Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 09 Sep 2022 05:41 WIB

TRAVEL NEWS

Homo Sapiens Liang Tebo di Kaltim Bukti Amputasi Pertama di Dunia

Femi Diah
detikTravel
Bukti amputasi tertua di dunia ditemukan pada kerangka berusia 31.000 tahun di gua Kalimantan
Bukti amputasi tertua di dunia ditemukan pada kerangka berusia 31.000 tahun di gua Kalimantan
Jakarta -

Kerangka berusia 31.000 tahun ditemukan di Kalimantan. Menjadi bukti amputasi paling awal di dunia.

Dikutip dari Nature, Jumat (9/9/2022), arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Griffith University Australia menyebut penemua kerangka di Gua Liang Tebo, Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur (Kaltim) itu mengubah sejarah awal prosedur medis.

Gua itu berada di kawasan gua kapur yang membentang seluas 4.200 kilometer persegi. Di kawasan ini ditemukan bukti peradaban berupa lukisan gua, ceruk gua tempat permukiman, dan pemakaman. Situs Liang Tebo adalah situs lukisan gua sekaligus kubur. Situs berjarak 2,5 km dari Sungai Marang, di ketinggian 165 meter.

Manusia Liang Tebo terkubur di kedalaman sekitar 150 cm. Posisi kerangka meringkuk, dengan kaki ditekuk ke dada dan kepala menghadap ke sisi utara. Selain kerangka, arkeolog juga menemukan artefak, antara lain alat batu kecil dan oker merah di dekat kepala.

Manusia Liang Tebo secara anatomi sudah masuk klasifikasi Homo sapiens. Diduga kuat dari ciri-ciri tulang, kerangka itu milik remaja berusia 19-20 tahun, saat dikubur. Belum diketahui jenis kelaminnya, tetapi diduga laki-laki.

Dari uji laboratorium pertanggalan karbon, usia kerangka antara 31.133 tahun yang lalu sampai 30.437 tahun yang lalu. Kerangka itu diduga dikubur antara enam sampai sembilan tahun setelah diamputasi.

Dari kerangka itu, peneliti mendapati kerangka itu kaki kirinya mulai dari lutut tidak ada lagi. Dari pengamatan lebih rinci di bagian tulang kaki, ada bekas-bekas yang diduga kuat merupakan potongan benda tajam. Bekas potongan itu dinilai sangat berbeda dengan trauma dari kecelakaan atau diserang binatang.

"Pada tulang kaki ada bekas potongan yang bersih," demikian penjelasan arkeolog.

Arkeolog juga mencermati tulang kaki dan tidak menemukan adanya bekas infeksi. Artinya, tidak ada komplikasi luka luar yang bisa memicu infeksi terutama luka akibat gigitan serangan binatang. Amputasi diduga akibat cedera masa kecil, karena tulang bekas amputasi tidak tumbuh.

"Pelaku amputasi ini diduga memiliki pengetahuan medis anatomi tulang, otot, dan pembuluh darah, yang sangat baik, karena bisa merawat pasien tanpa kehilangan darah dan infeksi. Pelaku juga pastinya mengerti keharusan mengamputasi agar pasien bisa bertahan hidup," begitulah penjelasan peneliti.

Luka amputasi, lanjut peneliti, dibersihkan dengan baik dan dibungkus, serta dilakukan desinfektan untuk mencegah infeksi. Bisa jadi sih, menggunakan tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat medis dan anestesi sebagai langkah meredakan nyeri.



Simak Video "Aktivitas Seru Komunitas Skuter di Pacitan Jawa Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA