Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 07 Mar 2022 06:45 WIB

TRAVEL NEWS

Macan Tutul Jawa Dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Ciremai

Rasi si macan tutul betina (istimewa Dokumen Balai TNGC)
Rasi, macan tutul Jawa betina dilepasliarkan di TN Gunung Ciremai. (istimewa Dokumen Balai TNGC)
Kuningan -

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai melepasliarkan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) betina akhir pekan lalu. Pelepasliaran itu diharapkan memuluskan proses penjodohan Rasi dengan Slamet Ramadhan, macan tutul jantan di kawasan itu.

Macan bernama Rasi itu dilepas di Blok Bintangot, Seda, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada Sabtu (5/3/2022). Pelepasliaran Rasi dilakukan dari jarak jauh untuk menghindari kontak dengan manusia.

Caranya, petugas memotong tali sepanjang 700 meter yang terhubung ke kandang Rasi. Setelah pintu kandang terbuka, macan tutul berusia 3 tahun itu keluar melalui jalur khusus yang diapit plastik hitam sepanjang 50 meter. Pelepasliaran itu disaksikan via kamera pengintai.

Sebelum dilepasliarkan macan yang didapuk menjadi ratu penguasa rimba TN Gunung Ciremai untuk menjalani masa habituasi selama satu bulan.

Kepala Balai TNGC Kuningan Teguh Setiawan mengatakan Rasi diterima dari PPS Cikananga pada tanggal 31 Januari 2022. Saat itu, Rasi berusia tiga bulan. Dia ditemukan ditemukan oleh warga di Kampung Bunisari, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Juli 2019. Dalam kondisi lemah, Rasi kemudian menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga, Sukabumi.

"Rasi ini sudah menjalani proses rehabilitasi sekian tahun di sana (PPS Cikananga). Satu bulan diproses di sini, dihabituasi, sampai pada hari ini tanggal 5 Maret 2022. Sehingga, dia sudah layak untuk dilepasliarkan," kata Teguh saat diwawancarai wartawan.

Dia menyampaikan dilepaskannya Rasi ke alam liar diharapkan bisa berjodoh dengan Selamet Ramadhan, si macan tutul jantan yang merupakan 'raja rimba' TNGC.

Perkawinan Rasi dan Selamet ini diharapkan menambah jumlah spesies macan tutul di kawasan TNGC. Sebab, menurut pemantauan pihaknya sampai tahun 2021 satwa liar jenis macan tutul baru ada 1 individu di kawasan TNGC.

"Masuknya dia (Rasi) ke Gunung Ciremai diharapkan bisa menambah individu macan tutul di dalam kawasan (TNGC). Karena macan tutul ini sebagai spesies kunci di Taman Nasional Gunung Ciremai," ujar dia.

Sebelum dilepasliarkan, ratu penguasa rimba TNGC itu sudah dipasangi kalung Global Positioning System (GPS) untuk memantau aktivitasnya di alam liar.

"GPS ini secara satelit kita dapatkan posisinya. Ini untuk mengantisipasi dia ke areal yang sebenarnya yang tidak cocok buat dia," kata dia.

Dia menegaskan, bahwa GPS yang dikenakan Rasi dapat bertahan selama 6 bulan.

"Sekitar enam bulan. Bisa copot sendiri, jadi tanpa harus kita tangkap lagi. Jadi secara otomatis bisa lepas sendiri," dia menjelaskan.

Saat disinggung membahayakan atau tidak terhadap pendaki Gunung Ciremai. Dia memastikan macan tutul tidak akan menyerang manusia. Apalagi, saat mencium bau yang tidak dikenalnya, macan tutul akan melarikan diri.

"Seminggu yang lalu, kami juga mengajak teman-teman media untuk melihat langsung ke kandang. Jarak 200 meter saja terpantau dari monitor dia sudah panik. Artinya itu menunjukkan perilaku dia yang panik mencium bau asing. Sehingga kami jamin tidak akan mengganggu jalannya pendakian," kata dia.

"Itu sebabnya TNGC tidak membolehkan pendakian di malam hari karena macan tutul ini aktif di saat malam. Jadi pendaki ikuti prosedur yang ada di kita," dia menambahkan.



Simak Video "Momen Saat Ratu Rimba Gunung Ciremai Dilepasliarkan"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA