Karanganyar, Kampung Tenun yang Tersisa di Tasikmalaya

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Karanganyar, Kampung Tenun yang Tersisa di Tasikmalaya

Erliana - detikTravel
Senin, 18 Mei 2026 15:25 WIB
Beragam motif kain tenun Mardian Putra
Karanganyar, Kampung Tenun yang Tersisa di Tasikmalaya
Tasikmalaya -

Menyibak halimun di lereng gunung Karaha, terdengar nada ritmis alat tenun bukan mesin yang menyambut pengunjung setiap hari. Inilah Karanganyar, satu-satunya sentra tenun sutra yang tersisa di Kabupaten Tasikmalaya.

Kampung Karanganyar terletak di Desa Cipondoh Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya. Dari kampung nan tenang inilah, gemulai tangan terampil berpadu dengan alat tenun kayu yang menghasilkan lembaran kain sutra buatan rumahan.

Pengunjung bisa melihat dan belajar menenun langsung dari para perajin yang setia menjalani profesi ini dengan penuh kesabaran. Walaupun diproses di balik bangunan berdinding anyaman bambu sederhana, namun kain sutra Karanganyar menjadi langganan designer fashion terkemuka di Indonesia, seperti Itang Yunasz dan Wigyo Rahardi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Para maestro yang berfokus pada wastra nusantara, selalu memakai kain sutra home made kampung ini karena motifnya yang unik dan kualitas kain yang nyaman dipakai.

Seperti motif sulam, bulu, bulu bata dan organdi. Menurut Kholip selaku ketua kelompok perajin tenun sutra Mardian Putra, jumlah pesanan terus mengalir karena adanya diversifikasi produk.

Selain menenun sutra, mereka juga mulai memodifikasi tenun di kain katun dan piskot, bordir serta lukisan tangan. Diversifikasi ini menyesuaikan permintaan pasar yang semakin kesulitan mendapatkan produk berkualitas dengan harga terjangkau.

"Selain untuk menekan biaya produksi agar lebih kompetitif, diversifikasi ini memungkinkan perajin menciptakan tekstur baru, seperti kain yang lebih tebal untuk pakaian pria atau kain yang sangat ringan untuk aplikasi bordir khas Tasikmalaya. Karena hanya kami yang tersisa masih nenun di Tasikmalaya ini," ungkap pria berusia 54 tahun ini, saat ditemui Kamis (14/5/2026).

Kholip benar, memang hanya Kampung Karanganyar yang masih setia dan telaten merawat tenun sebagai ladang penghasilan utama. Kampung-kampung lain di Tasikmalaya, memilih beralih ke pekerjaan lain karena sulitnya mendapatkan benang sutra dengan permodalan yang terbatas. Mereka hanya mengenang masa kejayaan tenun sutra Tasikmalaya di era tahun 2000 an sebagai kenangan.

Saat dimana Kecamatan Sukaresik terkenal sebagai penghasil kepompong terbesar di Tasikmalaya. Mampu memenuhi kebutuhan benang sutra bagi perajin tenun kain sutra wilayahnya sendiri, bahkan dikirim ke Garut.

Namun kejayaan itu runtuh ketika pengiriman stok telur ulat sutra dari produsen di Sulawesi dan Jateng terhenti. Perajin tenun sekarang bergantung stok benang sutra dari China.

Padahal aktivitas menenun ini mampu memutus rantai urbanisasi yang dulu menjadi budaya warga setempat. Banyak pemuda kemudian pulang kampung untuk belajar menenun dan mendapatkan penghasilan di atas upah layak Kabupaten Tasikmalaya. Dari penghasilan menenun ini, mereka mampu menaikkan derajat ekonomi keluarganya dan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Sekarang anak sini rata-rata lulus SMA. Kami di kampung ini belajar disiplin menata penghasilan. Anak-anak muda yang pulang kampung, saya ajarin gimana keuntung disisihkan jadi modal dan balik jadi kain. Kami tidak mengandalkan pinjaman dari lembaga perbankan. Jadi modal yang ada dibelanjakan benang, di tenun, lalu kainnya dijual," paparnya.

Kholip bersyukur, kain tenun yang mereka kerjakan sekarang merupakan pesanan dari para pelanggan. Mereka tidak kesulitan menjual kain hasil tenunan harian. Justru, kapasitas kain sutra hasil produksi mereka belum mampu memenuhi permintaan para pelanggan yang terus berdatangan.

Bersama beberapa orang tua yang menjadi anggota kelompoknya, Kholip sepakat menjadikan ketrampilan tenun ini sebagai warisan generasi mendatang.

"Kami sepakat meneruskan ketrampilan tenun kepada anak cucu kami. Karena hasilnya sudah bisa dinikmati, bisa dapat penghasilan dari kampung sendiri. Kami juga tidak segan membagikan sebuah ilmu menenun ini kepada para pengunjung yang bertandang ke rumah produksi tenun di kampung ini," jelas Kholip.

Rumah produksi Kholip, terbuka lebar bagi siap terbuka lebar bagi siapapun yang bertandang untuk belajar menenun. Dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) pengunjung bisa belajar dari awal ketrampilan ini dengan motif paling mudah seperti motif bata, hingga yang paling sulit seperti motif kombinasi dengan bordir dan sejenisnya.

Selain bisa belajar menenun, pengunjung yang belanja kain sutra di sini tentu mendapatkan harga di bawah harga online atau pasaran, karena langsung dari produsen.

Sekarang tak hanya kain sutra yang dijual seharga Rp 1,5 juta untuk ukuran kain lebar 1,5 meter dan panjang 2,5 meter. Namun tenun katun atau piskot bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp 300 ribu per lembar dengan ukuran sama.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads