Pesona Bali membuat kreator konten asal Korea Selatan, Shindong Lee, jatuh hati dan memutuskan menetap setelah menikah dengan pria Indonesia. Setelah setahun tinggal di Pulau Dewata, dia menilai di balik keindahan Pulau Dewata ada persoalan sampah yang belum tertangani secara optimal.
Shindong menilai warga lokal sudah berupaya menjaga kebersihan lingkungan. Namun, upaya tersebut belum sejalan dengan sistem pengelolaan sampah, sehingga masalahnya terus berulang.
Kondisi itu semakin terasa setelah kebijakan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung yang sejak 1 April 2026 tidak lagi menerima sampah organik. Kebijakan itu untuk mendorong pengolahan sampah dari sumbernya, sehingga TPA kini hanya menampung sampah anorganik dan residu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, perubahan sistem itu membuat pengelolaan sampah bergeser ke sumbernya. Sampah organik kini harus dipilah dan diolah di tingkat rumah tangga dan desa. Namun, transisi tersebut belum berjalan mulus karena keterbatasan infrastruktur dan kesiapan sistem pengelolaan di lapangan.
Shndong membagikan keresahannya melalui video di Instagram soal sampah dengan keterangan: Menurut kalian sampah di Bali solusinya seperti apa ya? Dalam perbincangan dengan detikTravel melalui pesan, Shindong menegaskan keresahan itu.
Dia heran kenapa sampah-sampah menumpuk di tepi jalan. Dia juga tidak habis pikir, dengan sampah yang sudah dipilah oleh warga justru dicampur lagi setelah diambil oleh petugas sampah.
"Saya sudah tinggal di Bali sekitar satu tahun. Saya dan suami beberapa kali datang ke Bali untuk liburan, dan setiap kali datang saya selalu jatuh cinta dengan alam, budaya, dan suasananya. Akhirnya, setelah menikah di Bali, saya memutuskan memulai kehidupan pernikahan saya di sini bersama suami saya yang orang Indonesia," kata Shindong saat dihubungi detikTravel, Minggu (12/04/2026).
"Saya beberapa kali melihat warga membersihkan saluran air sendiri atau menjadi relawan untuk membersihkan sampah. Karena itu saya merasa semakin sedih. Menurut saya, warga sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kalau sistem pengangkutan sampah dan pengurangan penggunaan barang sekali pakai tidak ikut diperbaiki, masalah ini akan sulit diselesaikan," dia menambahkan.
Pengelolaan sampah di Korea Selatan yang ketat
Shindong sekaligus membandingkan pengelolaan sampah di Bali dengan Korea. Dia mengatakan bahwa pemerintah Korsel tak main-main dalam urusan mengelola sampah. Korsel mewajibkan setiap warga memilah sampah sesuai aturan dan berfokus kepada sampah daur ulang.
"Di Korea, fokusnya sangat besar pada daur ulang. Karena itu, sampah dipisahkan dengan sangat detail. Misalnya, ketika membuang satu botol plastik, label, tutup botol, dan botol plastiknya harus dipisahkan satu per satu. Botolnya juga harus dikosongkan dan tidak boleh ada sisa kotoran di dalamnya," kata dia.
Botol plastik dan botol kaca juga bisa dikumpulkan lalu dibawa ke tempat daur ulang. Kadang kala, warga bisa menukar sampah-sampah itu dengan uang atau poin.
Di depan kantor kelurahan atau fasilitas umum, ada mesin yang menerima botol plastik dan kaleng lalu memberikan poin. Katanya, sistem seperti ini membuat orang lebih aktif untuk mendaur ulang.
Shindong juga mengatakan pengelolaan sampah sangat disiplin per wilayah. Pembuangan furnitur berukuran besar juga diatur secara ketat.
"Di Korea, kita harus membeli kantong sampah resmi sesuai daerah tempat tinggal. Kalau memakai kantong dari daerah lain, sampahnya sering kali tidak akan diambil. Jadi harga kantong itu bisa dibilang adalah biaya pembuangan sampah. Selain itu, sampah makanan harus dibuang dengan kantong khusus atau tempat khusus," kata dia.
Untuk membuang barang besar seperti tempat tidur, lemari, atau meja, warga Korea Selatan harus membeli stiker khusus dari kantor pemerintah daerah. Sampah dari renovasi rumah juga harus dibuang secara terpisah dengan biaya tambahan. Jadi di Korea, biaya pembuangan sampah dibayar sesuai jenis dan jumlah sampah.
Saran untuk pemerintah untuk sampah di Bali
Shindong menilai Bali juga harus mulai menerapkan memilah dan mendaur ulang sampah, terutama resor dan hotel. Apalagi, Bali selalu kedatangan banyak wisatawan sepanjang tahun. Dia berpendapat peran penginapan untuk aktif mengelola sampah sangat penting.
Selain itu, Bali juga membutuhkan standar yang sama untuk pengelolaan sampah di seluruh wilayah.
"Daripada sampah ditumpuk lama di depan rumah, menurut saya akan lebih baik kalau di setiap daerah ada tempat pembuangan bersama, sehingga warga bisa langsung memilah dan membuang sampah sendiri. Dengan begitu, masalah membakar sampah atau menumpuk sampah terlalu lama di depan rumah juga bisa berkurang," ujar dia.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030