Akhirnya perjalanan impian menjadi kenyataan, sudah hampir lima tahun perjalanan ini saya simpan hingga pertengahan Januari 2013 terwujud. Dari Kuala Lumpur kami mengambil rute ke Phnom Penh, ibukota Kerajaan Kamboja. Saat ini tidak memerlukan visa masuk bagi WNI yang ingin berkunjung ke Kamboja, free visa for Indonesia. Setibanya dibandara, kami langsung menuju ke counter Axiata untuk membeli paket mingguan BB seharga USD 5 dan bisa top up USD 5 agar bisa menelpon ke Indonesia. Cukup murah dan signalnya bagus.
Dari kota phonm penh kami melanjutkan perjalanan ke kota Siem Reap dengan moda bus yang menghabiskan waktu selama 6 jam perjalanan.
Cuaca yang ideal untuk mengunjungi negeri kerajaan ini yaitu bulan Desember - Februari yang bercuaca cerah tetapi hawanya cukup sejuk karena hembusan angin dingin dari dataran cina. Sepanjang jalan mengingatkan saya akan suasana pedesaan di Jawa dan Sumatra. Ribuan hektar sawah siap panen dan jutaan pohon aren menjadi pemandangan eksotis dengan rumah panggung khas Kmer. Sangat mirip dengan Indonesia bahkan masyarakatnya pun berkulit serta berwajah mirip dengan bangsa Indonesia, sehingga kadang kami dianggap orang kamboja.
Setibanya di Phonm Penh pukul 07.00 malam, kami dijemput oleh supir tuk tuk (semacam becak motor yang bisa memuat 4 orang penumpang). Seluruh biaya wisata di Kamboja menggunakan pecahan US Dollar, walaupun mereka mempunyai mata uang sendiri yaitu Real Kamboja (1 USD = 3700 - 4000 real kamboja). Harga tuk tuk dari stasiun bus Siem reap ke hotel dikenakan tarif 3 USD/pertuk tuk. Sehingga kalau kita berangkat 3-4 orang tentu bisa berbagi dan menjadi lebih irit biaya.
Dari stasiun bus menuju ke hotel ditengah kota Siem Reap sekitar 15 menit dan kotanya kecil serta turistik. Turis-turis bule hilir mudik malam itu plus dengan para turis asia yang suka bergerombol. Suasannya mirip dengan legian di Bali, setibanya di hotel kami ditawari oleh supir tuk-tuk untuk jemputan menuju ke angkor wat pagi hari pukul 05.00 plus dengan keliling candi seharga USD 20/tuk-tuk.
Akhirnya kami menyetujui harga tersebut dan sepakat untuk dijemput pukul 05.00 dini hari. Setelah check in dan rehat sejenak, kami pun mencari makan malam diseputaran night market yang tidak jauh dari hotel. Mencari makanan halal juga tidak susah, cukup katakan bahwa kami tidak mau ada menu B2, mereka akan mengerti. Harga makanan sekitar 3 - 5 USD/orang dan air mineral 1,5 liter seharga 1 - 1,5 USD. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel untuk mempersiapkan bangun pagi.
This is time, pukul 04.30 dini hari kami sudah siap dilobby dan supir tuk-tuk kami yang bernama Ken (nomor hp lokal: 092229092). Dengan sangat sopan, ia menyapa dan menyambut kami untuk menuju kawasan Angkor Wat. Hawa dingin langsung menyergap kami sepanjang perjalanan dan sangat gelap sekali dengan penerangan jalan yang minim. Tetapi puluhan tuk-tuk dan mobil berlomba menuju ke angkor wat pagi itu. Perjalanan dari hotel menuju pintu masuk Angkor Wat menempuh waktu selama 15 - 20 menit.
Setibanya dipintu masuk, kami langsung disambut dengan ramah oleh petugas wisata dan ratusan turis siap antri membeli tiket masuk. Biaya tiket masuk ke angkor wat ada beberapa pilihan yaitu paket satu hari - USD 20/orang, paket tiga hari - USD 40 USD, paket seminggu USD 60/orang. Pilihan kami jatuh ke paket harian yaitu USD 20/orang dan kami diminta foto badan. Wow, tiket masuk kami dibubuhi foto pribadi yang bisa menjadi souvenir bagi para pengunjung. Hebat!!
Setelah membeli tiket, kami kembali naik tuk-tuk dan petugas memeriksa dengan teliti tiket masuk kami. Jangan coba-coba nakal dengan tidak membeli tiket masuk, karena sangat ketat sekali penjagaan disini. Apabila tertangkap bisa didenda sekitar USD 100 - 200. Don't try it!
Gelap gulita dan hawa dingin menerkam kami kembali dan sekitar 15 menit kami sudah sampai dipintu masuk Angkor Wat. Jangan bayangkan memasuki candi dengan penerangan lampu dipintu masuk. Suasana yang gelap dan puluhan orang yang mencoba masuk sangat unik sekali. Beberapa pemandu wisata membawa senter untuk memandu para turis.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami menemukan ratusan turis asing sudah siap duduk dipinggir kolam kecil depan candi. Beberapa penjaja makanan menawarkan kopi seharga USD 1.
Perlahan-lahan sang surya hadir dan menunjukkan kemegahannya dibalik candi Angkor Wat. Ratusan mata terpukau ketika melihat semburat sang surya yang begitu indah dan begitu mendamaikan pagi itu. Puluhan blitz dan decak kagum wisatawan asing memberikan nuansa tersendiri.
Terharu rasanya menyaksikan keindahan alam yang tiada tara dengan perpaduan kehebatan bangsa Khmer membangun kawasan candi Hindu yang sangat luas ini. Tidak terbayangkan kehebatan mereka. Menghirup udara pagi Angkor Wat yang bebas polusi dan menyejukkan, menjadi kenangan tersendiri.
Perlahan-lahan sang surya sudah menerangi sebagian kawasan candi dan para wisatawan tetap tidak beranjak pergi. Kami menatapnya dengan bangga dan haru.....lovely Angkor!
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
PDIP Vs PSI Soal Jokowi Jalani Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica