Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 13 Mar 2022 08:41 WIB

TRAVEL NEWS

Melihat Kearifan Lokal yang Jempolan di Kampung Adat Cireundeu

Dwi Ari Setyadi
detikTravel
Nyeour dan gowes seli ke Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, Jabar
Kampung Adat Cirenundeu di Cimahi, Jabar (Dwi Ari Setyadi for detikcom)
Cimahi -

Berkereta api dan gowes sepeda lipat (seli) di Bumi Pasundan. Sampailah ke Kampung Adat Cireundeu.

Cireundeu adalah sebuah nama yang sangat familiar di Bumi Pasundan. Kalau kita ketikkan di mesin pencari internet, akan muncul belasan lokasi tersebar di seantero Tanah Parahyangan.

Namun, bila bersanding dengan predikat Kampung Adat, tentu bakal mengerucut pada satu titik. Ya, Kampung Adat Cireundeu yang secara administratif masuk wilayah Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Lokasinya tidak jauh andai ditempuh dengan seli dari Stasiun Cimindi. Jaraknya, sekitar enam kilometer dari Stasiun Cimindi, tempat saya turun dari kereta api lokal Cibatuan, Rabu (9/3/2022) pagi itu.

Tak lebih dari sejam bersepeda lipat, menyusuri rute relatif datar sebelum dihadang turunan tanjakan tajam tatkala berbelok keluar ruas jalan raya Leuwigajah - Batujajar.

Nyeour dan gowes seli ke Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, JabarStasiun Cimindi, stasiun terdekat dari Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, Jabar. (Dwi Ari Setyadi for detikcom)

Berada di sebuah lembah yang diapit tiga gunung: Kunci, Cimenteng, dan Gajahlangu, kampung ini memiliki bentang alam yang menawan. Pesona pun kian berpendar lantaran kearifan lokal warga dalam mengelola anugerah alam.

Kendati memegang teguh adat warisan leluhur, namun masyarakat adat Cireundeu terbuka menerima kemajuan zaman sesuai prinsip Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman.

"Kami memegang kepercayaan, adat warisan leluhur. Kami tidak melawan, bahkan terbuka mengikuti kemajuan jaman," kata Akang Jajat, wakil ketua Pokdarwis Cireundeu, kepada empat mahasiswi Seni Rupa ITB yang berkunjung.

Kampung ini pun terbuka sebagai daerah tujuan wisata. Tak hanya menjual keindahan alam, namun juga membagi kearifan budaya lokal yang berdaulat dalam pengelolaan lahan.

Masyarakat adat Cirendeu konsisten menjaga fungsi lahan hutan atau leuweung dalam tiga bagian, yakni Leuweung Larangan, hutan lindung yang tertutup tak terusik lantaran berfungsi untuk menjaga ketersediaan air tanah. Leuweung Tutupan atau hutan reboisasi untuk menyangga kelestarian hutan dan Leuweung Baladahan, hutan produksi yang digunakan sebagai lahan pertanian tanaman pokok seperti singkong, umbi-umbian dan jagung.

Nyeour dan gowes seli ke Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, JabarPeta wisata di Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, Jabar (Dwi Ari Setyadi for detikcom)

Komunitas adat kampung ini tidak mengonsumsi beras, sebuah tradisi yang berakar dari leluhur mereka hampir seabad silam.

Mereka mengolah singkong produksi sendiri menjadi rasi sebagai makanan pokok. Sebuah pilihan cerdas perihal kedaulatan pangan. Alhasil, mereka pun tak pernah galau merasakan perihnya fluktuasi harga beras di pasaran.

"Selama pandemi, aneka olahan singkong atau atraksi wisata lain pasti tersedia di hari Minggu. Di luar waktu itu, bisa pesan terlebih dulu," ujar dia.

Tak perlu bingung, sekarang ada cara mudah dan aman untuk memilih dan memesan wisata desa ke Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi melalui pandooin.com.



Simak Video "Balai Yasa Manggarai Pensiunkan 209 Gerbong Kereta di 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA