"Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya."
Itulah kutipan salah satu kalimat di buku Bumi Manusia karangan sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer. Hari ini, tepat enam tahun Pram meninggal dunia. Tapi eksistensi Pram, begitu ia biasa dipanggil, tak hanya sebagai penulis. Ia adalah pejuang pergerakan yang sempat diasingkan ke Pulau Buru, pada masa pemerintahan Soeharto yakni Orde Baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, hanya satu bangunan yang tersisa dari penjara ini. Terletak di tengah-tengah desa, sebuah bangunan kayu sempat menjadi tempat berkumpulnya para tahanan politik. Bentuknya seperti panggung, dengan lebar 5-10 meter dan panjang sekitar 50 meter. Di tempat inilah penyiksaan dimulai. Puluhan ribu tahanan politik itu dipaksa membabat hutan rapat Pulau Buru menjadi lahan sawah, jembatan, juga jalan.
Di sawah, ladang, juga barak penampungan itulah Pram menceritakan Bumi Manusia. Ia menceritakan buku pertama yang dibuatnya di Pulau Buru itu secara lisan, tepatnya mulai tahun 1973. Pram sendiri diasingkan ke pulau ini mulai 1969-1979. Bumi Manusia jadi yang pertama dari empat buku hasil pemikirannya di Pulau Buru. Tiga buku lain adalah Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang semuanya terangkum dalam Tetralogi Buru.
Desa Savanajaya adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuk mengenang kembali ganasnya penjara Pulau Buru. Pun gedung pertemuan itu jadi satu-satunya bangunan yang bertahan. Sayang sekali, padahal pulau ini punya unsur wisata sejarah yang kental. Masih banyak sejarah tersembunyi di balik lumbung-lumbung padi Desa Savanajaya.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Potret IKN Dikembangkan Jadi Destinasi Wisata Berkelanjutan, Jadi Ibu Kota 2028