Seorang turis tak menyangka bahwa liburannya akan berantakan karena penginapan. Diduga rasis, hotel ini tak mau terima turis.
Namanya adalah Wu, seorang turis Singapura (54) yang memesan penginapan di Ruiping Hotel di Taiyuan dari 28 September hingga 2 Oktober. Wu memesan penginapan lewat platform online, seperti dikutip dari VN Express, Kamis (22/10/2026).
Sayangnya, platform tersebut tidak mencantumkan nomor kontak atau alamat lengkap hotel. Mau tak mau, Wu mondar-mandir di area tersebut selama enam jam. Parahnya, tak membawa hasil.
Kelelahan, Wu akhirnya pasrah dan memesan kamar di properti lain di mana ia berada. Harga kamarnya SGD 58 (Rp 814 ribuan) per malam. Tak punya pilihan, ia mengistirahatkan badannya di sana.
Keesokan paginya, Wu melanjutkan pencarian hotel yang sudah ia pesan. Pantang menyerah, ia menggunakan aplikasi navigasi yang berbeda karena China hanya menggunakan platform yang berbeda dari negara lain.
Menurut laporan Shin Min Daily News, Wu berhasil menemukan Ruiping Hotel. Bagai jatuh tertimpa tangga, harapannya pupus setelah sampai di sana.
Seorang staf hotel menjelaskan bahwa hotel tersebut hanya menerima warga negara China. Ia ditolak untuk masuk.
Sedikit berdebat, Wu mengatakan bahwa daftar di platform tersebut tidak menunjukkan bahwa properti tersebut melarang tamu asing. Sadar akan kesalahan tersebut, pihak hotel memberi pengembalian dana untuk Wu.
Menanggapi Shin Min Daily News, platform tersebut mengatakan menyesalkan insiden tersebut tetapi tidak dapat mengungkapkan detail kasus individu karena alasan privasi.
Banyak pengunjung asing yang mengeluh bahwa hotel China telah menolak mereka meskipun telah melakukan pemesanan yang dikonfirmasi jika mereka tidak memiliki kartu izin tinggal tetap, sehingga mereka harus mencari kamar di tempat lain.
Undang-Undang Administrasi Masuk dan Keluar China mewajibkan hotel untuk mendaftarkan tamu asing dan melaporkan detail mereka kepada polisi setempat dalam waktu 24 jam, seperti yang dilaporkan Channel News Asia.
Beberapa properti, terutama di kota-kota kecil, menganggap proses tersebut memberatkan karena keterbatasan teknologi dan staf.
Kasus ini bukan yang pertama kalinya dialami oleh turis. Tahun lalu, ada beberapa kasus penolakan turis asing di hotel China. Salah satunya adalah kisah Alice Jiao, seorang turis yang memesan kamar di Nanjing Rest Yizhi Hotel.
Meskipun ia sudah memastikan lewat aplikasi bahwa hotel tersebut menerima tamu asing, setibanya di lokasi pada bulan Februari, ia tetap ditolak. Staf hotel berdalih mereka hanya menerima tamu asing yang memiliki kartu residensi permanen China (kartu bintang lima).
Simak Video "Video: Jurnalis Kawakan MotoGP Mengaku Ditipu Penginapan di Lombok"
(bnl/ddn)