Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 10 Sep 2022 14:50 WIB

TRAVEL NEWS

Bagaimana Penjelasan Medis Soal Normalnya Keturunan Suku Polahi, Meski Hasil Kawin Sedarah?

Nurul Istiqamah
detikTravel
Perempuan warga suku Polahi berada di gubuk tempat mengamati lahan perkebunan mereka di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Anak-anak keturunan Suku Polahi (: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Jakarta -

Keturunan suku Polahi di Gorontalo normal meskipun hasil dari perkawinan sedarah atau incest. Hal ini masih menjadi misteri, pasalnya belum ada penelitian medis yang dilakukan terhadap keturunan suku Polahi.

Anak-anak suku Polahi terlihat normal dan tidak mengalami cacat fisik. Kondisi ini tentunya menjadi tanda tanya, karena tidak sesuai dengan ilmu medis yang menyebutkan anak hasil perkawinan sedarah akan mengalami gangguan kesehatan hingga cacat.

Ahli Genetika di Makassar dr Wahyuni Saddang SpOG menjelaskan anak-anak keturunan Polahi yang merupakan hasil perkawinan sedarah bisa saja terlihat normal secara fisik. Karena masalah genetika pada anak hasil perkawinan sedarah tidak hanya terbatas pada cacat fisik.

"Itu normal karena baru dilihat dari luar saja. Jika periksa secara keseluruhan pasti ada diperoleh masalah genetika yang terjadi," ujarnya kepada detikSulsel, Rabu (31/8/2022).

Meskipun fisiknya terlihat normal, dr Wahyuni mengatakan hampir dipastikan anak hasil perkawinan sedarah mengalami masalah kesehatan. Bahkan anak hasil perkawinan incest ini bisa mengalami gangguan pada kognitifnya.

"Kan belum diperiksa, dikatakan normal cuma bentuk fisik saja. Bisa jadi IQ-nya mendekati idiot. Jadi kalau secara fisik dia normal mungkin bisa saja gangguan tersebut terjadi pada kecerdasan sang anak," ujarnya.

Mengenai perkawinan sedarah, dr Wahyuni menjelaskan dari segi medis sangat tidak dianjurkan. Pasalnya, bisa menimbulkan berbagai macam kelainan kromosom pada anak keturunannya.

"Banyak kelainan-kelainan yang akan muncul. Seperti dalam hal kromosomnya. Mungkin kalau dari fisik ya mungkin dia bisa saja tidak nampak. Kita belum menganalisis kelainan di dalam, karena akan muncul dari efek kromosom," jelas dr Wahyuni.

Selain itu, dr Wahyuni juga mengatakan bahwaberdasarkan hasil sebuah penelitian diketahui jika dari 21 anak hasil perkawinan incest semuanya mengalami gangguan autosomal. Gangguan tersebut merupakan penyakit yang diwariskan melalui kromosom autosom.

"Beberapa jurnal kedokteran, dari 21 anak yang dihasilkan dari incest baik biasanya ada kelainan kromosomnya. Salah satunya itu autosom resesif disorder," kata dr Wahyuni.

Autosom resesif disorder adalah kelainan pada sistem saraf. Kelainan ini bisa memicu terjadinya kelemahan otot, masalah koordinasi atau gerakan tubuh, kesulitan berbicara, hingga gangguan pada organ jantung.

Secara garis besar, kelainan autosom resesif ini mengacu pada masalah koordinasi dan keseimbangan.

Wahyuni mengatakan, anak hasil perkawinan incest bisa dipastikan akan mengalami gangguan kromosom. Pasalnya, gangguan ini masih berisiko bagi pernikahan masih dalam garis keturunan dekat, seperti sepupu satu kali.

"Berdasarkan penelitian, antar sepupu dengan sepupu saja bisa membuat anak memiliki IQ redah. Berdasarkan penelitian, anak dari pernikahan satu garis keturunan kecerdasan intelektualnya itu lebih rendah dari orang yang tidak menikah dengan orang yang ada hubungan darah," jelasnya.

Tradisi Perkawinan Sedarah Masyarakat Polahi

Masyarakat Polahi masih menerapkan hidup primitif. Selain itu, mereka memiliki tradisi yang tidak lazim, yakni melakukan perkawinan sedarah atau incest.

Perkawinan sedarah ini dilakukan baik antar saudara, ibu dengan anak, maupun bapak dengan anak. Secara ilmu medis perkawinan sedarah akan melahirkan anak yang cacat, uniknya keturunan suku Polahi tetap normal.

Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu mengatakan belum ada peneliti medis yang berhasil mengungkap rahasia di balik perkawinan sedarah di suku Polahi. Namun dari kacamata antropologi, Yowan mengatakan mungkin saja suku Polahi memiliki ritual khusus dalam kehidupan mereka sehingga anak yang dilahirkan tetap normal.

"Mungkin saja mereka memang ada ritual. Seperti mengonsumsi tumbuhan tertentu, kan mereka tinggal di jauh di dalam hutan, di gunung, jadi otomatis kan namanya di gunung pasti banyak tumbuhan-tumbuhan yang mungkin kita belum tau khasiatnya," jelas Yowan kepada detikSulsel, Jumat (26/8).

---

Artikel ini telah tayang di detikSulsel



Simak Video "Universitas Negeri Gorontalo Beri Sanksi Mahasiswanya yang Hina Presiden"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA