Saya dan Rainer Oktovianus mengunjungi Pulau Kemaro pada hari Selasa, 5 Oktober 2010. Dari kejauhan, kami bisa melihat sebuah klenteng yang menjadi garda depan pulau dan sebuah pagoda yang menjulang tinggi di antara pepohonan besar. Di sanalah saya dan rekan petualang bertemu Mak uwo Tuminah dan cucunya, Siti Rahma.
Di bawah pohon rindang yang menyejukkan udara, Mak uwo Tuminah menceritakan sedikit kisah tentang pulau ini. Pulau Kemaro terletak di tengah-tengah Sungai Musi, berjarak sekitar 5 km dari jembatan Ampera. Kemaro sendiri berasal dari kata kemarau, yang artinya pulau yang tidak pernah tergenang air dalam kondisi apapun, tak terkecuali dalam keadaan air pasang besar sekalipun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pulau ini sepi sekali, hanya ada tiga rumah. Saya dan keluarga, seorang perempuan dan kelurganya, dan pemilik ketek (perahu kayu) yang suka mengantar kami ke pasar di kota. Banyak yang berkunjung hanya untuk sekedar foto-foto atau ya jalan-jalan saja dari pagi sampai sore. Mungkin karena tempatnya tenang dan rindang, jadi bisa buat santai." kata Mak Uwo yang sehari-harinya lebih banyak bermain bersama cucu tersayang.
Itulah mengapa akhirnya saya menyebut Pulau Kemaro sebagai surga bagi pemeluk agama Budha dan sebagai sumber ketenangan batin. Bukan hanya untuk ibadah saja, Pulau Kemaro menjadi magnet wisata Sumatera Selatan karena memberikan keteduhan bagi jiwa maupun raga siapa pun yang datang berkunjung. Jangan sampai lewatkan tempat ini kalau anda ke Palembang ya! (@lucianancy)
(gst/gst)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Terpopuler: Pendaki Bawa Sapi ke Gunung Rinjani untuk Disembelih,Berujung Dikecam