Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 24 Sep 2022 15:23 WIB

TRAVEL NEWS

Traveler Tahu Enggak, ke Mana 'Perginya' Hewan-hewan yang Di-rescue?

bonauli
detikTravel
Suyatno, polisi hutan
Pameran hewan di Festival Flona 2022 (Rengga Sancaya/detikFoto)
Jakarta -

Pernah dengar hewan liar masuk rumah? Umumnya warga yang memiliki masalah ini menghubungi animal rescue untuk menolong mereka.

Animal rescue atau penyelamatan binatang sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Mereka siap membantu warga yang rumahnya kemasukan hewan liar.

Hewan liar yang masuk ke rumah warga, banyak jenisnya. Mulai dari ular, biawak, buaya sampai monyet. Karena liar, hewan-hewan ini sangat agresif dan harus ditangkap oleh petugas khusus, seperti polisi hutan.

Suyatno adalah satu dari sekian banyak polisi hutan. Dirinya menjabat sebagai Polisi Hutan Ahli Muda di Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.

"Setiap hari selalu ada yang telepon, bisa sampai dua kali rescue sehari," ujarnya pada detikTravel.

Selama bertugas sudah ada ratusan hewan yang diselamatkannya. Yang jadi pertanyaan, ke manakah perginya hewan-hewan ini setelah di-rescue?

"Habis di-rescue, kita kasih ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," kata dia.

Suyatno, polisi hutanSuyatno, Polisi Hutan Ahli Muda Foto: (Rengga Sancaya/detikFoto)

Hewan-hewan ini akan dibagi dua kategori yaitu liar dan peliharaan. Hewan seperti ular, kerap jadi koleksi. Namun setelah sang empunya bosan, ular kerap dilepaskan begitu saja hingga masuk ke rumah warga.

"Kalau dulunya hewan peliharaan, biasanya kita sumbangkan ke komunitas seperti Indra Cobra Show yang sudah jadi binaan kita. Alasannya karena hewan yang sudah dipelihara biasanya tidak akan bertahan di alam liar, sudah biasa dikasih makan," ujar dia.

Sementara untuk hewan liar, tidak akan dijinakkan. Mereka akan dikumpulkan di Pantai Indah Kapuk dan dilepasliarkan ke alam setelah tiga bulan.

Suyatno mengatakan bahwa sekali melepasliarkan bisa sampai 30 hewan. Tempatnya pun tidak sembarangan.

"Setelah itu rilis ke taman nasional, ada yang ke Gunung Salak, Gede Pangrango dan lain-lain," ujarnya.

Pelepasliaran ini pun tak bisa begitu saja dilakukan. Pihaknya harus terlebih dahulu bersurat dengan kementerian bahwa akan ada kegiatan lepas-liar hewan rescue. Nantinya, kementerianlah yang akan menentukan tempat pelepasan hewan rescue.

Saat ini penanganan satwa di Pantai Indah Kapuk telah menangkap sekitar 30an monyet selama 3 bulan terakhir. Mereka memiliki anggaran dari BKSDA untuk merawat monyet liar hingga waktu perilisan ke alam liar.

"Kita ada anggarannya 16 ribu kilo singkong atau ubi di tahun ini. Tak seperti monyet, hewan liar reptil seperti ular tidak memiliki anggaran. Lantas, ular tidak dikasih makan?

"Ular tidak makan setiap hari, mereka makan bisa sebulan sekali bahkan 3 bulan sekali tergantung kelembapan tempat hidup. Kalau ular yang penting tempat penyimpanannya lembab, dikasih minum saja," ujar dia.



Simak Video "Hiburan Warga Desa Sasak Sade, Menyaksikan Tarian Adat, Lombok"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA