Kalimantan Barat - Waktu menginap di rumah betang Ensaid Panjang saya ingin sekali membeli gelang manik-manik yang mereka buat. Meskipun banyak kerjainan manik-manik di kota tempat saya tinggal, saya tetpa ingin membelinya karena motifnya berbeda. Awalnya saya minta dibuatkan, tapi si ibu berkata tidak sanggup membuat gelang dalam waktu semalam. Saya sedikit kecewa, tapi saat melihat anaknya ikut menari dengan memakai gelang saya berinisiatif membeli gelang tersebut. Dengan sedikit memaksa akhirnya saya mendapatkan gelang itu dengan harga 30.000 rupiah.
Harga gelang tersebut masih terngiang-ngiang sampai beberapa hari berikutnya. Kemudian saya datang ke rumah betang Sungulo Apalin. Rupanya di sana saya juga melihat gelang manik-manik yang lucu yang dipatok dengan harga yang sama.
"Kasihan neneklah, sudah tua," rayu seorang penjual pada saya. Karena tidak tega, dan karena saya memang suka dengan gelangnya maka saya pun membeli gelang tersebut dengan harga 25.000 rupiah. "Sama mahalnya," pikir saya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hari terakhir perjalanan, saya berburu gelang manik-manik di Pontianak. Di sana saya menemukan macam-macam gelang dengan patokan harga 10.000 rupiah. Saya pun membeli satu untuk saya bawa pulang ke Surabaya. Di rumah, setelah saya perhatikan rupanya ketiga benda ini berbeda. Dua gelang yang saya beli dari suku Dayak ternyata lebih bagus daripada gelang yang di Pontianak baik dari segi kerapian maupun pemilihan benang. Saya jadi menyesal telah berpikir bahwa gelang itu terlalu mahal.
(gst/gst)
Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?