Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 11 Jul 2022 07:39 WIB

TRAVEL NEWS

Embun Es di Dieng Justru Terkait Erat dengan Musim Kemarau

Tim detikcom
detikTravel
Fenomena embun es atau fros kembali menyelimuti kawasan Gunung Semeru. Dedaunan tanaman serta tanah berwarna putih akibat embun es.
Embun es di Diengn (Nurhadi/detikcom)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena embun es di kawasan Dieng, Jawa Tengah, beberapa hari yang lalu berkaitan dengan musim kemarau.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan mengatakan fenomena embun es di Dieng saat musim kemarau sangat dimungkinkan terjadi.

Apalagi, Dieng berada di dataran yang cukup tinggi dengan suhu udara cukup dingin dan tingkat tutupan awan sudah jarang saat masuk musim kemarau.

"Sehingga di malam hari yang tidak tertutup awan, suhu udara akan sangat dingin sekali karena radiasi balik dari bumi dengan leluasa menuju angkasa tanpa adanya pantulan dari awan. Sehingga bumi akan menjadi dingin sekali, dan seluruh lapisan di mana yang mengandung uap air itu, karena suhu minus yang biasanya disertai adanya frost atau embun yang membeku," kata Dodo.

Dodo menjelaskan suhu udara sampai menjadi minus, atau di bawah 0 derajat celcius dipengaruhi kondisi awan yang sudah sangat tidak ada, bahkan clear seperti itu di malam hari.

"Suhu bumi, karena tidak ada radiasi tentunya pada malam hari tidak ada matahari, justru energi bumi yang memancar meradiasikan kembali tanpa ada pemantulan dari awan khususnya, sehingga dia menjadi minus menjadi dingin bahkan bisa sampai minus," kata Dodo/

Adanya fenomena embun es ini tidak hanya terjadi di Dieng, namun juga wilayah lainnya yang berada di pegunungan. Embun beku tersebut berdampak pada warga yang memiliki usaha tani, menyebabkan gagal panen.

Dodo mengimbau agar para petani di pegunungan mengatur musim tanam, dan tetap memperhatikan kondisi cuaca agar segera dilakukan panen sebelum embun es merusak tanaman.

Dia menjelaskan saat ini 35 persen dari zona musim di seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebagian besar wilayah timur Indonesia telah memasuki kemarau.

Sementara itu, beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa, masih terdapat beberapa wilayah yang belum memasuki kemarau, oleh karena fenomena La Nina yang menyebabkan curah hujan yang masih cukup.

Kondisi La Nina akan menuju normalnya diprakirakan pada bulan Agustus, dan menuju netral pada bulan Oktober, November dan Desember.

"Jadi tidak hanya BMKG yang membuat perkiraan terkait La Nina ini, tapi beberapa badan meteorologi dunia membuat prakiraan La Nina dan sebagian besar mengindikasikan saat ini kondisinya yang lemah akan menuju pada fungsi netral," ujar Dodo.



Simak Video "Beberapa Wilayah Alami Peningkatan Intensitas Hujan, Cek Prakiraan Selengkapnya!"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA