Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 18 Agu 2022 19:35 WIB

TRAVEL NEWS

Yang Ngombe Dawet Bukan Joko Tingkir, tapi Pendiri Kabupaten Pati

Tim detikJateng
detikTravel
petilasan joko tingkir di Desa Pringgoboyo, Kecamatan Maduran Lamongan
Makam Ki Anggungboyo atau yang kini lebih dikenal sebagai makam Joko Tingkir di Jawa Timur (Foto: Eko Sudjarwo/detikcom)
Jakarta -

Lagu 'Joko Tingkir Ngombe Dawet' jadi perdebatan. Menurut penelusuran detikJateng, yang meminum dawet adalah pendiri Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Jadi, Joko Tingkir yang diparodikan dalam lagu tersebut bukanlah sekadar nama dari legenda. Joko Tingkir disebut sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Jawa.

Sementara itu, dawet sebagai salah satu jenis minuman tradisional memang juga dikenal dalam legenda di Jawa. Tapi bukan Joko Tingkir yang ngombe atau meminumnya, melainkan Kembang Joyo sang pendiri Kadipaten Pati-Pesantenan, cikal bakal Kabupaten Pati Jawa Tengah.

Asal-usul Nama Pati Jawa Tengah

Asal-usul nama Pati Jawa Tengah menurut Babad Pati ternyata berawal dari kisah Kembang Joyo yang terinspirasi oleh segarnya minuman dawet. Sumber tertulis untuk menelusuri sejarah Pati cukup terbatas. Salah satu sumber rujukan para peneliti selama ini ialah Babad Pati.

Babad Pati ditulis Sosrosumanto dan Dibyosudiro dalam aksara Jawa pada 1925 dan diterbitkan NV Mardimulya, Jogja. Babad Pati baru dialihbahasakan pada 1980 oleh Yanti Darmono dan diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Babad Pati merupakan karya sastra yang menceritakan sejarah Pati sejak bernama Pesantenan pada abad ke-13 (sekitar 1292) dan diakhiri dengan perang tanding antara Adipati Jayakusuma melawan Panembahan Senopati pada tahun 1600.

Dalam Babad Pati disebutkan Pati awalnya merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa daerah kecil yang berdiri sendiri. Di antara daerah-daerah itu ada dua kadipaten yang dianggap besar dan mendominasi di Pati.

Dua kadipaten itu adalah Paranggaruda yang dipimpin Yudopati dan negeri Carangsoka yang dipimpin Puspa Handungjaya. Beberapa daerah lainnya meliputi Kemaguhan (dipimpin Yuyu Rumpung), Matesih (dipimpin Singabangsa), Jambangan (dipimpin Kudasuwengi), Majasem (dipimpin Sukmoyono), dan Bantengan (dipimpin Kembang Joyo).

Pemimpin daerah Bantengan, Kembang Joyo, dalam Babad Pati disebutkan sebagai tokoh yang mempersatukan wilayah-wilayah tersebut dalam kesatuan politis yang kuat dengan membentuk kadipaten bernama Pesantenan.

Kembang Joyo kemudian memilih tinggal di Desa Kemiri sehingga mendapat julukan Ki Ageng Kemiri. Kemudian, Kembang Joyo memperluas wilayahnya dengan menaklukkan daerah-daerah lain. Dia juga membuka hutan untuk dijadikan sebagai desa-desa baru.

---

Berita selengkapnya dapat traveler baca di tautan detikJateng ini



Simak Video "Dua Desa di Pati Diterjang Banjir Bandang, Begini Kondisinya"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA