di badannya penyu, nyangkut di badannya ikan, nyangkut di karang. Nah, karang itu kan juga sumber makanan ikan kecil kan nanti dimakan sama predator yang lebih besar," kata Kin.

Kin, yang hobi memancing, melihat sendiri bahwa di dalam perut ikan dari hasil tangkapannya kerap kali terdapat sampah. Mulai dari bekas minuman, kresek, hingga lilitan benda pancing.

"Efeknya, saya lihat sendiri pada saat saya mancing dapat ikan besar tahunya di mulutnya itu ada kantong plastik kresek, ada tempat kita bekas minuman kopi gelas-gelas plastik ada di perutnya," kata Kin.

Ada pula orang-orang yang melempar roti ke laut untuk memberi makan ikan. Dia pun mengingatkan bahwa makanan ikan laut dan ikan kolam itu berbeda.

"Ikan laut beda sama ikan kolam ya, tolong itu diperhatikan," kata dia.

Jangan Rusak Hutan Mangrove

Selain itu, Kin juga memperingatkan masyarakat untuk tidak asal cabut tanaman yang terlihat tumbuh di permukaan air, terutama mangrove. Di dalam mangrove, ada beberapa spesies ikan yang bertelur.

"Mereka itu bertelur dari laut dalam kawin gitu ya, terus bertelurnya daerah muara dan daerah mangrove biasanya mangrove di muara, terus udah gitu balik lagi ke tengah laut, telurnya ditinggal aja," kata Kin.

Kin bercerita dahulu merasa biasa saja merusak mangrove karena itu karena ketidaktahuanya. Namun kini, dia justru bergabung dengan YKAN sebagai nature ambassador dan ikut melestarikan mangrove untuk turut berperan aktif mengedukasi masyarakat.

"Waktu kecil jujur aja saya suka merusak mangrove. karena nggak ada edukasinya, karena kita pikir dulu rombongan kita pikir itu tanaman liar pengganggu, kita nggak ada edukasinya dulu ya tahun 80-an awal kurang edukasi, akhirnya itu cukup menyesal," kata Kin.



Simak Video "WWF Prediksi Polusi Plastik di Lautan Dunia Naik 4x Lipat pada 2050"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA