Maju-majuan Pariwisata Thailand Vs Vietnam

bonauli - detikTravel
Jumat, 29 Agu 2025 12:15 WIB
Ha Long Bay Vietnam (Getty Images/iStockphoto/Juan Carlos fotografia)
Jakarta -

Thailand dan Vietnam adalah dua destinasi yang kini sedang naik daun di Asia Tenggara. Masing-masing negara punya keunggulan dan sedang bersaing ketat.

Negeri Gajah Putih terus mempertahankan posisinya sebagai destinasi utama di ASEAN, dengan menyambut 35,6 juta wisatawan pada tahun 2024. Meskipun memimpin dalam jumlah wisatawan, Thailand mesti memperhitungkan Vietnam sebagai saingan ketat, seperti dikutip dari Thailand Businnes News pada Jumat (29/8/2025).

Vietnam mengalami pemulihan usai pandemi hingga 98%, sementara Thailand hanya 87,5%. Menggunakan data dari dari Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Otoritas Pariwisata Nasional Vietnam, dan wawasan industri, berikut faktor-faktor yang mendorong persaingan dua negara tersebut.

Faktor Persaingan Thailand-Vietnam

1. Jumlah Pengunjung dan Laju Pemulihan

Thailand: Pada tahun 2024, Thailand mencatat 35,6 juta kedatangan internasional, menghasilkan pendapatan sekitar 1,7 triliun baht. Pemulihannya mencapai 87,5% dari level tahun 2019, dengan target 36,7 juta pengunjung pada akhir tahun.

Pasar Tiongkok (1,26 juta pada Q1 2024) dan pasar Barat (Eropa, Amerika Utara) tetap penting, didukung oleh eksposur profil tinggi seperti The White Lotus Season 3. Namun, Maret 2024 mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan dengan Maret 2019, menandakan tantangan dalam mendapatkan kembali momentum pra-pandemi.

Vietnam: Vietnam menyambut 17,5 juta pengunjung internasional pada tahun 2024, peningkatan 38,9% dari tahun ke tahun, dengan hampir 4 juta kedatangan pada bulan Januari-Februari saja (pertumbuhan 30,2%).

Tingkat pemulihannya sebesar 98% melampaui Thailand, didorong oleh lonjakan pengunjung dari India (500.000, naik 297% dari pra-COVID) dan Tiongkok, sebagian karena masalah keamanan di Thailand, seperti penculikan aktor Tiongkok yang terkenal di Bangkok. Vietnam menargetkan 23 juta kedatangan pada tahun 2025 dan berencana menyalip Malaysia pada tahun 2030, dengan Thailand sebagai pesaing utamanya.

2. Daya Tarik Budaya dan Sejarah

Thailand: Daya tarik budaya Thailand berakar pada warisan Buddha, dengan situs-situs ikonis seperti Wat Pho, Wat Arun, serta reruntuhan kuno Ayutthaya dan Sukhothai. Festival seperti Songkran dan Loy Krathang menarik banyak pengunjung global. Keramahan "Smile Country" dan kehidupan malamnya yang semarak, terutama di Jalan Khao San Bangkok, semakin memperkuat daya tariknya. Namun, kehidupan malam Thailand menghadapi persaingan dari dunia hiburan urban Vietnam yang sedang berkembang.

Vietnam: Vietnam menawarkan perpaduan unik pengaruh budaya Asia Tenggara, Tiongkok, dan Prancis, yang terlihat jelas di Kawasan Kota Tua Hanoi, kota kuno Hoi An yang terdaftar di UNESCO, dan energi Kota Ho Chi Minh yang ramai. Keajaiban alam seperti Teluk Ha Long dan Tam Coc ("Teluk Ha Long di daratan") menarik para pencinta budaya dan alam. Keragaman budaya dan rasa "penemuan" Vietnam menarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman yang kurang komersial dibandingkan dengan landmark Thailand yang terkenal.

3. Objek Wisata Alam

Thailand: Dengan lebih dari 1.400 pulau, pantai-pantai Thailand (Phuket, Krabi, Koh Samui) dan taman nasional (Khao Sok, Doi Inthanon) melayani beragam wisatawan. Inisiatif ekowisata, seperti penjelajahan hutan berkelanjutan dan konservasi laut, sejalan dengan tren global. Namun, pariwisata yang berlebihan di area-area populer membebani sumber daya dan ekosistem.

Vietnam: Lanskap Vietnam, termasuk pulau-pulau batu kapur Teluk Ha Long, pantai-pantai Phu Quoc, dan hamparan sawah di Sa Pa, menyaingi Thailand. Destinasi-destinasi baru seperti Da Nang dan Phu Quoc semakin populer, didukung oleh upaya pemerintah untuk mendiversifikasi pariwisata. Destinasi-destinasi Vietnam yang lebih sepi menarik bagi wisatawan yang mencari alternatif selain tempat-tempat wisata Thailand yang lebih ramai.

4. Infrastruktur dan Aksesibilitas

Thailand: Infrastruktur Thailand yang berkembang dengan baik mencakup bandara-bandara utama (Suvarnabhumi, Phuket, Chiang Mai) dan jaringan transportasi domestik yang luas (bus, kereta api, feri). Namun, kemacetan di Bandara Suvarnabhumi dan beban infrastruktur di area-area dengan lalu lintas padat menimbulkan tantangan. Pembebasan visa untuk 90+ negara dan kemitraan strategis dengan maskapai penerbangan meningkatkan aksesibilitas.

Vietnam: Infrastruktur Vietnam membaik tetapi tertinggal dari Thailand. Bandara seperti Tan Son Nhat (Kota Ho Chi Minh) dan Noi Bai (Hanoi) menghadapi kemacetan, meskipun Bandara Internasional Long Thanh yang akan datang (dibuka Maret 2026) akan meningkatkan kapasitas menjadi 25 juta pengunjung. Kebijakan visa Vietnam kurang terbuka dibandingkan Thailand, dengan pembebasan visa untuk 25 negara dan e-visa untuk 80+ negara, tetapi perluasan baru-baru ini (misalnya, e-visa 90 hari, penerbangan non-stop ke AS) telah mendorong pertumbuhan.

5. Wisata Kuliner

Thailand: Kuliner Thailand, mulai dari jajanan kaki lima hingga restoran berbintang Michelin, menjadi daya tarik global. Hidangan seperti pad Thai dan tom yum, dipadukan dengan sekolah memasak dan wisata kuliner, menjadikan Thailand pusat kuliner. Dunia kuliner Bangkok tetap tak tertandingi dalam hal variasi dan pengakuan.

Vietnam: Dunia kuliner Vietnam semakin diakui secara internasional, dengan masuknya restoran Vietnam ke dalam Michelin Guide 2024 yang meningkatkan profilnya. Pho, banh mi, dan budaya "Bia Hoi" menawarkan pengalaman otentik yang terjangkau. Wisata kuliner Vietnam menarik bagi wisatawan kelas atas dan pencinta kuliner berbujet terbatas, bersaing dengan reputasi Thailand yang sudah mapan.

6. Pengaruh Media Digital dan Sosial

Thailand: Situs-situs Instagrammable Thailand, seperti Maya Bay dan Grand Palace, diuntungkan oleh paparan media sosial global, yang diperkuat oleh The White Lotus. Pemasaran influencer dan kampanye digital mempertahankan visibilitasnya.

Vietnam: Vietnam memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Teluk Ha Long, Hoi An, dan destinasi-destinasi baru seperti Phu Quoc. Daya tariknya sebagai alternatif yang kurang komersial menarik minat Gen Z dan milenial, dengan platform seperti TikTok yang mendorong minat.

7. Pariwisata Medis dan Wellness

Thailand: Thailand memimpin dalam pariwisata medis, dengan rumah sakit seperti Bumrungrad yang menawarkan perawatan kelas dunia dengan biaya rendah. Pariwisata wellness, termasuk spa dan retret yoga di Phuket dan Koh Samui, merupakan sektor yang sedang berkembang, menarik bagi wisatawan yang sadar kesehatan.

Vietnam: Vietnam sedang berkembang dalam pariwisata wellness, dengan resor mewah di Phu Quoc dan Da Nang yang melayani wisatawan kaya. Meskipun pariwisata medis kurang berkembang dibandingkan Thailand, fokus Vietnam pada perhotelan kelas atas menarik wisatawan mewah yang mencari destinasi alternatif yang tidak ramai.

Berdasarkan data ini, Thailand tetap menjadi pemimpin pariwisata Asia Tenggara dengan infrastruktur yang mapan, landmark budaya, dan beragam penawaran yang menarik 35,6 juta pengunjung pada tahun 2024. Namun, kenaikan pesat Vietnam, dengan 17,5 juta kedatangan dan tingkat pemulihan 98%, menandakan pergeseran dalam dinamika regional.

Vietnam serius menggarap sektor mewah yang sedang berkembang dan kebijakan proaktif menjadikannya pesaing yang tangguh, terutama bagi wisatawan yang mencari pengalaman baru. Sementara merek dan infrastruktur Thailand yang mapan memberinya keunggulan, lintasan pertumbuhan Vietnam menunjukkan bahwa hal itu dapat menantang peringkat kedua Malaysia pada tahun 2030, dengan Thailand sebagai saingan utamanya. Kedua negara ini betul-betul bersaing ketat!



Simak Video "Video: Suporter Vietnam Prediksi Final Lawan Indonesia Berlangsung Sengit"

(bnl/ddn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork