4 Tips Penting Untuk Foto Traveling yang Keren

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

4 Tips Penting Untuk Foto Traveling yang Keren

Ari Saputra - detikTravel
Senin, 13 Jun 2016 13:30 WIB
4 Tips Penting Untuk Foto Traveling yang Keren
Perayaan Cap Go Meh di Bogor, Jawa Barat (Ari Saputra/detikTravel)
Singapura - Saat traveling, ada kalanya kita ingin membuat foto yang layak dikenang. Tips penting untuk traveler adalah mengenali lokasi pemotretan dan cari momen yang tepat.

Pemotretan yang menarik, apapun genre fotonya, akan didahului dengan kemampuan mengenal lokasi pemotretan dengan baik. Misalkan untuk pemotretan pre wedding, model, streetphotography, event budaya atau pun foto traveling, mengenal lokasi pemotretan adalah kunci sukses-tidaknya foto yang dihasilkan.

Ada setidaknya 4 tips yang bisa traveler coba untuk menghasilkan foto traveling yang berkualitas. Dihimpun detikTravel, Senin (13/6/2016), berikut 4 tipsnya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Melakukan riset terlebih dulu

Mengenal lokasi bisa dilakukan dengan melakukan riset maupun pengenalan medan terlebih dahulu. Riset dapat dilakukan di internet atau membaca literatur buku dengan berusaha mencari tahu dari titik mana foto itu dihasilkan. Termasuk mengecek perkiraan cuaca pada saat pemotretan, apakah hujan, mendung atau berlimpah cahaya matahari (sunny day).

Pengenalan medan dapat dilakukan dengan datang lebih awal, bertanya-tanya dengan masyarakat sekitar, pemandu wisata, petugas hotel, pramusaji di coffeshop atau siapapun yang bisa memperkaya pilihan-pilihan memotret.

Beberapa fotografer yang mempunyai waktu lebih longgar akan melakukan pengenalan medan dengan berkeliling kota, baik berjalan kaki atau menggunakan alat transportasi. Sementara fotografer yang mempunyai budget mencukupi biasanya menyewa fotografer lokal sebagai pemandu (fixer) untuk menunjukan spot-spot yang fotogenik dan mewakili kebutuhan.


Pilihan frame dan spot pemotretan sebelum menentukan momen dan cerita (Ari Saputra/detikTravel)

2. Mencari spot yang tepat

Dalam foto pelari di kawasan Marina Bay Sands, Singapura, saya menjepret momen tersebut setelah ke tiga kalinya ke tempat ini. Sebelumnya saya perlu berkeliling di hari yang berbeda untuk menemukan 'tata panggung' dan pencahayaan yang paling nyaman dan powerful.

Sampai akhirnya saya memilih spot dengan background gedung tinggi dan framing berupa siluet gedung Art Science Museum. Kemudian saya ambil bidang komposisi seperti yang dihasilkan dengan menunggu momen sekitar 5 sampai 10 menit sampai pelari lewat.

Saya berharap komposisi dan momen tersebut mampu mewakili cerita tentang negara Singapura yang terus bergerak maju, moving forward.


Pelari melintas di kawasan Marina Bay, Singapura (Ari Saputra/detikTravel)

3. Cari spot yang tinggi bila suasana ramai

Trik serupa saya lakukan pada pemotretan perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor. Yakni dengan mencari spot tinggi untuk memotret suasana perayaan yang kolosal dan megah. Tempat itu tidak lain di salah satu ruko di Jalan Surya Kencana, di sebuah titik yang tidak jauh dari garis start arak-arakan.

Sebab, selepas titik ini matahari sudah semakin gelap. Perayaan Cap Go Meh di Bogor memang selalu dimulai sore hari menjelang Maghrib. Selain itu, jika memotret jauh dari garis start di Vihara Dhanagun, biasanya peserta sudah kelelahan dan terpecah oleh penonton sehingga gambar kurang kolosal dan ekpresif.


Cap Go Meh di Bogor, Jawa Barat (Ari Saputra/detikTravel)

4. Bertanya kepada warga lokal

Kebiasaan yang saya lakukan yakni bertanya letak matahari terbit dan titik sunset kepada sopir taksi yang ditumpangi dari bandara atau petugas hotel. Saat di negara-negara empat musim, biasanya ada pertanyaan tambahan soal perlintasan matahari yang dilalui sepanjang hari. Tidak lain untuk mencari tahu perkiraan jatuhnya bayangan matahari dan kekuatan exposure.

Ketika traveling ke Zurich, Swiss saya bertanya soal posisi matahari ke petugas hotel. Terdengar sepele namun sangat bermanfaat untuk memperkirakan bayangan dan matahari tenggelam. Traveler juga bisa melakukan hal yang serupa dengan apa yang saya lakukan.

Sehingga pukul 4 sore pada awal musim dingin saya sudah dapat memotret bayangan panjang matahari layaknya di negara tropis pukul 5 atau 6 petang. Beberapa hari sebelumnya saya kehilangan momen tersebut karena lupa bertanya ke petugas hotel lalu keluar kamar pukul 18.00 dan menemukan suasana kota sudah gelap!

Dengan langkah sederhana tersebut, mengenali lokasi, mencari spot pemotretan yang menarik, membingkai komposisi dan menunggu momen, aktivitas memotret dijamin lebih lancar, tidak panik dan mudah dilakukan. Alhasil, fotografer tidak lagi direpotkan dengan kendala teknis sehingga bisa fokus pada narasi, pesan dan drama yang ingin disampaikan secara nyaman dan menghibur.

Turis di Weinbergstrasse, Zurich pukul 16.00, matahari terbenam lebih cepat di musim dingin (Ari Saputra/detikTravel)

(wsw/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads