Dahulu Kepulauan Wakatobi disebut sebagai Kepulauan Tukang Besi karena banyak warga kepulauan ini yang mengolah besi sebagai mata pencaharian mereka. Spesialisasi kerajinan mereka adalah parang Binongko yang juga sudah diekspor keluar pulau. Sekarang, hanya tinggal sebagian kecil warga kepulauan yang memegang profesi itu. Kebanyakan berevolusi sesuai dengan berkembangnya industri dan tumbuhnya sumber-sumber perekonomian baru.
Bagi sebagian besar penduduk provinsi ini, menjadi PNS adalah pilihan pertama. Alasan utama adalah demi kestabilan pemasukan bagi keluarga. Alasan lain adalah karena mereka kurang nyaman berprofesi sebagai sebagai pedagang. Meskipun dikelasduakan, tetapi mulai banyak individu yang cukup percaya diri untuk terjun sebagai wirausahawan. Beberapa contoh yang terkenal adalah Ibu Wa Opa dan Ibu Wania. Mereka memberdayakan diri serta kelompok wanita di desanya untuk menghasilkan kerajinan tangan, yaitu kain tenun dan nentu. Pemerintah juga turun andil dengan peranannya di Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional). Dewan inilah yang menjadi mediator pemasaran dari para pengrajin di tingkat desa dengan para konsultan bisnis dan pembeli di kota. Kolaborasi yang berhasil karena sekarang wanita-wanita desa tersebut mandiri dan mulai dikenal publik.
Sisanya, mereka sebagian besar bergerak di bidang agraris dan perikanan. Wakatobi terkenal sebagai tempat asimilasi antara suku Bajau dengan suku Buton. Bahkan presiden Suku Bajau Sedunia sekarang ini berasal dari Suku Bajau yang tinggal di Mola, Wangi-wangi. Sebagai suku pelaut yang terkenal, tentunya bisa ditebak bahwa sumber pencaharian mereka adalah dengan menjadi nelayan. Namun, seiring dengan berkembangnya konsep konservasi, banyak juga diantara mereka yang mulai menjadi petani rumput laut atau agar-agar. Apabila kita lewat perairan Kaledupa dan Hoga kita akan melihat banyak sekali plastik mengapung. Jangan salah, itu bukan sampah. Itu adalah pelampung tali tempat agar-agar hidup. Bisa puluhan meter terbentang dibawah sana. Sayangnya saat kami mampir di sana kemarin, panen agar-agar sedang tidak baik. Akhirnya mereka banting setir menjadi petani ubi kayu dan kopra. Apabila suplai kelapa kurang, misalnya seperti di Desa Ollo--Kaledupa, akhirnya mereka banyak yang merantau ke luar negeri. Sayangnya karena tingkat pendidikan yang kurang, rata-rata mereka hanya menjadi buruh kasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi
Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung Ditarik ke Politik, Jokowi: Nggak Nyambung