Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 28 Nov 2022 16:36 WIB

TRAVEL NEWS

Gawat! Tak Cuma Korsel, Jepang Juga Alami Resesi Seks

Putu Intan
detikTravel
Pagi hari menjadi jam paling sibuk stasiun-stasiun kereta di Jepang. Antrean yang tetap tertib meski sedang padat bikin mata melongo.
Ilustrasi masyarakat Jepang. Foto: Eduardo Hasian Simorangkir
Seoul -

Korea Selatan dikabarkan mengalami resesi seks. Rupanya perubahan gaya hidup ini juga terjadi di Jepang.

Kedua negara Asia Timur ini tengah menghadapi resesi seks yakni keengganan seseorang atau suami istri memiliki anak atau hanya ingin memiliki sedikit anak. Ada banyak faktor yang membuat masyarakat Korsel dan Jepang merubah gaya hidupnya.

Di Jepang sendiri, para perempuan cenderung tak ingin menikah dan punya anak. Menurut mereka, membesarkan anak membutuhkan banyak biaya.

Tak cuma itu, dilansir dari The Guardian, Senin (28/11/2022) perempuan jepang juga tak ingin mengikuti peran gender konservatif. Bila memiliki anak, mereka akan dipaksa berhenti bekerja.

Lebih lanjut, tugas mereka akan lebih banyak di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh anak. Pemikiran seperti ini sudah tertanam pada perempuan muda, termasuk para mahasiswi.

Salah satu mahasiswi Jepang di Tokyo bernama Nao Iwai mengungkapkan ia enggan punya anak setelah melihat kakaknya kesulitan mengurus anak. Ia takut menjadi ibu.

"Dulu saya pikir saya akan menikah pada usia 25 tahun dan jadi seorang ibu pada usia 27 tahun," katanya.

"Tetapi ketika saya melihat kakak perempuan tertua saya yang memiliki anak perempuan berusia dua tahun, saya takut punya anak," imbuhnya.

Iwa juga menjelaskan situasi rumah tangga orang Jepang. Bila perempuan memiliki anak, laki-laki atau suaminya akan bekerja sementara mereka harus beralih menjadi ibu rumah tangga.

"Saya hanya merasa kesulitan untuk membesarkan anak secara finansial, mental, dan fisik," kata dia.

Sementara itu Profesor Showa Women University Naohiro Yashiro memaparkan, perempuan Jepang juga enggan menikah. Mereka malas melakukannya karena biaya pernikahan yang mahal.

Yashiro menilai, semakin tinggi pendidikan perempuan muda, gaji mereka akan semakin sama dengan laki-laki. Ini menyebabkan rata-rata masa pencarian pasangan akan lebih lama.

Saat ini, rata-rata usia perkawinan pertama bagi perempuan adalah 29 tahun. Usia ini lebih tua dibandingkan pada tahun 1980-an yakni 25 tahun.

Sekarang, banyak perempuan Jepang yang menempuh pendidikan tinggi sampai tingkat perguruan tinggi. Kondisinya berbeda dengan zaman dahulu yang rata-rata hanya lulus SMA.

Di sisi lain, resesi seks sudah tampak dampaknya dari angka kelahiran di Jepang yang terus menurun. Bahkan pada 2021 menyentuh titik terendah sejak pencatatan pertama pada 1899, yakni berjumlah 811.604 orang.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA