Dini hari kudapati jejakku sudah berada di Pelabuhan Merak, pada tanggal 28 Juli 2011. Tujuanku adalah untuk menyeberangi selat sunda yang memisahkan antar Pulau Jawa dan Sumatera. Konon cerita legenda atau cerita rakyat mengatakan bahwa Ledakan Krakatau (tentunya sebelum Tahun 1883) lah yang memisahkan kedua Pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia tersebut. Pelabuhan selanjutnya yang dituju adalah Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung. Aku sedikit Lupa nama kapal roro yang kami tumpangi pada waktu itu, tetapi ada 2 kapal yang nampak di dalam berkas dokumentasiku, yaitu BSP 1 dan Bahuga Jaya. Ingat Kapal Bahuga Jaya? Kapal tersebut mengalami kecelakaan pada tanggal 26 September 2012 setelah menabrak kapal tanker di dekat perairan Pelabuhan Merak.
Teman seperjalanan ku adalah rekan senior sesama mahasiswa program pascasarjana di IPB. Berkat dialah aku dapat tahu bagaimana harus mencapai Krakatau. Kebetulan topik penelitiannya dilakukan di Pulau Sebesi, pulau berpenduduk yang terdekat dengan Kepulauan Krakatau. Kami sampai di Merak dan langsung menuju ke Pelabuhan Canti untuk dijemput oleh Kapal Patroli Polisi Hutan dari BKSDA Lampung yang secara hukum merupakan wilayah wewenangnya.
Keberangkatan menuju Kepulauan Krakatau akan dilakukan besok paginya, karena cuaca dan ombak yang tidak mendukung sehingga harus bermalam di Pulau Sebesi pada hari itu. Pulau Sebesi termasuk Gunung yang tidak aktif karena melihat puncaknya yang tertutupi oleh hutan dan perkebunan penduduk lokal. Pulau ini memiliki ekosistem terumbu karang yang telah dijaga oleh masyarakat dalam bentuk DPL (daerah perlindungan laut). Pulau ini merupakan contoh hasil Proyek Pesisir yang sukses di Indonesia dalam program pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil berbasis masyarakat berkelanjutan. Lihat saja, terdapat 4 wilayah DPL yang dikelola sendiri oleh masyarakat setempat. Hebatnya lagi terdapat ekosistem pesisir tropis lengkap dikawasan ini yaitu mangrove, lamun dan terumbu karang ditambah 1 pulau kecil di sebelah timur pulau yaitu pulau umang, dengan hamparan gosong karang mengelilingi pinggir pulau.
Dua set alat dasar selam dibawa untuk melaksanakan tujuan ku dalam survey penelitian yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Tujuan utama adalah untuk menandai lokasi-lokasi pengambilan contoh dan pengamatan terumbu karang. Keberangkatan ke Kepulauan Krakatau dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2011. Perjalanan menggunakan kapal patroli memakan waktu 1 jam 30 menit. Setelah memutari bagian selatan Pulau Sebesi, Kepulauan Krakatau terlihat jelas dari kejauhan. Ke-empat pulau yang menyusun entitas Kepulauan Krakatau langsung teridentifikasi dalam benakku yang selama ini hanya terbayang melalui peta dan gambar-gambar google, yaitu Pulau Panjang, Rakata, Anak Krakatau dan Sertung.
Sambil menatap keempat pulau tersebut dalam benak aku berpikir, bahwa dengan pengalaman penyelaman yang masih sedikit dan kurangnya peralatan yang dibawa kami hanya mampu melakukan dokumentasi dan memperkirakan lokasi-lokasi yang sesuai. Kamera bawah air, alat tulis bawah air, GPS tahan air dan alat dasar penting lainnya tidak dibawa. Sehingga hasil dari survey ini akan kurang memuaskan. Tapi semangatku tidak menyurutkan air laut Krakatau. Hehehe,. Pantai pasir hitam Pulau Anak Krakatau adalah jejak pertama yang kutapakkan di Kepulauan ini.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Hotel Legendaris di Gerbang Malioboro Kembali Beroperasi