UNESCO akan memprioritaskan tiga lokasi untuk langsung masuk ke Daftar Warisan Dunia yang Terancam dalam sidang Komite Warisan Dunia di Busan, Korea Selatan.
Keputusan tersebut akan ditentukan melalui pemungutan suara oleh 196 negara anggota UNESCO.
Tiga lokasi yang menjadi prioritas adalah situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat, Palestina, lima kastil bersejarah di Lebanon selatan, serta kawasan sabana Boma-Badingilo di Sudan Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari France24, Selasa (21/7/2026) Ketiganya dinilai menghadapi ancaman serius akibat konflik bersenjata maupun perubahan iklim.
Direktur Pusat Warisan Dunia UNESCO, Lazare Eloundou Assomo, mengatakan penetapan status tersebut bertujuan menarik perhatian dunia terhadap situs-situs yang membutuhkan perlindungan.
"Kami mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian, tetapi kami bisa mengirimkan pesan kepada seluruh dunia. Tempat-tempat ini sangat penting dan segala upaya harus dilakukan untuk mencegah kehancurannya," ungkap Assomo.
Ia menambahkan pelestarian warisan budaya juga membantu masyarakat yang terdampak konflik untuk pulih dan membangun kembali kehidupannya. Sebastia menjadi salah satu lokasi yang paling disorot.
Beaufort Castle, Lebanon. (Israeli Military via Getty Images) |
Situs yang diyakini sebagai Samaria dalam Alkitab itu berada di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Warga Palestina di desa sekitar selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut dan khawatir akses menuju situs akan ditutup sepenuhnya oleh Israel.
Sementara itu, lima kastil di Lebanon selatan diprioritaskan karena berada di kawasan yang terdampak konflik dengan Israel. Salah satunya adalah Benteng Qalaat al-Chakif atau Beaufort Castle yang dikuasai pasukan Israel pada Mei lalu.
Boma-Badingilo Migratory Landscape, Sudan. (UNESCO/Marcus Westberg) |
Adapun kawasan Boma-Badingilo di Sudan Selatan menghadapi ancaman akibat perang dan perubahan iklim. Padang rumput dan sabana itu merupakan jalur migrasi sekitar satu juta satwa liar, termasuk antelop dan gazel, setiap tahunnya.
UNESCO menegaskan status Warisan Dunia yang Terancam bukan merupakan bentuk hukuman bagi suatu negara. Bagi Assomo, status tersebut justru bertujuan membantu negara mendapatkan pendanaan, mitra, dan perhatian internasional untuk memperkuat upaya konservasi.
Selain ketiga lokasi tersebut, sejumlah situs yang sudah berstatus Warisan Dunia juga berpotensi masuk daftar terancam. Di antaranya peninggalan Romawi di Kota Tyre, Lebanon, situs Yunani kuno Tauric Chersonese di Krimea, serta Danau Baikal di Rusia yang menghadapi ancaman polusi, lonjakan wisatawan, penebangan hutan, dan penurunan permukaan air.
Saat ini UNESCO memiliki sekitar 1.200 situs Warisan Dunia. Status tersebut tidak hanya menjadi pengakuan atas nilai sejarah dan budaya suatu lokasi, tetapi juga dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus membuka akses pendanaan untuk pelestariannya.













































Komentar Terbanyak
Viral Turis China Dilecehkan Warlok Bali, Berawal dari Salaman Lalu ke Kemaluan
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030
Malaysia Rajai Pariwisata ASEAN, Indonesia Kalah dari Vietnam