Kembali Padam, Ini Fakta-Fakta Api Abadi Mrapen

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kembali Padam, Ini Fakta-Fakta Api Abadi Mrapen

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Senin, 02 Feb 2026 14:39 WIB
Kembali Padam, Ini Fakta-Fakta Api Abadi Mrapen
Api abadi Mrapen (Ardian Dwi Kurnia/detikcom)
Jakarta -

Api Abadi Mrapen kembali padam sejak awal 2026, fenomena ini menghebohkan publik. Simak fakta-fakta dari Api Abadi Mrapen berikut ini.

Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi mengatakan kondisi itu mungkin disebabkan karena saluran gas tertutup lumpur. Annas menyatakan bahwa sumber api api abadi yang berada di Mrapen, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah itu sudah mengecil sejak akhir tahun lalu kemudian benar-benar mati di awal tahun ini.

"Sebelumnya kita sudah laporan tanggal 28 Desember 2025 itu apinya sudah mengecil," kata Annas, dikutip dari detikJateng, Senin (2/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa itu menggegerkan publik. Sejumlah wisatawan yang datang ke tempat tersebut juga kecewa lantaran sumber api yang digadang-gadang abadi dan tidak akan padam tersebut ternyata benar-benar mati.

"Di sini mampir lihat api sama ke peninggalannya Sunan Kalijaga. Kecewa juga pas tahu apinya mati, jadi fotonya kurang bagus," ujar Maryam pengunjung asal Blora kepada detikTravel.

ADVERTISEMENT

Tapi, apakah benar bahwa Api Abadi Mrapen ini benar-benar abadi? Lalu kenapa api tersebut padam? Simak informasinya berikut:

Kenapa Api Abadi Mrapen Padam?

Annas menjelaskan bahwa api abadi tersebut sudah mati sejak 1 Januari saat diperiksa pukul 07.00 WIB, padahal, malamnya pukul 23.00 WIB sumber api tersebut masih hidup.

Anna menyebut telah memeriksa dua pipa saluran yang mengalirkan gas ke titik api dan menduga saluran tersebut tertutup lumpur.

Menurut Annas, dua saluran pipa gas itu masih mengeluarkan bau gas. Namun karena tertutup lumpur, tekanan gas itu tidak kuat sampai ke permukaan. Hal inilah yang menyebabkan sumber api pada Api Abadi Mrapen mati.

Fakta-fakta Api Abadi Mrapen

Merangkum informasi dari sejumlah sumber, berikut fakta-fakta dari Api Abadi Mrapen:

1. Sejarah Api Abadi Mrapen

Melansir informasi detikJateng, mengutip penelitian Siti Khofifah dari UIN Walisongo Semarang, mitos kemunculan api abadi ini tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Sunan Kalijaga.

Kisahnya bermula saat runtuhnya Kerajaan Majapahit yang kemudian beralih dikuasai oleh Kerajaan Demak Bintoro. Barang peninggalan Kerajaan Majapahit dibopong oleh Sunan Kalijaga, yang memimpin pasukan saat itu, ke Kerajaan Demak Bintoro.

Dalam perjalanan, rombongan Sunan Kalijaga beristirahat di sebuah desa yang disebut Manggarmas. Saat itu, rombongan kesulitan untuk memasak makanan karena keterbatasan perlengkapan.

Menghadapi masalah itu, Sunan Kalijaga dan rombongannya meminta bantuan dari Allah SWT. Dari sana, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah. Setelah dicabut, semburan api keluar dari tanah.

Konon, tanah tersebut mengandung sumber gas sehingga bisa memancarkan sumber api. Sumber api tersebut memang bisa padam jika terkena air atau hujan, namun dapat kembali menyala hanya dengan korek saja. Api ini kemudian dikenal dengan nama Api Abadi Mrapen.

2. Api Abadi yang Tidak Akan Padam

Melansir situs Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Api Abadi Mrapen dikenal sebagai fenomena geologi unik karena apinya tetap menyala setelah diguyur hujan.

Api ini bukan berasal dari kayu atau bahan bakar buatan, melainkan dari gas alam yang keluar secara alami melalui celah-celah tanah. Selama pasokan gas dari dalam bumi masih ada, nyala api akan terus muncul dan sulit dipadamkan.

Meski berhasil dipadamkan setelah diguyur hujan, api tersebut akan kembali muncul dan berkobar pada permukaan tanah. Hanya cukup dipancing oleh sebatang korek, Api Abadi Mrapen akan kembali hidup.

Api Abadi Mrapen menjadi salah satu keajaiban alam yang langka dan bernilai ilmiah tinggi yang ada di Jawa Tengah.

3. Pernah Padam pada 2020

Padamnya Api Abadi Mrapen bulan lalu bukan kejadian pertama. Melansir arsip situs resmi Pemerintah Jawa Tengah, Senin (2/2), sumber api abadi ini pernah padam pada 25 September 2020 untuk pertama kalinya.

Hal ini disebabkan oleh suplai gas alam yang biasanya muncul di dalam tanah berhenti, sehingga sumber api tidak muncul lagi.

Pemerintah setempat melakukan relokasi dan penyelidikan mendalam mengenai penyebab matinya Api Abadi Mrapen, dan diduga padamnya api dan hilangnya kandungan gas dalam tanah disebabkan oleh aktivitas di sekitar lokasi.

4. Tempat Menempah Pusaka Kerajaan

Mengutip buku Connie Wishnu W berjudul 'Kanjeng Sunan Kalijaga: Jejak-jejak Sang Legenda' menyebut bahwa dahulu Api Abadi Mrapen dipakai untuk menempa sejumlah pusaka kerajaan.

Kisahnya dimulai saat Sunan Kalijaga memerintahkan adik iparnya, Jaka Supa atau yang dikenal Mpu Supa untuk membuat keris dan sejumlah alat pusaka lain.

Bahan pembuatan keris adalah besi sebesar biji asam atau klungsu dalam bahasa Jawa. Besi tersebut dibakar menggunakan Api Abadi Mrapen dan ditempa di atas Watu Bobot hingga berbentuk keris.

Watu Bobot disebut-sebut sebagai salah satu barang peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibawa oleh rombongan Demak. Karena bobot nya yang terlalu berat, akhirnya Watu Bobot ditinggal di lokasi tempat Sunan Kalijaga dan rombongan beristirahat.

Selanjutnya Mpu Supa mencelupkan keris itu ke Sendang Dudo. Konon, akibat proses pembuatan keris itu, air Sendang Dudo yang tadinya jernih berubah menjadi kuning kecokelatan.

Sejak saat itu, Mpu Supa diamanahi untuk membuat pusaka kerajaan di sana, di antaranya: Kyai Crubuk, Kyai Nogososro, Kyai Nogosiluman, dan Kyai Nogowelang.

5. Ikon Budaya Indonesia

Dalam sejarahnya, Api Abadi Mrapen menjadi simbol peninggalan sejarah Indonesia yang kemudian menjadi ikon budaya yang dibanggakan.

Api Abadi Mrapen diikutsertakan dalam agenda-agenda besar untuk melambangkan keanekaragaman Indonesia. Salah satunya yaitu, api abadi ini pernah berkontribusi dalam pembukaan Asian Para Games tahun 2011.

Api tersebut dijadikan obor untuk kemudian diarak melalui prosesi kirab budaya. Sesampainya di stadion, obor dari Api Abadi Mrapen dibawa oleh seorang atlet untuk diserahkan ke atlet lain. Terakhir, api dipakai untuk menyulut kaldron.

Tidak hanya itu, Api Abadi Mrapen juga digunakan dalam upacara pembukaan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) tahun 1963, Pekan Olahraga Nasional (PON) 1981 dan 1996, dan Asin Para Games tahun 2022.

Api Abadi Mrapen juga menjadi tempat sumber Api Dharma Waisak dalam perayaan Waisak. Api kemudian dibawa ke Candi Mendut dan diarak ke Candi Borobudur untuk menyalakan lilin altar saat detik-detik upacara Waisak.




(fem/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads