Tips Dapat Foto Bagus Saat Traveling: Berburu Momen, Bukan Cuma Pose

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tips Dapat Foto Bagus Saat Traveling: Berburu Momen, Bukan Cuma Pose

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Rabu, 28 Jan 2026 14:39 WIB
Tips Dapat Foto Bagus Saat Traveling: Berburu Momen, Bukan Cuma Pose
Foto travel (ari saputra)
Jakarta -

Foto traveling bukan hanya soal pose sempurna, tapi momen. Simak tips fotografer mulai dari menangkap cahaya, ekspresi, dan cerita di balik foto yang terlihat sederhana.

Di era media sosial yang dipenuhi foto serba rapi dan pose yang nyaris seragam, fotografi justru kembali ke akarnya menangkap momen. Bukan soal kamera mahal atau lokasi ikonik, melainkan kepekaan membaca waktu, cahaya, dan ekspresi manusia.

Bagi fotografer, foto yang kuat sering kali lahir dari situasi sederhana bahkan acak. Menurut mereka memfoto objek adalah tentang momennya. Prinsip seperti itu banyak dipegang oleh sebagian fotografer ketika membidik objek mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ari Saputra, seorang fotografer detikcom, membagikan tips dan trik untuk mendapatkan hasil bidikan yang sempurna.

"Kalau mau foto, pastikan dulu momennya pas, ekspresinya bagus, lightingnya oke, kalau udah, langsung aja jepret jepret jepret," ujarnya kepada detikTravel, Rabu (28/1/2026).

ADVERTISEMENT

Dari informasi yang dibagikan Ari, berikut detikTravel rangkum tips untuk mendapatkan hasil foto yang bagus ala fotografer.

Tips Foto Traveling dari Fotografer

1. Pagi dan Sore, Waktu Emas Fotografi

Ketepatan waktu menjadi faktor krusial dalam fotografi. Ari menyarankan keluar di pagi dan sore hari untuk mendapat momen terbaik dalam memotret. Menurutnya memotret di pagi dan sore hari memungkinkan detikers mendapat pencahayaan yang pas.

"Kalau mau dapat foto bagus, keluar dari pagi-pagi banget, atau sore sekalian. Jangan keluar pas siang, karena pencahayaannya jelek," kata Ari.

Pada pagi hari, cahaya matahari masih lembut dan cenderung hangat. Bayangan tidak terlalu keras, warna tampak lebih natural, dan suasana cenderung lebih tenang. Nah pemandangan ini sangat ideal untuk memotret lanskap, arsitektur, hingga potret manusia.

Sementara itu, sore hari terlebih menjelang matahari terbenam menawarkan pemandangan yang dikenal sebagai golden hour. Cahaya keemasan yang muncul secara singkat ini memberi dimensi dramatis pada foto, menciptakan siluet, dan mempertegas tekstur objek.

Sebaliknya, siang hari sering kali menjadi tantangan. Matahari berada tepat di atas kepala, menghasilkan bayangan keras dan kontras ekstrem.

Wajah objek bisa terlihat terlalu terang di satu sisi dan gelap di sisi lain. Karena itu, banyak fotografer memilih "skip" memotret di jam ini, kecuali dalam kondisi atau konsep tertentu.

2. Membaca Momen Sebelum Menekan Rana

Fotografi bukan soal cepat-cepatan menekan tombol, melainkan membaca situasi. Fotografer yang berpengalaman akan memperhatikan banyak hal dalam hitungan detik mulai dari pencahayaan, latar belakang, ekspresi, hingga pergerakan subjek.

Sebelum memotret, fotografer biasanya mengamati beberapa hal seperti arah cahaya datang, latar belakang mendukung atau tidak, ekspresi apa yang akan muncul, dan cerita dibalik adegan tersebut. Dan ketika momen terasa pas, barulah rana ditekan.

3. Momen Lebih Penting dari Teknik Sempurna

Dalam praktiknya, Ari mengakui bahwa foto yang bagus tidak selalu sempurna secara teknis. Fokus bisa sedikit meleset, framing tidak sepenuhnya simetris, atau komposisi tampak spontan. Namun justru di situlah kekuatannya.

Dalam satu sesi memotret, bisa saja diambil puluhan hingga ratusan gambar. Tidak semuanya bagus, tapi hampir selalu ada satu foto yang menonjol.

"Kalau mau jepret jangan ragu, jepret-jepret aja, random. Saya juga biasanya dari 10 foto yang dijepret pasti ada satu atau dua yang menonjol dan bisa dipakai," ujar Ari.

Ari menjelaskan satu hal penting dalam fotografi yaitu jangan terlalu takut salah. Fotografi adalah proses coba-coba. Dari 10 foto, mungkin hanya satu yang benar-benar kuat dan itu sudah lebih dari cukup.

4. Memotret Secara Acak, Tapi Terkonsep

Istilah "random" dalam fotografi bukan berarti asal-asalan. Dalam hal ini random bisa berarti tidak terlalu kaku pada rencana, tapi tetap sadar dengan apa yang terjadi di sekitar.

Fotografer sering memotret hal-hal kecil yang terlihat sepele: orang berjalan, cahaya memantul di dinding, ekspresi singkat di wajah seseorang, atau gerakan tangan yang tak disengaja.

Foto-foto seperti ini mungkin tidak direncanakan, tapi justru menyimpan emosi dan kejujuran yang sulit dibuat-buat.

5. Jangan Menyerah Hanya Karena Hasil Awal Jelek

Salah satu kesalahan paling umum bagi pemula adalah berhenti memotret karena merasa hasilnya jelek. Padahal, fotografer profesional pun melewati fase yang sama.

Alih-alih berhenti, fotografer justru disarankan untuk tetap memotret dan fokus pada proses. Setiap foto yang gagal tetap memberi pelajaran: soal cahaya, sudut, atau timing.

"Intinya harus konsisten, jangan karena hasil awal jelek malah nggak ngambil foto. Itu jelas salah," kata Ari.

Semakin sering memotret, insting akan terbentuk. Mata akan semakin peka membaca momen. Dan perlahan, foto yang diambil akan meningkat dengan sendirinya.

6. Fotografi sebagai Latihan Kepekaan

Lebih dari sekadar keterampilan teknis, fotografi adalah latihan kepekaan. Peka terhadap cahaya, ruang, emosi, dan cerita di sekitar.

Dengan keluar pagi atau sore hari, memperhatikan momen, berani mengambil foto meski belum yakin hasilnya, serta tidak mudah menyerah, fotografer belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Ulik Fitur Baru iPhone 16: Camera Control & Photographic Styles!"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads