Hari Valentine Identik dengan Serba Cokelat, Ini Sejarahnya

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hari Valentine Identik dengan Serba Cokelat, Ini Sejarahnya

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Jumat, 13 Feb 2026 19:36 WIB
Cokelat
Ilustrasi cokelat (Site shop)
Jakarta -

Menjelang Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari, cokelat menjadi hadiah manis yang diberikan ke orang terkasih. Bagaimana sejarahnya ya?

Cokelat adalah salah satu hadiah yang populer untuk diberikan kepada orang tersayang di Hari Valentine. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah panjang mengenai cokelat itu sendiri.

Dikutip dari jurnal berjudul 'Chocolate, "Food of the Gods": History, Science, and Human Health' (2019) oleh Maria Teresa Montagna, cokelat dipercaya sebagai makanan para dewa. Sejak zaman Mesoamerika, suku Aztek dan Maya sudah menganggap biji kakao sebagai makanan para dewa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kakao bukan hanya menjadi camilan, tetapi juga digunakan dalam ritual dan dianggap memiliki kekuatan magis. Pada saat itu, kaum bangsawan menggunakan cokelat sebagai makanan di hari-hari khusus seperti pertunangan, pernikahan, dan festival keagamaan.

Mereka diperkirakan sudah mengonsumsi cokelat sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Masyarakat Mesoamerika kuno mengonsumsi cokelat sebagai minuman berbusa, mencampurnya dengan jagung atau berbagai rempah aromatik seperti vanili dan menambahkan madu di dalamnya.

ADVERTISEMENT

Mengutip laman San Antonio Report, pada abad ke-17, penjelajah Eropa mulai membawa minuman cokelat ke Spanyol Inggris dan Prancis. Saat itu, meminum cokelat adalah cara bagi penguasa untuk menunjukkan wibawa mereka.

Minuman cokelat menjadi minuman yang populer di istana-istana tempat berkumpul kaum bangsawan Eropa. Pada tahun 1847, ditemukanlah cokelat padat. Orang Eropa kemudian menyingkirkan hampir semua rempah-rempah pada cokelat yang ditambahkan oleh orang Mesoamerika. Hanya vanila yang dipertahankan karena cita rasanya.

Seiring berkembangnya teknologi, cokelat kemudian diproduksi secara massal. Cokelat mulai berkembang menjadi permen yang memadukan cokelat dengan gula.

Mengapa Valentine Identik dengan Cokelat?

Cokelat pun menyebar ke Eropa dan mulai diproses menjadi makanan yang lebih lezat. Pada abad ke-19, seorang pengusaha asal Inggris bernama Richard Cadbury melihat peluang besar di Hari Valentine yang semakin populer dirayakan oleh masyarakat.

Ia mulai mengemas cokelat buatan perusahaannya dalam sebuah kotak berbentuk hati. Kotak tersebut juga dapat digunakan untuk menyimpan kenang-kenangan lain, seperti surat cinta. Oleh sebab itu, nilai jual dari cokelat ini menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan cokelat pada umumnya.

Hal ini pun membuat banyak orang yang kemudian hari menggunakan cokelat untuk dijadikan sebagai hadiah di Hari Valentine. Hingga saat ini, tradisi memberikan cokelat sebagai simbol kasih sayang di Hari Valentine terus berjalan.

Kegiatan membagi-bagikan cokelat juga dilakukan oleh halocoko dalam bentuk es krim. Mereka bahkan telah membagikan lebih dari 1,1 juta es krim kepada anak-anak di berbagai wilayah sepanjang tahun 2025.

MURI pun memberikan penghargaan atas Program Pembagian Es Krim Secara Seri Terbanyak dalam Satu Tahun di Indonesia pada Kamis (12/2) di SMPN 256 Jakarta. Penghargaan ini merupakan yang pertama diberikan bagi jenama es krim cokelat dan bertepatan dengan kegiatan Berbagi Kebahagiaan di Setiap Sudut Negeri yang digelar di sekolah tersebut.

Bagi-bagi 1,1 juta es krimRekor bagi-bagi 1,1 juta es krim cokelat Foto: (dok. Istimewa)

"Rekor MURI ini pengakuan atas komitmen kami dalam menyebarkan kebahagiaan kepada anak-anak Indonesia. Lebih dari 1,1 juta es krim yang dibagikan sepanjang 2025 mencerminkan keseriusan kami menjadikan es krim sebagai medium positif bagi generasi masa depan," ucap Senior Brand Manager halocoko, Viona.

Sepanjang 2025, lebih dari 50 wilayah di Indonesia telah dijangkau oleh program Berbagi Kebahagiaan di Setiap Sudut Negeri, Berkah Ramadan di Setiap Sudut Negeri, dan Dari Sekolah untuk Senyuman Anak Indonesia yang menjangkau dari 2,5 juta masyarakat.

Ke depan, program ini akan lebih diperluas lagi dengan target menjangkau lebih banyak wilayah dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak Indonesia.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads