Golden Week Jepang Diprediksi Ramai, tapi Turis Lagi Mau Berhemat

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Golden Week Jepang Diprediksi Ramai, tapi Turis Lagi Mau Berhemat

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Jumat, 24 Apr 2026 09:26 WIB
People visit the famed Ameyoko shopping street on New Years Eve in Tokyo, Tuesday, Dec. 31, 2024. (AP Photo/Hiro Komae)
Ilustrasi wisatawan di Jepang. (AP/Hiro Komae)
Tokyo -

Libur panjang tahun ini di Jepang atau disebut Golden Week pada 2 hingga 6 Mei diprediksi mengalami lonjakan wisatawan. Tapi daya belinya menurun.

Survei yang dilakukan JTB Corporation pada 6-11 Maret terhadap 10.000 responden menunjukkan 23,4%, di antaranya berencana atau kemungkinan besar akan bepergian selama periode 25 April hingga 7 Mei. Angka tersebut naik 2,5 poin persentase dibandingkan tahun lalu.

Dari hasil tersebut, jumlah wisatawan domestik diproyeksikan mencapai 23,9 juta perjalanan, naik 1,7% secara tahunan. Angka tersebut hampir menyamai level sebelum pandemi yakni 24 juta perjalanan pada 2019.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Nippon, Rabu (22/4/2026) meski jumlah perjalanan meningkat, rata-rata pengeluaran per orang untuk wisata domestik, termasuk transportasi dan akomodasi diperkirakan turun 2,1% menjadi 46.000 yen (Rp 4,9 juta). Ini menjadi penurunan pertama sejak 2020.

ADVERTISEMENT

Survei juga menunjukkan perubahan pola belanja wisata. Minat untuk memperpanjang durasi perjalanan atau bepergian ke destinasi yang lebih jauh menurun dibandingkan tahun lalu.

Untuk durasi perjalanan, tren perjalanan singkat semakin dominan. Perjalanan satu malam dua hari naik 6,4 poin menjadi 39,9%. Sebaliknya, perjalanan tiga malam empat hari turun 3,6 poin menjadi 16,2%.

Selain itu, wisata hemat kini lebih diminati dibandingkan perjalanan mewah, berbalik dari tren tahun sebelumnya. Perwakilan JTB menyebut ketidakpastian ekonomi turut memengaruhi keputusan wisatawan.

"Ketidakpastian prospek ekonomi, termasuk kenaikan harga minyak mentah akibat situasi di Iran, kemungkinan turut berdampak," ujarnya.

Di sisi lain, jumlah wisatawan Jepang ke luar negeri diperkirakan meningkat 8,5% menjadi 572.000 orang. Rata-rata pengeluaran juga naik 2,2% menjadi 329.000 yen (Rp 35 juta).

Di tengah meningkatnya ketegangan global dan mahalnya tarif penerbangan, JTB mencatat adanya dorongan untuk tetap bepergian.

"Semakin banyak orang berpikir mereka harus bepergian sekarang, selagi masih bisa," kata perwakilan tersebut.

Adapun destinasi favorit wisatawan Jepang adalah Korea Selatan, Taiwan, dan China. Kawasan Asia Timur menyumbang sekitar 60% dari total perjalanan luar negeri.




(upd/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads