×
Ad

Nepal Seperti sedang Lockdown, Pemandu Wisata Menjerit

Bonauli - detikTravel
Jumat, 02 Okt 2026 06:11 WIB
Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Nepal, Senin (14/9/2026). Bencana tersebut meninggalkan kerusakan dan timbunan lumpur di kawasan permukiman warga. (REUTERS/Tyrone Siu)
Kathmandu -

Bencana banjir bandang yang menyapu Nepal menyisakan duka dan perjuangan berat di sektor pariwisata. Pemandu wisata tak berdaya.

Setiap tahunnya, Pushpraj Rimal, seorang perencana tur dan sopir taksi di ibu kota Nepal, Kathmandu, menantikan bulan September. Bulan ini adalah musim puncak di mana pariwisata biasanya berkembang pesat.

Namun yang didapatnya kali ini justru serangkaian pembatalan oleh wisatawan. Ya, Nepal sedang tidak baik-baik saja. Banjir dahsyat bulan lalu menewaskan lebih dari 1.450 orang dan menghancurkan jalan raya utama negara itu.

"Situasinya masih seperti lockdown," kata pria berusia 42 tahun itu dikutip dari Al Jazeera, Jumat (2/10/2026).

Pushpraj, yang berbicara bahasa Nepal dan Hindi, bekerja berdasarkan komisi untuk beberapa hotel dan perusahaan trekking di Kathmandu dan kota Pokhara yang indah, yang dikenal dengan danaunya yang terletak di pegunungan Annapurna. Pokhara juga berfungsi sebagai basis bagi para pendaki Himalaya.

Musim wisata Nepal mencapai puncaknya setelah musim hujan berakhir pada Agustus dan langit lebih cerah. Lewat pariwisata, Nepal menarik ribuan wisatawan internasional, menyumbang hampir 8 persen dari produk domestik bruto dan mempekerjakan lebih dari 1 juta orang.

Tahun lalu, Nepal menerima lebih dari 1,15 juta wisatawan yang mengunjungi negara itu, hampir sepertiganya selama musim September-November.

Namun banjir tahun ini, yang dipicu oleh runtuhnya gletser di sepanjang perbatasan Nepal-Tibet di utara, telah mendorong wisatawan menjauh dari daerah yang tidak terkena dampak.

"Saya menyewa dua mobil selama dua bulan, tetapi saya hanya mendapatkan seperempat dari bisnis yang biasanya saya dapatkan dalam satu musim. Wisatawan biasanya mulai berdatangan dari bulan September, tetapi sebagian besar dari mereka telah membatalkan perjalanan tahun ini," ujar dia.

"Saya tidak akan mendapatkan komisi dari hotel atau penyelenggara pendakian, dan bisnis taksi juga tidak berjalan dengan baik. Sekarang saya hanya menunggu musim ini berakhir," kata dia.

Pushpraj memiliki dua anak, Hema (14) dan Rahul (12). Kepada mereka, ia telah menjanjikan tablet, berharap pada Festival Dussain tahun ini, yang jatuh pada Oktober.

"Tetapi tampaknya sekarang mustahil. Saya harus mengecewakan mereka dan mengingkari janji saya kepada mereka untuk pertama kalinya," kata dia dengan nada sedih.

Kisah ini tak hanya dialami oleh Pushpraj, tapi juga Seeta Nepali (61). Ia dan suaminya, Ramakant Nepali (68) menjual buttermilk buatan sendiri di jalan raya yang menghubungkan Kathmandu dengan kota-kota wisata Pokhara dan Chitwan. Pasangan ini, yang juga menjual keju cottage di lingkungan mereka, bergantung pada penjualan harian ini untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Kota kami mungkin tidak hancur oleh banjir, tetapi banjir menjauhkan pembeli. Kami tidak bisa mendapatkan penghasilan selama 11 hari setelah banjir karena jalan terblokir," kata Seeta.

Bahkan setelah dibuka kembali, hanya kendaraan pemerintah yang diizinkan lewat. Hanya beberapa turis datang, namun hasil penjualan bahkan tidak sampai setengah dari yang biasanya dijual.

"Kami hanya menghasilkan seperempat dari penghasilan kami biasanya," dia menambahkan.



Simak Video "Video: Seminggu Setelah Banjir Mematikan Nepal yang Tewaskan Ribuan Orang"


(bnl/ddn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork