Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China

KuKuh Pamuji - detikTravel
Jumat, 01 Nov 2019 10:40 WIB
loading...
KuKuh Pamuji
Bersama Imam Masjid atau Ahong
Bagian komplek Masjid
Mimbar Masjid
Gerbang Masjid
Ornamen Oriental
Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China
Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China
Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China
Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China
Melihat Masjid Berusia 600 Tahun di China
Jakarta - Kota Linyi di Provinsi Shandong, China punya masjid tua yang bersejarah. Usianya 600 tahun!Setiap kali saya mengunjungi sebuah kota baru di China atau bahkan kota dan negara lainnya. Hal wajib di luar prioritas pertama saya adalah bisa mengunjungi masjid setempat dan melihat bagaimana perkembangan muslim di wilayah sekitar. Melihat bagaimana perkembangan kota, baik dari sisi sosial maupun pembangunan.Meskipun sesekali saya hanya bisa sebatas 'menikmati' tanpa menganalisa lebih detail, setidaknya ada pengalaman yang bisa saya dapatkan dari setiap langkah yang dijejaki. Terlebih amalan baik yang dijanjikan Allah untuk orang yang melangkah menuju masjid untuk beribadah.Kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu masjid tua di Kota Linyi, Provinsi Shandong. Jika ada produk 'made in China' di rumah Anda, mungkin salah satunya berasal dari kota ini, karena Linyi merupakan kota yang aktif memproduksi dan mengekspor barang-barangnya ke berbagai belahan dunia.Letak strategis wilayahnya yang tidak jauh dari pesisir laut membuat lebih mudah untuk mendistribusikan produk-produk mereka. Hal ini juga yang kemudian memiliki peran penting terhadap perkembangan dan perubahan sosial di masyarakat setempat, termasuk perkembangan Islam di wilayah ini.Sebagaimana halnya perkembangan Islam di Indonesia yang salah satunya masuk melalui jalur perdagangan, begitu halnya di China. Semakin aktif perdagangan mereka membuat semakin besar pengaruh Islam di wilayah tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya pedagang muslim dari timur tengah atau negara berpenduduk muslim besar lainnya termasuk Indonesia yang berdatangan dan melakukan bisnis di wilayah tersebut. Dampaknya dibukalah restoran-restoran halal, bangunan Mesjid dan fasilitas lainnya yang bisa memberi kenyamanan para 'buyer'.Namun masjid yang saya kunjungi ini bukan dari pengaruh jalur sutra baru yang sering disebut dengan One Belt One Road, tetapi dibangun jauh sebelum itu dan telah memasuki usia 600 tahun yang lalu pada masa Dinasti Ming.Dinasti yang memiliki hubungan dengan Islam begitu erat. Pada masa Dinasti Ming ini pula perkembangan Islam di Indonesia konon juga mendapat pengaruh besar dari Negeri Tira Bambu ini. Buktinya bisa dilihat dari masjid-masjid atau jejak perjalanan Cheng Ho di Nusantara. Ia merupakan laksamana tangguh pada masa tersebut dan juga seorang Muslim.Masjid yang saya kunjungi ini bernama Nanguan. Letaknya kebetulan tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Memilih mengunjungi masjid ini sebenarnya karena pilihan peta yang menunjukan wilayah terdekat dari tempat saya tinggal. Inilah menariknya teknologi di zaman sekarang ini. Saat kita berada di wilayah atau negara di mana muslim merupakan minoritas, maka aplikasi map bisa kita gunakan untuk mencari dimana terdapat masjid atau bahkan makanan halal. Ini yang saya sering lakukan saat melakukan perjalanan di China.Saat saya membuka peta dan mencari mesjid di kota Linyi, saya mendapatkan ada setidaknya 5 masjid yang tersebar di seluruh kota. Jaraknya ada yang berdekatan dan benar-benar jauh dari masjid lainnya. Biasanya dimana ada masjid maka tidak jauh juga akan ditemukan restoran halal berlogo qngzhn yang artinya adalah Halal.Masjid Nanguan terletak di kaki gunung Yinque di jalan Yizhou, Kota Linyi, Provinsi Shandong.Pada masa revolusi budaya masjid ini sempat rusak parah. Monumen asli dan monumen baru rekonstruksi Dinasti Qing dihancurkan dan pada tahun 1989 akhirnya masjid ini disetujui oleh pemerintah kota sebagai unit perlindungan peninggalan budaya utama di tingkat kota (kabupaten). Dan sampai saat ini mesjid ini masih berdiri kokoh sebagai warisan budaya dan tempat ibadah umat muslim di kota Linyi.Hng atau Imam mesjid yang bernama hjnnin atau Abdullah mengatakan bahwa masjid ini adalah masjid yang bersejarah yang setiap jumatnya menampung 40 - 50 jamaah halat Jumat di kota tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa muslim di kota itu tidak begitu besar yaitu sekitar 700 orang yang tersebar di seluruh kota dan mayoritasnya merupakan suku Hu.Masjid Nanguan bukan satu-satunya mesjid yang ada di kota Linyi. Ia menjelaskan ada masjid yang lebih besar tidak jauh dari pusat kota dan menampung lebih banyak jemaah baik muslim Lokal maupun pendatang dari mancanegara.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads