Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 04 Apr 2022 16:40 WIB

TRAVEL NEWS

Serba-serbi Nasi Goreng: Disukai Pebalap MotoGP Hingga Penjajah Belanda

Hari Suroto
detikTravel
Nasi Goreng Kambing or Goat Fried Rice is a traditional food from Indonesia, Fried rice with goat meat and egg
Foto: Nasi goreng (Getty Images/iStockphoto/jim_akay)
Jayapura -

Siapa yang tidak kenal dengan nasi goreng? Kuliner khas Indonesia ini disukai pebalap MotoGP hingga warga Belanda. Seperti apa sih kisahnya?

Pada ajang kejuaraan balap motor kelas dunia MotoGP di Mandalika International Street Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sempat heboh dengan postingan Instagram salah satu pembalap, Alessandro Zaccone tentang menu makan malam mereka di Lombok, yang ternyata oleh warganet dianggap sangat Indonesia banget.

Dalam postingan akun @alezac61, tampak nasi putih disantap dengan lauk nasi goreng, ikan bakar, udang goreng, kangkung tumis dan sambal.

Nasi putih atau nasi goreng bagi orang Indonesia adalah biasa-biasa saja. Namun bagi orang Eropa yang datang ke negara tropis seperti Indonesia, nasi putih dengan lauk nasi goreng, yang mungkin dianggap aneh oleh orang Indonesia, namun bagi bule-bule itu adalah menu spesial.

Rupanya, kebiasaan unik ini sudah ada sejak dulu. Hal ini terjadi pada masa kolonial Belanda.

Indonesia dikenal sebagai surganya kuliner, masing-masing daerah memiliki kuliner beragam dengan citarasa yang khas, namun pada umumnya orang Belanda waktu itu, memiliki makanan favorit yaitu pisang goreng, serundeng, kacang goreng, dan telur mata sapi (spiegeleieren).

Bagi orang Indonesia, pisang goreng dianggap biasa saja. Orang Belanda menggemari pisang goreng, uniknya pisang goreng ini mereka santap dengan nasi.

Selain itu, ternyata orang Indonesia dan orang Belanda memiliki kebiasaan yang sama. Bagi orang Indonesia, mereka merasa belum makan kalau belum menyantap nasi.

Rupanya hal ini juga berlaku bagi orang Belanda, mereka merasa belum makan jika belum menyantap hidangan Eropa, walaupun mereka sudah makan nasi beserta lauk dan sayur.

Oleh orang Belanda, nasi beserta sayur lodeh, sayur asem, sate, ikan asin dan menu Indonesia lainnya disajikan sebagai hidangan pembuka atau pembangkit selera. Sedangkan makanan Eropa selalu disajikan terpisah dan baru dinikmati setelah makan nasi.

Kebiasaan orang Indonesia, umumnya makan nasi beserta lauk dan sayur hanya menggunakan jari tangan. Orang Belanda pada waktu itu menggunakan sendok, garpu, dan pisau untuk menikmati hidangan nasi, lauk dan sayur seperti kebiasaan makan di Eropa.

Sambal ulek selalu disajikan di meja makan orang Belanda. Sambal ini biasanya ditempatkan dalam piring-piring kecil. Sambal merupakan hidangan tambahan untuk menambah selera makan atau pencuci mulut yang rasanya pedas (de heete toespijzen).

Untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kenangan masa lalu, beberapa orang diaspora Indonesia di Belanda mendirikan restoran yang menyajikan hidangan Indonesia, atau mendirikan toko-toko untuk sekedar menjual sambal, tempe, kerupuk, Indomie, hingga bumbu-bumbu masak.

Selain itu, pernah ada lagu yang sangat populer yaitu Geef Mij Maar Nasi Goreng (Beri Saja Aku Nasi Goreng) yang dilantunkan oleh Wieteke van Dort. Lagu ini sebagai kenangan betapa enaknya nasi goreng.

Tidak hanya itu, masakan khas Indonesia juga dipopulerkan oleh musisi punk Perancis, Francois Xavier Renou alias Fransoa dalam lagu berbahasa Indonesia berjudul Aku Lapar.

Dia mengunggah video musik bergaya band punk rock di Youtube, yang menurutnya lagu pertama di dunia dengan 43 masakan tradisional Indonesia.


---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto, Peneliti Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Cerita Pemilik Rintis Usaha Nasi Goreng Padang Upiak"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA