NBC Obyek wisata Holi’amaeta So'arowiga, di Desa Hilinakhe, Kecamatan Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli, merupakan obyek wisata yang dikenal sejak tahun 1990-an, meskipun oleh sebagian kecil warga. Padahal, jaraknya hanya sekitar 6 kilometer dari Kota Gunungsitoli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Anda yang baru pertama kali ke tempat ini mungkin akan merasa kesulitan menemukan Holi’amaeta So'arowiga karena petunjuk untuk menuju ke tempat tersebut hanyalah papan bertuliskan nama dan arah So'arowiga, seperti yang tertulis di persimpangan Jalan Fali’era, Desa Hilinakhe.
Tak ada ciri khusus yang menandai tempat ini. Akan tetapi, jangan khawatir. Dengan rajin bertanya kepada setiap penduduk yang dijumpai, pengunjung pasti akan sampai ke tempat itu.
NBC yang datang ke Holi’amaeta So'arowiga mendapat bantuan warga setempat, Ama Epi Zebua (50). Dari cerita Ama Epi, nama So'arowiga berarti kumpulan batu-batu melengkung yang mirip seperti piring. Bersama kedua anaknya, Titi (11) dan Zafi (8), NBC diantar ke kawasan yang ternyata merupakan sebuah puncak.
Dengan berjalan kaki sekitar 1 kilometer, menyusuri jalan berbatuan dan mendaki, NBC pun sampai tempat di ketinggian itu. Saat tiba di puncak, yang terlihat hanyalah hamparan ilalang. Sesungguhnya seperti tak ada hal yang mengesankan.
Dari informasi yang diperoleh NBC dari pemilik lahan, Ama Haikal Zebua (38), yang kebetulan saat itu berada di lokasi, tempat itu memang sebelumnya pernah ramai dan dijadikan sebagai tempat wisata. Tetapi, pascagempa tahun 2005, kawasan ini mati suri, sudah jarang dikunjungi dan tidak terurus lagi. Tidak mengherankan jika tempat itu ditumbuhi semak-semak. “Sementara, sekarang hanya digunakan untuk tempat bermain anak-anak atau tempat berkumpul bersama dengan teman-teman saya,” kata Ama Haikal.
Lalu, di mana batu-batu melengkung seperti yang diceritakan Bapak Ama Epi?
“Di bawah ilalang inilah semua, sudah tidak kelihatan lagi,” ujar Ama Haikal sambil mengajak kami memasuki kawasan yang dipenuhi ilalang itu. Saat ilalang disibakkan akan kelihatan beberapa batu yang melengkung, tetapi bentuknya tidak seperti piring. “Dulu memang banyak tapi, ya …mungkin, namanya masyarakat, ada yang tertarik jadi diambil, akhirnya lama-lama jadi habis,” tuturnya.
Potensi Wisata
Ternyata, tak hanya batu yang menyerupai piring, Holi’amaeta So'arowiga memiliki potensi lainnya yang menarik untuk dilihat, antara lain dari atas puncak kita dapat melihat pemandangan laut dan pusat Kota Gunungsitoli. Sungguh mengasyikkan sebegai tempat menenangkan diri.
Selain itu, ada pula sumber mata air pegunungan yang jernih dan bisa langsung dikonsumsi, goa kecil, dan sebuah batu megalit (gowe). Sayangnya, penulis tidak dapat memotret ketiga obyek itu karena sang pemilik tanah enggan menunjukkannya dengan alasan yang berbau mistik.
Masyarakat di sana percaya bahwa ketiga tempat tersebut, terutama gowe, merupakan tempat yang sakral dan tidak bisa sembarangan dikunjungi. Agar dapat menuju ke sana, pengunjung harus ditemani oleh para tetua desa yang memiliki kemampuan untuk menangkal pengaruh buruk bagi pengunjung saat mendatangi tempat tersebut.
Menurut Ama Haikal, puncak Holi’amaeta So'arowiga dulunya merupakan tempat tinggal nenek moyang masyarakat Desa Hilinakhe yang mayoritas bermarga Zebua. Konon, menurut cerita para orangtua, sebelum berkembang menjadi seperti sekarang ini, Desa Hilinakhe dihuni oleh seorang raja yang memiliki sebuah rumah adat tradisional Nias. Namun, entah kenapa, tiba-tiba saja rumah tersebut tenggelam ditelan oleh bumi sehingga mengharuskan raja tersebut bersama keluarganya mencari tempat tinggal.
Akhirnya, sang raja memutuskan untuk mendirikan tempat pemukiman di puncak Holi’amaeta So'arowiga dengan mendirikan sebuah gowe sebagai tanda bahwa tempat itu sudah pernah dijadikan sebagai pemukiman. “Di sini dulu saya sudah membangun beberapa pondok, meskipun hanya seadanya saja karena angin yang bertiup di atas puncak ini sejuk sekali jadi sangat bagus dijadikan sebagai tempat beristirahat,” ujar Ama Haikal.
Menunggu Investor
“Untuk mengelola obyek wisata ini kan memerlukan dana yang besar, mulai dari akses jalan dari bawah menuju ke puncak serta fasilitas bagi pengunjung setibanya di sini,” ujar Ama Haikal.
Langkah awal untuk membangkitkan kembali obyek wisata ini, kata Ama Haikal, adalah dengan melakukan pembersihan lahan dari rerumputan dan pepohonan yang tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit.“Terakhir tahun 2010 dibersihkan anak PKLM dari IKIP Gunungsitoli. Belum sampai setahun saja keadaannya sudah seperti ini,” katanya lagi.
Hal itu sudah pernah disampaikan, baik melalui kepala desa maupun camat, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas mengenai bagaimana kelangsungan pengelolaan obyek wisata tersebut. “Kalau tidak dari pemerintah daerah, mudah-mudahan ada investor yang mau menanamkan modalnya untuk memajukan tempat ini,” Ama Haikal berharap.
Untuk membangkitkan kembali daerah pariwisata yang terlupakan itu ia pun menyatakan kesiapsediaannya untuk bekerja sama dengan pemerintah atau investor dalam mengelola So'arowiga dengan syarat ada perjanjian kontrak. [ANOVERLIS HULU]
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Setuju?
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
Di Belgia Ada Kompetisi Tiru Suara Burung Camar, yang Paling Mirip Jadi Juara