Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 23 Jun 2022 10:12 WIB

TRAVEL NEWS

Habiskan Stok Air, Himalaya Sudah Kelebihan Turis

bonauli
detikTravel
FILE-In this Sept. 14, 2017, file photo, Pangong Tso lake is seen near the India China border in Indias Ladakh area. India said Monday its soldiers thwarted Chinas
Himalaya (AP/Manish Swarup)
Ladakh -

Kawasan Himalaya yang berada di Ladakh, India melaporkan studi terbaru. Didapati bahwa Himalaya ternyata sudah kelebihan turis atau overtourism.

Dilansir dari The Hindu, Kamis (23/6/2022) pariwisata Himalaya ternyata telah meningkatkan tekanan pada perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan alias eksploitasi. Hal ini dilaporkan dari Institut Nasional Himalaya Govond Ballabh Pant di Kosi Katarmal.

Laporan tersebut diserahkan pada Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan dan Perubahan Iklim (KLHK&CC) sesuai dengan perintah National Green Tribunal (NGT).

"Pariwisata telah membawa kemakmuran ekonomi ke wilayah Himalaya tetapi biaya lingkungan telah menjadi bencana besar," tulis studi tersebut.

Menurut hasil penilaian, mengelola pariwisata dalam fasilitas sipil yang tersedia dan daya dukung infrastruktur dalam ambang batas telah menjadi tantangan baru.

Contohnya adalah air. Ladakh adalah wilayah kering yang kekurangan air di India. Warga Ladakh memenuhi kebutuhan air dari salju atau pencairan glasial dan aliran Sungai Indus.

Menurut penelitian, konsumsi air individu oleh penduduk rata-rata 75 liter per hari. Sementara turis mengkonsumsi sekitar 100 liter per hari. Bisa dibilang, warga Ladakh harus bersaing memenuhi kebutuhan air dengan para turis.

Tak hanya itu, kawasan lindung di Ladakh seperti Taman Nasional Hemis, Cagar Alam Gurun Dingin Changthang dan Cagar Alam Karakoram memerlukan patroli rutin. Karena mulai banyaknya interaksi antara satwa liar dengan wisatawan dan perusakan habitat karena perambahan.

Melonjaknya area pembangunan di Himachal Prades juga jadi sorotan. Pembangunan dari 4,6 persen menjadi 15,7 persen selama 1989-2012. Pada saat yang sama, jumlah wisatawan di wilayah itu juga membengkak dari 140 ribu jadi 2,8 juta.

Jumlah hotel yang meningkat selama bertahun-tahun menunjukkan hilangnya tanaman hijau dan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Penelitian tersebut menyarankan agar pemerintah melakukan lanskap berkelanjutan demi mencapai pertumbuhan pariwisata dengan dampak minimal pada keanekaragaman hayati. Pariwisata juga harus memberikan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat lokal.



Simak Video "Kilat Berwarna Merah Tertangkap Kamera Seorang Fotografer China"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA