Bangkrut, Maskapai Ini Tutup dan Setop Beroperasi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bangkrut, Maskapai Ini Tutup dan Setop Beroperasi

Femi Diah - detikTravel
Minggu, 03 Mei 2026 09:15 WIB
Spirit Airlines
Spirit Arilines (dok spirit.com)
Jakarta -

Maskapai bertarif rendah Spirit Airlines resmi setop beroperasi setelah 34 tahun mengudara. Penerbangan terakhir lepas landas dari Detroit dan mendarat dengan selamat di Dallas.

"Selama lebih dari 30 tahun, Spirit Airlines telah memainkan peran perintis dalam membuat perjalanan lebih terjangkau dan mempertemukan banyak orang sekaligus mendorong harga yang lebih murah di industri," kata CEO Dave Davis dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AP, Minggu (3/5/2026).

"Ini sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan oleh siapa pun dari kita," dia menambahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penutupan itu dilakukan setelah manajemen Spirit mengajukan kebangkrutan dua kali dalam dua tahun terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan, mulai dari pemangkasan rute, negosiasi dengan serikat pekerja, hingga mencari pendanaan baru, termasuk peluang bantuan dari pemerintah. Namun, semua langkah tersebut tidak cukup untuk membendung tekanan finansial yang terus meningkat.

Lonjakan harga bahan bakar pesawat, yang dipicu oleh konflik global termasuk perang yang melibatkan Iran, menjadi pukulan besar bagi keuangan perusahaan. Biaya operasional meningkat tajam dan mempercepat krisis kas hingga akhirnya maskapai ini tidak mampu lagi bertahan.

ADVERTISEMENT

Pada hari terakhir operasinya, Spirit masih melayani lebih dari 50.000 penumpang. Maskapai itu juga berupaya memulangkan lebih dari 1.300 awak kabin ke rumah masing-masing.

Dalam laporan maskapai itu, sekitar 17.000 karyawan kehilangan pekerjaan, termasuk mereka yang telah bekerja lebih dari 25 tahun. Dalam memo internal, serikat pramugari menyampaikan pesan emosional.

"Selama ini banyak orang menjadikan Spirit bahan lelucon, tetapi kami telah membangun kekuatan bersama yang mampu menghadapi apa pun. Dan, itu bukan lelucon," dalam memo itu.

Bagi para penumpang, hilangnya Spirit berarti berkurangnya pilihan penerbangan murah. Salah satu penumpang, Kendria Talton, mengatakan ia tetap memilih Spirit karena harganya, meskipun reputasinya sering dikritik.

"Saya merasa Spirit itu terjangkau, sederhana, tidak mewah. Rasanya seperti rumah," ujar Angelina Deruelle, mahasiswa yang terdampak pembatalan penerbangan di hari terakhir operasional maskapai tersebut.

Spirit Airlines memulai perjalanannya sebagai Charter One Airlines pada awal 1980-an yang melayani tur wisata. Seiring waktu, maskapai itu berkembang dengan konsep "unbundled fares", yakni tiket murah dengan layanan tambahan berbayar seperti bagasi, pemilihan kursi, hingga pencetakan tiket.

Di bawah kepemimpinan Ben Baldanza, Spirit dikenal sangat efisien dan tanpa kompromi dalam menekan biaya. Dia bahkan pernah menegaskan bahwa masalahnya bukan Spirit terlalu mahal, melainkan penumpang yang belum terbiasa melihat rincian biaya secara transparan.

Model bisnis itu sempat menuai kritik, tetapi juga mengubah industri penerbangan. Banyak maskapai besar akhirnya mengikuti jejak Spirit dengan menawarkan tarif dasar murah dan layanan tambahan berbayar.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads