Myanmar, Bunga yang Baru Mekar di Asia Tenggara
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Myanmar, Bunga yang Baru Mekar di Asia Tenggara

- detikTravel
Kamis, 03 Mei 2012 14:30 WIB
Burma/Myanmar, Yangon, Yangon - Sejak junta militer berkuasa mulai 1962, Myanmar terisolasi dari negara luar selama hampir setengah abad. Tapi baru-baru ini, negeri Aung San Suu Kyi ini membuka pintu pariwisata. Apakah Myanmar siap menjadi bunga mekar?

Yangon, Bagan, dan Mandalay. Walaupun belum lama terdengar, tiga tempat ini jadi tujuan wisata favorit di Myanmar. Pemerintah negara setempat tampak optimis menyambut serbuan traveler ke negeri yang dulu terisolir ini. Beragam infrastruktur dibenahi, akomodasi dan transportasi diperbanyak, serta mata uang Kyat diganti jadi Dollar AS.

Mengutip situs CNNGo, Senin (30/4/2012), tahun 2011 lalu sekitar 340 ribu wisatawan mancanegara masuk ke Myanmar. Tahun ini, pemerintah setempat menaikkan targetnya sebesar 30% menjadi 500 ribu wisatawan. Hal ini dinilai memungkinkan oleh banyak pihak, mengingat Dinas Pariwisata setempat meluncurkan visa elektronik yang memudahkan masuknya wisatawan asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi, ada beberapa kekhawatiran di balik serbuan traveler ini. Pada Desember 2011 saja, sekitar 48 ribu wisatawan asing masuk ke Yangon, ibukota Myanmar. Hingga saat ini, kota itu hanya punya 187 hotel dan guesthouse. Bahkan di beberapa tempat wisata seperti Bagan dan Mandalay jumlah hotelnya kurang dari itu.

Pertanyaannya, apakah akomodasi di Myanmar sudah mencukupi kebutuhan para turis? Bagaimana dengan masyarakat terisolir yang sekarang menerima serbuan traveler?

Beberapa agen perjalanan membelokkan tujuan wisata dari Yangon menuju Bagan atau Mandalay, di mana kamar hotel masih tersedia. Dua tempat tersebut, ditambah Irrawaddy, boleh dimasuki tanpa izin apa pun. Tapi di beberapa tempat Anda harus menyertakan surat izin yang biasanya diproses dalam 5-7 hari.

Selain karena kekhawatiran adanya konflik antara militer dengan suku minoritas, hal itu juga disebabkan karena peredaran ganja yang marak di Myanmar. Padahal, banyak turis berharap lebih. Mereka ingin melihat pantainya yang belum terjamah, pegunungan hijau yang membentang, serta tentunya wisata sejarah juga budaya.

Nyatanya, injeksi dolar ke negara tersebut tak hanya berbuah positif. Banyaknya turis yang masuk dikhawatirkan akan memberi dampak negatif pada lingkungan, budaya, serta kehidupan sosial.

"Setelah bencana topan di Nargis, banyak wanita yang datang ke Yangon untuk mencari pekerjaan. Tapi, mereka malah dipaksa masuk ke dalam industri seks," tutur Aung Myo Min, Direktur Eksekutif Human Rights Education Institute of Burma.

Bahkan, saat Visit Myanmar Year tahun 1996 lalu, Bagan yang dianggap sebagai kota suci malah dirusak oleh junta militer.

"Mereka mengecat bangunannya tanpa memerhatikan kelestarian. Menendang warga desa setempat sehingga berdampak langsung terhadap pelecehan hak asasi manusia," tambah Aung Myo Min.

Tapi, walaupun banyak pihak yang meragukan niat pemerintah Myanmar untuk membuka kembali sektor pariwisata, ada banyak tanda yang menunjukkan optimisme negara ini di masa mendatang. Hotel dengan rating bintang akan mulai diperkenalkan. Transportasi umum akan dibenahi. Investor asing akan segera masuk. Beberapa zona hotel akan dikembangkan di Nay Pyi Taw, Mandalay, Bagan, serta beberapa area termasuk Kepulauan Myeik di bagian selatan dan pegunungan salju di sebelah utara.

Baru-baru ini pula, Presiden Myanmar Thein Sein menekankan penghapusan kerja paksa di negara itu. Kunjungan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, pada Jumat (13/4) lalu adalah yang pertama kalinya sejak pendudukan militer di Myanmar. Cameron disambut langsung oleh Thein Sein, yang menyebut kunjungan ini sebagai "momen bersejarah bagi Myanmar".

Sementara pemerintah mencoba menghadapi popularitas baru di negara itu, kekayaan alam dan budaya Myanmar masih belum mekar sempurna. Banyak hal yang tersembunyi di balik indahnya matahari terbenam yang terpantul oleh candi-candi emas Bagan. Masih banyak yang belum tersentuh dari hamparan hutan yang membentang jika dilihat dari puncak Gunung Popa. Masih banyak tradisi luhur yang harus diselami sekaligus dihormati sebagai kekayaan budaya Myanmar.

Responsible tourism dinilai jadi satu-satunya jalan untuk menyambangi keindahan Myanmar tanpa merusak nilai-nilai kearifan lokal. Salah satu caranya adalah dengan berkontribusi positif terhadap konservasi peninggalan alam dan budaya. Selain itu, para responsible traveler juga meningkatkan pendapatan ekonomi di tempat bersangkutan, yang sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga setempat.
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads