Dua KA Babaranjang Tabrakan, Ini Solusi dari Pengamat Perkeretaapian

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dua KA Babaranjang Tabrakan, Ini Solusi dari Pengamat Perkeretaapian

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Jumat, 16 Okt 2026 10:40 WIB
PT Kereta Api Indonesia (Persero) menghadirkan kembali livery lokomotif era tahun 1953 - 1991 pada 3 unit Lokomotif seri CC 202.
KA Babaranjang (Kereta Api Indonesia)
Ogan Komering Ulu -

Dua kereta api angkut batu bara (Babaranjang) mengalami tabrakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Pemerhati perkeretaapian Joni Martinus menyampaikan solusi agar tidak muncul kejadian serupa di masa

Akibat kecelakaan itu, dua orang jadi korban yakni masinis dan asisten masinis terluka. Kecelakaan terjadi di Jalur I emplasemen Stasiun Talang Baru, Desa Talang Baru, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten OKU, wilayah operasional KAI Divre IV Tanjungkarang pada Kamis (15/10) dini hari, sekitar pukul 02.36 WIB.

Dua kereta Babaranjang yang terlibat kecelakaan yakni KA 4045 relasi Stasiun Tanjung Enim Baru menuju Tarahan dan KA 4136 relasi Stasiun Tarahan menuju Stasiun Tanjung Enim Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak dari insiden tersebut, lokomotif dan sejumlah gerbong terguling serta anjlok dari rel. Seluruh lintas pelayanan perjalanan kereta api dari dan menuju Tanjungkarang lumpuh total, termasuk dibatalkannya perjalanan KA penumpang Rajabasa relasi Tanjungkarang - Kertapati Palembang (PP).

Berdasarkan laporan kejadian, KA 4045 masuk ke Jalur I Stasiun Talang Baru dan menabrak KA 4136 yang sedang dalam proses berhenti di jalur yang sama. Benturan keras mengakibatkan kerusakan pada kedua rangkaian.

ADVERTISEMENT

Pemerhati perkeretaapian Joni Martinus mengatakan jika suatu rangkaian kereta berada di emplasemen stasiun seharusnya posisinya sangat aman, karena di dalam stasiun sudah dilengkapi berbagai alat pengaman seperti sistem persinyalan, petugas stasiun (PPKA), hingga petugas di sistem pengendali terpusat. Namun faktanya masih terjadi tabrakan.

Menurut Joni, ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab:

1. Pelanggaran terhadap sinyal merah (Signal Passed at Danger / SPAD) oleh masinis.
2. Masinis dan asisten masinis tertidur.
3. Hilangnya konsentrasi, sehingga mengurangi kewaspadaan dalam memantau kondisi jalur di depan.
4. Kegagalan sistem sinyal yang menampilkan aspek yang salah (wrong side failure).
5. Penyimpangan prosedur yang menyebabkan kereta diizinkan masuk ke jalur yang masih terisi kereta lain.
6. Masalah teknis seperti rem blong, sehingga tidak mampu berhenti tepat waktu meskipun sinyal sudah terlihat.
7. Kondisi cuaca ekstrem seperti kabut tebal atau kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu jarak pandang.

Joni yang juga Ketua Bidang Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Sumsel menyatakan prihatin dan turut berduka atas kejadian yang menimbulkan kekecewaan dan ketidaknyamanan ratusan penumpang serta kerugian sarana dan prasarana.

Ia berharap kejadian ini menjadi perhatian, evaluasi, dan pembenahan bagi KAI maupun pihak terkait agar tidak terulang, serta mendorong KNKT untuk segera melakukan investigasi guna mencari penyebab secara cermat demi perbaikan transportasi yang lebih aman.

"Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, seperti pembenahan dan peningkatan pembinaan SDM, penerapan prosedur operasional yang ketat, serta memastikan keandalan sarana dan prasarana," kata Joni.

Insiden ini adalah kasus tabrakan antar kereta api kedua kalinya di tahun 2026. Sebelumnya, pada 27 April 2026 di Stasiun Bekasi Timur pernah terjadi tabrakan yang menewaskan 16 orang dan 107 orang luka-luka.

Menurut Joni, tabrakan antar kereta menjadi masalah sangat serius dan wajib diantisipasi karena ukuran dan bobot kereta yang sangat besar menghasilkan energi kinetik luar biasa saat benturan, apalagi pada KA Babaranjang yang berbobot ribuan ton.

Joni mengungkapkan ada beberapa solusi yang perlu dilakukan oleh PT KAI agar insiden serupa tidak terjadi kembali di masa depan.

1. Modernisasi Persinyalan

Sinyal mekanik di jalur tunggal memiliki kapasitas lintas rendah dan risiko human error tinggi serta proses persilangan yang lama.

2. Pembangunan Double Track

Jalur tunggal di Divre IV masih memiliki kelemahan: kapasitas terbatas, efek domino keterlambatan, waktu tempuh lebih lama, dan risiko adu banteng yg cukup tinggi.

3. Peningkatan Keandalan Pusat Kendali (PK)

Memperkuat koordinasi dan komunikasi real-time antara Pusat Kendali dengan PPKA dan masinis.

4. Manajemen Kelelahan (Fatigue Management) Kru

Audit jam kerja, waktu istirahat, serta pemeriksaan kesehatan fisik dan mental masinis sebelum bertugas.

"Pada dasarnya bisnis transportasi adalah bisnis keselamatan dan pelayanan, maka sepatutnya tidak boleh ada tabrakan kereta api. Semua pihak terkait wajib berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Joni.

"Terlepas dari semua itu, kita menunggu pihak terkait menindaklanjuti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menemukan akar penyebab teknis maupun operasional secara objektif," kata Joni.



(wsw/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads