Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa seseorang akan lebih tidak bertanggungjawab terhadap lingkungan saat liburan. Penelitian ini dilakukan peneliti dari University of Quennsland (UQ).
Studi yang diterbitkan dalam Tourism Management tersebut menunjukkan bahwa liburan dapat memicu apa yang disebut sebagai 'identitas tempat liburan'. Sebuah kondisi psikologis yang membuat individu merasa lebih bebas, kurang bertanggung jawab, dan lebih sedikit memperhatikan dampak lingkungan dibandingkan saat mereka menjalani rutinitas sehari-hari.
Melansir Eco-Business, Rabu (11/2/2026) peneliti utama, Dorine von Briel, menjelaskan bahwa identitas liburan tersebut berbeda dengan 'identitas tempat asal' yang berkaitan dengan rutinitas dan tanggung jawab sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan bahwa identitas liburan ini dapat mempengaruhi perilaku lingkungan seseorang saat bepergian," katanya.
Melalui tiga studi terpisah, tim peneliti menemukan bahwa peserta konsisten menilai diri mereka kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan saat berlibur dibandingkan ketika berada di rumah.
Peneliti lainnya, Anna Zinn, menambahkan bahwa meskipun peralihan identitas sering terjadi dalam berbagai konteks seperti dari profesional menjadi orang tua. Penelitian ini adalah yang pertama mengidentifikasi dan mengkaji 'identitas liburan' serta dampaknya terhadap perilaku lingkungan.
Penelitian ini juga relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap dampak pariwisata terhadap perubahan iklim. Sebelumnya, UQ melaporkan bahwa sektor pariwisata menyumbang hampir 9% dari emisi karbon global, meskipun upaya untuk mendorong perilaku berkelanjutan di kalangan wisatawan belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Anggota tim peneliti yang lain, Prof. Sara Dolnicar, menyarankan agar pesan-pesan keberlanjutan disampaikan lebih awal, sebelum wisatawan memasuki mode liburan. Menurutnya, dorongan halus untuk mengingatkan kebiasaan berkelanjutan sebelum perjalanan lebih efektif daripada imbauan berbasis rasa bersalah selama liburan seperti meminta wisatawan untuk mengurangi durasi mandi atau menggunakan kembali handuk.
Sebagai contoh, beberapa destinasi pariwisata mulai mengimplementasikan kebijakan untuk mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab. Negara Palau mewajibkan pengunjung menandatangani 'perjanjian' yang berisi komitmen untuk menjaga alam dan budaya lokal. Selandia Baru juga mendorong wisatawan untuk membuat perjanjian yang mengajak mereka untuk melestarikan alam dan menghormati budaya setempat.
Sementara di Bhutan, dengan kebijakan pariwisata 'bernilai tinggi, bervolume rendah' mengenakan biaya pembangunan berkelanjutan kepada wisatawan untuk mendanai inisiatif lingkungan dan pelestarian budaya.
Dari penelitian itu menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang lebih tepat dalam mendorong perilaku berkelanjutan di kalangan wisatawan, baik sebelum maupun selama liburan mereka.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Lagi, Finlandia Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia Sejagat
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bule Swiss Ejek Nyepi di Bali, PHDI Buka Suara