Menjelang siang kami sudah siap dengan speed boat yang akan mengantar kami sampai Lanjak. Kembali duduk di paling depan, saya terus memperhatikan sekitar. Kata pemandu sih kami kadang melintasi sungai, kadang juga danau. Tapi jujur saya tidak dapat membedakan yang mana danau dan yang mana sungai. Semuanya beradu menjadi satu. Kalaupun saya bisa mengendarai speed boat maka saya tidak yakin bisa lolos dari tempat itu. Saya bingung.
Semakin lama berada di speed boat, tiba-tiba saya seperti berada di tengah lautan luas. Danau yang kami lewati itu berombak dan jauh dari garis tepi. Di danau itu saya melihat tumbuhan setinggi satu sampai tiga meter. "Saya pernah lewat sini dengan motor lho, Non," kata Darius (28), pemandu kami, dengan logatnya yang khas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya memang begitu. Tapi sudah setahun terendam karena curah hujan tinggi dan merata," jelasnya lagi.
"Beberapa hari yang lalu sebelum kalian datang banjirnya lebih parah sampai pohon-pohon ini tidak terlihat ujungnya,"tambahnya.
Entah kami bisa dikatakan beruntung atau celaka. Kami datang di saat banjir sedang melanda, tapi di sisi lain banjir ini memberi kami sebuah pengalalam tak terlupakan, yakni berspeedboat di atas hutan. Dan lagi banjir ini membuat kami tiba beberapa jam lebih cepat di Lanjak karena tidak perlu memutar terlalu jauh.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bule Swiss Ejek Nyepi di Bali, PHDI Buka Suara
Duh, Bule Hina Perayaan Nyepi di Bali Melalui Media Sosial