Hari Sabtu, tanggal 23 Oktober 2010 adalah hari dimana kami harus meninggalkan Sumba - sebuah pulau dimana Anda dapat menemukan kombinasi pas antara gunung, lembah, sawah, padang rumput, sungai, pantai, laut dan langit biru. Kami sudah mempersiapkan diri sejak pukul 10.00 WITA karena jadwal penerbangan dari Tambaloka ke Ende adalah pukul 12.15 WITA. Barang-barang dikemasi ke dalam tas dan perut pun sudah terisi penuh dengan makanan pagi dari tempat kami bermalam selama 4 hari karena tidak ada kamar yang tersisa lagi di Waikabubak. "Fully-booked." itu ucap setiap penjaga hotel di Waikabubak yang kami datangi.
Pukul 11.00 WITA, kami sudah berada dalam perjalanan menuju Bandara Tambolaka. Beruntungnya kami menginap di Hotel Sinar Tambolaka karena mendapatkan free-airport transport, yang artinya pihak hotel mengantar kami ke bandara tanpa harus membayar sepeserpun dan begitu sebaliknya. Perjalanan ke bandara membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan menggunakan mobil.
Lama penerbangan Tambolaka ke Ende membutuhkan waktu 15 menit saja. Sudah dapat diperkirakan bahwa pukul 13.00 WITA, kami tiba di Ende dengan selamat. Namun tampaknya keberuntungan tidak berpihak kepada kami. Untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya, pesawat tidak dapat mendarat dikarenakan cuaca buruk. Memang saya melihat langit biru dan cerah tergantikan seketika oleh awan gelap dan hitam. Saya hanya memejamkan mata dan berharap bahwa pesawat dapat mendarat dengan mulus di Ende.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Kupang? Alamak. Yang bener aja! Kenapa jadi begini?" pikir saya panik, sembari memikirkan jadwal perjalanan yang bakalan hancur berantakan karena efek domino. Komodo! Jangan sampai saya tidak dapat menyelam di sana.
Akhirnya pukul 13.00 WITA, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara El Tari Kupang. Dengan sigap, saya keluarkan kamera walau hujan rintik menyambut di luar pesawat. Tentu saja, saya tidak ingin melewatkan moment untuk berfoto di Tanah Timor. Usai mengabadikan diri, kami segera melapor dibagian Transit. Kami diminta untuk menunggu selama 30 menit dan diberi sebuah kupon untuk beristirahat di Transnusa Lounge sambil menunggu pesawat selanjutnya ke Ende.
"Tadi itu hampir tergelincir lho, untung saja pilot langsung bereaksi cepat ketika dia merasa tidak mampu mendaratkan pesawat karena jarak pandang yang pendek." ucap Pak Yoakim sembari mengunyah mienya dengan lahap. "Keputusan yang bijak." lanjutnya lagi.
"Masa sih, Pak?" tanya saya terkejut. Terkejut dan tidak percaya karena jika pilot salah mengambil tindakan, tentu sesuatu yang lain akan terjadi. Tuhan memang melindungi perjalanan kami.
Panggilan pun tidak kunjung tiba, sehingga kami memutuskan untuk pergi ke loket Transnusa. Ternyata pesawat ke Ende dialihkan menjadi esok hari dengan penerbangan pada pukul 06.00 WITA pagi, yang artinya kami harus menginap di Kupang. Senang karena dapat berkeliling di Kupang walau sesaat dan sedih karena jadwal perjalanan terhambat.
Namun tiba-tiba ada seorang bapa yang berteriak, "Mba, Wings Air menjadwalkan penerbangan ke Ende sore ini karena cuaca cerah kembali. Dapatkah kami mengembalikan tiket dan mengantikannya dengan Wings Air?"
Lagi-lagi, saya harus mengucapkan syukur kepada Tuhan karena begitu besar kasih-Nya sehingga mengizinkan kami melanjutkan perjalanan. Tiket dapat ditukar dan kami pun dapat tersenyum lebar di pesawat Wings Air dengan tujuan Ende pada pukul 14.30 WITA.
"Selamat tinggal Tanah Timor, semoga kita dapat berjumpa kembali di lain kesempatan. Selamat datang kembali Ende." ujarku dalam hati.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas