Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 06 Apr 2022 17:45 WIB

TRAVEL NEWS

Antusiasnya Warga AS Melihat Pameran Kain Tenun Ikat dan Batik

Syanti Mustika
detikTravel
Pameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San Francisco
Foto: (dok KJRI San Francisco)
San Francisco -

Puluhan ribu warga Amerika Serikat begitu antusias dengan tenun ikat dan batik Indonesia. Hingga bulan Mei nanti akan ada pameran tenun di sana.

Dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (6/4/2022) dalam rangka memperkuat nation branding dua negara, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco bekerja sama dengan salah satu museum Asia terbesar di dunia, Asian Art Museum San Francisco. Mereka telah melaksanakan loka karya seni kain tradisional Indonesia dengan tema "Batika, Ikat, and Beyond: Textile Demonstration and Workshops" pada tanggal 3 April 2022 di San Francisco, California.

Tidak hanya itu, kegiatan loka karya kain tradisional Indonesia ini dilakukan secara simultan dengan pameran kain tenun ikat dengan tema "Weaving Stories" yang sedang berlangsung di Asian Art Museum SF mulai dari tanggal 17 Desember 2021 hingga 2 Mai 2022. Pameran dan kegiatan budaya ini menampilkan 45 kain tenun ikat dari Asia Tenggara dimana sebanyak 37 kain tradisional berasal dari Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, pulau Lembata, dan pulau Kisar (Yotowawa).

Pameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San FranciscoPameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San Francisco Foto: (dok KJRI San Francisco)

Pelaku seni seperti Sandra Sardjono, CEO Tracing Patterns Foundation, Agus Ismoyo dan Nia Fliam, Pemilik Studio Brahma Tirtasari telah berpartisipasi sebagai pembicara aktif dalam kegiatan loka karya ini. "Acara loka karya dan pameran seni budaya ini dilakukan sebagai bagian dari total public diplomacy, identitas bangsa Indonesia beserta nilai kearifan lokal terekfleksi pada setiap kain tenun ikat tradisional dan batik. Kami berniat mengajak masyarakat Amerika Serikat untuk menelusuri cerita dibalik kain-kain tradisional Indonesia secara lebih dalam, dimana kain digunakan sebagai alat kreativitas dalam mengkomunikasikan warisan sejarah bangsa, keagungan dan keragamanan karya, motif, filosofi dan simbol status sosial daerah, hingga keyakinan masyarakat di berbagai pulau-pulau Indonesia." ujar Prasetyo Hadi,
Konsul Jenderal RI - San Francisco.

Selama sesi loka karya berlangsung, beberapa masyarakat AS terpukau saat mempelajari proses pembuatan kain tenun ikat dan batik yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti bahan pewarna alami dari daun kering, kayu, dan sebagainya. Dr. Robert Mintz, Deputy Director of Art and Programs, Asian Art Museum SF, menyatakan

"Sejauh ini kami mencatat sekitar 30.000 orang pengunjung datang untuk pameran Weaving Stories. Sebagian besar masyarakat AS tertarik untuk memahami teknik pembuatan tradisional, penggunaan viber, tanaman, dan jenis-jenis kain yang berbeda. Melalui pameran seni ini kami juga mencoba mengangkat kompleksitas pemahaman teknik pewarnaan tradisional, dan tekstil Indonesia merepresentasikan sebuah tradisi yang telah dimulai sejak lama namun masih berlanjut hingga sekarang."

Pameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San FranciscoPameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San Francisco Foto: (dok KJRI San Francisco)

Salah satu kain tradisional Indonesia yang dipamerkan adalah karya Milla Sungkar, yang menceritakan peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh tahun 2004. Jika diperhatikan dari dekat pada kain batik tersebut terdapat satu gambar masjid besar yang tetap berdiri diantara ilustrasi goresan yang menggambarkan terjadinya tsunami.

"Sebuah kebudayaan itu tumbuh secara alami, seringkali tradisi dilihat sebagai barang yang sudah lampau, tapi saya melihat tradisi yang dulu itu ada saat ini, karena budaya itu hakikatnya adalah sesuatu yang hidup, tumbuh secara sangat alami dengan interaksi yang terus terjadi, sehingga budaya itu masih ada dalam kehidupan kita. Tantangan ke depannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan makna dan nilai dari budaya itu sendiri." ujar Agus Ismoyo, seniman batik dari Studio Brahma Tirtasari.

Pameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San FranciscoPameran Kain Tenun Ikat dan Batik di Asian Art Museum San Francisco Foto: (dok KJRI San Francisco)

Kain-kain yang dipamerkan memberikan informasi mengenai identitas pemakainya seperti menunjukkan usia, status perkawinan, dan kekayaan seperti batik biru putih dengan berlian di dada pada kain Jawa menunjukkan seorang wanita yang sudah menikah. Selain itu, salah satu kain lainnya yang dipamerkan adalah kain Cepuk yang memiliki makna bertatap muka dengan ilahi. Kain tersebut biasanya digunakan dalam upacara keagamaan.

Asian Art Museum SF memiliki lebih dari 50,000 pengunjung setiap bulannya, melalui program Weaving Stories Exhibition dan Batik and Ikat Workshop, KJRI San Francisco mendukung kegiatan tersebut untuk menciptakan pemahaman (cultural awareness) dan meningkatkan citra positif Indonesia kepada masyarakat lokal AS melalui seni budaya kain tradisional, khususnya kain ikat dan batik.



Simak Video "Melihat Proses Produksi Kain Tenun Majalaya Secara Manual"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA