Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 16 Okt 2022 08:33 WIB

TRAVEL NEWS

Protes Kinerja Pemerintah Lamban, Warga Pasang Tanda 'Kota Bau'

BBC
detikTravel
India: Warga ubah nama daerah jadi kota bau sebagai bentuk protes
India: Warga ubah nama daerah jadi 'kota bau' sebagai bentuk protes (BBC World)
Jakarta -

Warga di India melakukan protes terhadap pemerintah dengan cara yang tidak biasa. Mereka mengubah nama kompleks perumahan sebagai "kawasan selokan" atau "kota bau".

Warga itu tepatnya adalah warga Shahganj dan Jagdishpura di Agra, India. Cukup familiar ya mendengar kata Agra? Di kota inilah Taj Mahal berada. Tetapi, rupanya ada sisi gelap di bagian kota ini.

Warga Shahganj dan Jagdishpura menyebut pembangunan jalan yang tidak kunjung usai mengakibatkan tersumbatnya air dan jalan macet. Sudah begitu, warga di dua tempat itu harus hidup di tengah situasi yang jorok.

Mereka menuduh pemerintah sama sekali tidak memperbaiki masalah yang mereka hadapi. Padahal, mereka sudah berulang kali mengajukan keluhan.

Juru bicara politisi India, Baby Rani Maurya, yang di wilayah konstituennya terdapat jalan yang rusak, sudah melaporkannya berulang kali.

"Kami telah menulis surat kepada pemerintah terkait untuk meminta dana tambahan sehingga pembangunan jalan bisa dimulai," katanya.

Kesal dengan lambannya respons pemerintah sejumlah warga yang marah memutuskan untuk mengambil tindakan dan membuat nama kota dengan plang hijau dan tulisan putih, sama seperti yang dibuat pemerintah. Mereka memasang nama-nama itu di perempatan jalan dan gedung-gedung.

Navneet Nagar misalnya sekarang disebut "badboo nagar" (kota bau), koloni Mansarovar "kawasan selokan" dan wilayah Panchsheel menjadi "durgandhsheel" (wilayah bau). Tentu nama-nama ini tidak resmi, namun menjadi bahan pembicaraan di antara 4,4 juta penduduk kota.

Setelah protes itu dilaporkan oleh media setempat, penduduk mengatakan para pejabat mulai mengunjungi kota itu pada Senin (10/10) dan mulai mencabut papan-papan nama.

Warga di Shahganj dan Jagdishpura mengatakan bahwa jalan-jalan yang tak selesai itu seharusnya selesai puluhan tahun lalu namun menyebabkan "masalah parah bagi penduduk di 28 kompleks perumahan."

Mereka mengatakan hujan deras menyebabkan penyumbatan di banyak tempat.

Prashant Sikarwar, 29, seorang pengusaha yang tinggal di salah satu kompleks perumahan di dekat jalan yang belum selesai itu mengatakan jalan rusak menghambat kedua anaknya pergi ke sekolah selama musim hujan.

"Banjir begitu parah sehingga bus sekolah menolak masuk ke jalan ini saat hujan lebat. Anak-anak saya terpaksa membolos sekolah selama beberapa hari," katanya.

"Sulit juga bagi ambulans masuk bila ada kondisi darurat," dia menambahkan.

Sikarwar mengatakan bahkan saudaranya tak pernah mengunjungi mereka selama musim hujan karena jalanan banjir.

"Kami berulang kali mengeluh, pemerintah setempat tak pernah melakukan apapun untuk menyelesaikan pembangunan jalan," katanya.

Warga mengatakan walaupun sering dikeluhkan, pemerintah setempat tak pernah mengambil tindakan.

Seorang pemilik toko, Prahlad Singh Chahar, 50, mengatakan banyak sampah berserakan di jalan dan menyebabkan semua tempat itu berbau.

"Kualitas udara sangat buruk dan ada juga masalah nyamuk. Orang terpaksa menjual rumah mereka," katanya. Ia mengatakan mencoba menjual tokonya untuk pindah ke tempat lain.

Penduduk juga merencanakan untuk meluncurkan kampanye "tak ada jalan berarti tak ada suara".

"Kami ingin para politisi memperhatikan nasib kami dan membantu kami. Saat ini, masalah kami diabaikan," kata dia.



Simak Video "Mengapa Orang India Banyak yang Jadi Bos Teknologi? Ini Alasannya..."
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA