Thailand terpaksa memangkas target kunjungan wisatawan pada 2026 menjadi 32,14 juta orang akibat lonjakan harga minyak dunia imbas konflik AS-Iran.
Kondisi tersebut sangatt berpengaruh pada sektor pariwisata Thailand. Pemerintah Thailand resmi memangkas target kedatangan wisatawan asing pada 2026 menjadi 32,14 juta orang.
Proyeksi pendapatan sektor pariwisata juga diturunkan menjadi 1,52 triliun baht. Mengutip informasi Nation Thailand, Kamis (2/4/2026), penyesuaian ini dilakukan setelah dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mulai dirasakan, terutama melalui lonjakan harga energi global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik tersebut berdampak langsung pada pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah bahkan sempat menembus angka $100 per barel (Rp 1,7 juta). Kenaikan ini kemudian memicu efek berantai, termasuk meningkatnya harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Thailand.
Baca juga: 3 Kota di ASEAN Paling Murah Versi Turis AS |
Harga solar domestik di Thailand naik tajam hingga hampir 40 baht per liter (Rp 20.000) pada akhir Maret 2026. Bahkan dalam skenario tertentu, harga bahan bakar diperkirakan bisa mencapai 40 hingga 45 baht (Rp 20.000-Rp 23.000) per liter, dan dalam kondisi terburuk berpotensi melonjak hingga 50 sampai 60 baht (Rp 26.000-Rp 31.000) per liter.
Kenaikan biaya energi ini berdampak besar pada sektor pariwisata. Biaya operasional meningkat di hampir seluruh rantai industri, mulai dari transportasi hingga akomodasi.
Akibatnya, harga layanan wisata juga ikut naik, yang pada akhirnya mengurangi daya beli wisatawan, terutama dari jarak jauh seperti Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
Selain itu, maskapai penerbangan juga terkena dampak langsung. Banyak maskapai kini menerapkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) yang lebih tinggi.
Tidak hanya itu, perubahan rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik di Timur Tengah membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dan biaya operasional semakin meningkat.
Salah satu pemicu utama kondisi ini adalah penutupan Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026. Penutupan jalur vital tersebut mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak global dalam waktu singkat, sehingga langsung mendorong lonjakan harga energi dunia.
Dampak ekonomi dari situasi ini juga terlihat pada menurunnya minat wisatawan internasional. Berdasarkan survei terhadap 740 pelaku industri pariwisata, indeks kepercayaan sektor ini pada kuartal pertama 2026 berada di angka 81.
Angka ini memang lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang berada di angka 72, namun masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 83.
Sektor yang paling terdampak adalah perusahaan tur travel. Indeks kepercayaan di sektor ini hanya mencapai angka 72, terendah dibandingkan sektor lain dalam industri pariwisata. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya pemesanan perjalanan kelompok, terutama dari pasar Barat.
Menurut Dana Moneter Internasional, setiap kenaikan harga energi sebesar 10 persen dapat menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,1 hingga 0,2 poin persentase.
Dengan harga minyak yang telah naik sekitar 50 persen sejak konflik dimulai, dampaknya kini mulai terasa secara luas, termasuk pada kemampuan belanja calon wisatawan.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Thailand yang selama ini mengandalkan wisatawan jarak jauh dengan daya beli tinggi sebagai salah satu penopang utama sektor pariwisatanya. Jika situasi global tidak segera membaik, target yang telah direvisi pun masih berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut.












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica