Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung terindah yang dimiliki negara kita. Kemasyhurannya tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke mancanegara. Tidak heran jika kita mendaki gung tersebut, kita akan lebih sering bertemu dengan pendaki asing dibandingkan dengan pendaki lokal. Kali ini saya akan memulai cerita keindahan alam taman nasional Gunung Rinjani dari jalur pendakian bagian timur, yaitu jalur Sembalun.
Jalur Sembalun menurut banyak orang merupakan jalur yang lebih cepat untuk sampai puncak dibandingkan dengan jalur Senaru yang lebih familiar oleh para pendaki. Perjalanan kami mulai melalui desa Bawak Nau, karena menurut teman yang menjadi guide kami jika lewat desa itu kita bisa hemat waktu 2 jam dibandingkan dari gerbang sembalun. Ketika akan berangkat kami melihat gerombolan sapi berarak bagaikan sedang karnaval di jalan utama desa. Saya sempat kaget, melihat begitu banyak sapi di jalan umum. Ternyata sapi-sapi tersebut adalah punya warga di desa tersebut dan sedang digembala oleh seorang gembala sapi. Ya satu orang gembala sapi, tidak lebih, menggembala sekitar 50 sapi. Hal ini cukup menarik karena sang gembala bisa menjaga begitu banyak sapi dengan hanya seorang diri.
Berdoa sebelum memulai perjalanan panjang kita lakukan. Awal perjalanan kita melewati rumah penduduk dan perkebunan sayur penduduk. Setelah keluar dari perkebunan kita akan disuguhkan pemandangan menakjubkan dari istana Sang Dewi Anjani. Gunung Rinjani yang begitu gagah berdiri tegap dengan diselendangi awan putih pada hamparan langit nan biru semakin melecut semangat kita untuk bisa sampai ke puncaknya. Hamparan padang savana di jalur ini mengingatkan saya seperti lingkungan perumahan di serial anak teletubbies yang sempat 'booming' sekitar tahun 2000-an awal. Jajaran padang rumput yang seperti tiada bertepi dan konturnya yang berbukit, benar-benar seperti tempat bermain Tinky Winky dan kawan-kawan. Namun tentu saja di tempat ini pemandangannya jauh lebih indah.
Sempat memasuki hutan sekitar setengah jam, lagi-lagi kita berhadapan dengan savana berbukit. Namun pada kesempatan ini kita bertemu dengan sapi-sapi yang tadi kita temui di desa yang sedang asik menyantap rumput di tanah lapang dan bapak gembala sapi yang sedang beristirahat. Kami sempat istirahat sebentar disitu. Menurut Bang Gmok, yang menjadi 'guide' kami, walaupun sapi yang digembala banyak, sang gembala tidak akan lupa satu per satu sapinya. Dan walaupun sapi-sapi itu berpencaran di savana yang luas, mereka akan berkumpul jika sang gembala memanggilnya. Tampaknya kemampuan memanggil sapi tersebut adalah sebuah keterampilan yang tidak sembarangan yang dimiliki gembala tersebut. Jika sapi sudah dipanggil, maka sapi-sapi tersebut akan menghampirinya dan jika masih ada sapi yang belum kumpul, maka gembala itu pasti akan mengetahuinya. Sepertinya sudah ada hubungan antara sapi-sapi tersebut dengan gembalanya. Tidak salah jika saya menyebut gembala sapi itu adalah "Sang Gembala Sakti", karena kemampuannya tidak dimiliki semua orang bahkan orang yang biasa menggembala sekalipun.
Perjalanan pun kami lanjutkan dengan terus naik turun 'bukit teletubbies' alami yang ternyata lebih luas dibanding 'bukit teletubbies' di serial tv. Cuaca yang tidak terlalu terik membuat perjalanan terasa lebih ringan. Menurut saya, jika anda ingin menggapai puncak Gunung Rinjani lebih cepat, ada baiknya anda memilih jalur Sembalun yang lebih landai namun tidak kalah menarik dibandingkan jalur lainnya. Siapa tahu anda bisa bertemu "Sang Gembala Sakti" di hamparan "Komplek Teletubbies" alami yang hijau dan begitu mengagumkan.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Potret IKN Dikembangkan Jadi Destinasi Wisata Berkelanjutan, Jadi Ibu Kota 2028