Ketika berjalan menuju kawah mataku sudah takjub melihat alam sekeliling. wew.............serasa seperti musafir di tengah padang savana...batinku. Paduan perdu liar dengan warna-warni elok yang tersebar di antara hamparan pasir dan tanah merah yang pecah dan asap tipis yang mengepul di kejauhan sungguh panorama pagi yang elok.
Sepanjang perjalanan mas Dwi...guide dan kini menjadi sahabat baikku bercerita tentang Kawah Sikidang dan peristiwa yang menyertainya dari waktu ke waktu. Termasuk tentang cerita pasangan yang pernah terjun ke dalam kawah dan ketika diangkat hanya tinggal tulang belulang. Merinding dan bergidik aku mendengar nya sekaligus takjub dengan keadaan sekeliling.
Semakin takjub lagi ketika semakin mendekat dengan bibir kawah. Tampak kepulan asap yang terasa panas menyentuh pipiku serta letupan-letupan kecil yang tak pernah lelah terus dan terus.
Ku telan ludah sambil berujar.......Matur nuwun Gusti sudah memberi kesempatan padaku melihat keindahan ciptaanMu yang lain.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'