Senja nan Syahdu dan Kemegahan Sam Poo Kong
Rabu, 16 Jan 2019 13:45 WIB
Az-zakia Maharani
Jakarta - Liburan ke Semarang, tak lengkap rasanya bila tidak ke Sam Poo Kong. Apalagi di waktu sore, suasanya syahdu!Bumi tampak lebih berpuisi ketika hujan turun dengan syahdu bahkan di sebuah klenteng yang dikunjungi seorang diri.Langit sore di Gunungpati masih cukup cerah dengan semburat sinar matahari tampak malu-malu di balik awan putih. Angin bertiup mengusik dedaunan di samping kanan dan kiri jalan ketika saya dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang cukup bersejarah di Semarang. Sepanjang perjalanan yang sendiri ini saya nikmati betul sampai mendung tiba-tiba datang. Jalan cukup ramai sore ini, saya melaju lebih cepat menuruni jalan beraspal Gunungpati, segera berbelok mengambil jalan pintas agar lekas sampai. Mendung semakin pekat, tapi saya tetap bersikeras menuju ke sana. Sekitar 10-15 menit perjalanan menggunakan motor, sampailah saya di klenteng megah Sam Poo Kong.Tampak beberapa orang sedang mengantri di depan loket. Saya melangkah buru-buru sebelum langit menumpahkan airnya. Antusias pengunjung tampak jelas sejak awal mengantre tiket, apalagi ketika tahu daftar harga tiket yang ditawarkan sangat terjangkau. Pada hari biasa, tiket yang dijual berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu saja untuk memasuki area wisata. Harga tiket untuk masuk area sembahyang sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu. Beruntung saya datang pada hari biasa, sebab ketika akhir pekan harga tiket pun berbeda daripada hari biasa.Klenteng Sam Poo Kong terletak di Jalan Simongan Raya No. 129, Semarang Jawa Tengah, begitu megah dilihat dari jauh. Jadi ketika kita melintasi Jalan Simongan, kita dapat langsung mengenali klenteng ini. Ketika saya memasuki area wisata, tampak beberapa bangunan megah bernuansa merah di sekeliling saya. Jika dilihat dari sejarahnya, dahulu Laksamana Zheng He atau yang lebih dikenal dengan Laksamana Cheng Ho dilahirkan dengan nama Ma San Bao. Sehingga klenteng ini dinamai Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) yang artinya ialah Gua San Bao.Selama Zheng He berlayar, seorang juru mudinya, Wang Jing Hong sakit keras. Armada Zheng He akhirnya merapat ke pantai Simongan-Semarang untuk mengobati Wang dan membiarkannya beristirahat sementara Zheng He melanjutkan pelayarannya ke Timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah.Ada empat klenteng di Sam Poo Kong yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, yakni Klenteng Dewa Bumi, Klenteng Juru Mudi, Klenteng Sam Poo Tay Djien dan Klenteng Kyai Djangkar. Klenteng-klenteng tersebut memiliki keistimewaan dan sejarah yang berbeda-beda.Klenteng Dewa Bumi diperuntukkan bagi penganut Kong Hu Cu dan Taoisme, Klenteng Juru Mudi adalah Klenteng Wang Jing Hong yang jatuh sakit sewaktu berlayar dengan Zheng He. Setelah sembuh, Wang Jing Hong membangun dan berhasil mengembangkan masyarakat sekitar goa menjadi lebih makmur. Ketika Wang meninggal, makamnya berada di samping goa Sam Poo Kong, makam tersebut dikenal dengan Makam Kyai Juru Mudi. Klenteng Sam Poo Tay Djien merupakan tempat utama bagi umat yang ingin sembahyang pada Sam Poo Kong. Diding luarnya dihiasi oleh relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He. Klenteng Kyai Djangkar memiliki tiga tempat pemujaan sekaligus, dinamai Kyai Djangkar karena di sanalah letak jangkar sekoci yang jatuh ketika armada Zheng He datang ke Pulau Jawa untuk pertama kalinya. Pengunjung hanya diperbolehkan melihat dan berfoto di area luar klenteng. Tentu saja hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu aktivitas beribadah di dalam klenteng.Menariknya, ada tempat penyewaan kostum busana adat khas China lho! Bagi pengunjung yang ingin berfoto dengan pakaian yang berbeda dan agar lebih mengilhami nuansa khas China di sekeliling klenteng dapat menyewa busana ini. Harga yang ditawarkan sangat bervariasi, mulai dari Rp 90.000/kostum hingga Rp 110.000/kostum. Penyewaan busana ini dibuka mulai jam 09.00-16.45.Sayangnya, ketika saya berkunjung ke Klenteng Sam Poo Kong, penyewaan kostum ini ternyata telah berakhir jam operasionalnya alias sudah tutup. Akhirnya saya memutuskan untuk langsung berjalan berkeliling menikmati keindahan Klenteng Sam Poo Kong meskipun langit yang tadinya mendung telah meneteskan air hujan. Tapi bagaimanapun, keindahan Sam Poo Kong tidak berkurang sedikit pun.Senja tampak lebih khusyuk ketika rintik hujan turun membasahi, lampu klenteng telah dinyalakan dan memancarkan sinar-sinar oranye yang menambah keindahan klenteng. Pengunjung lainnya juga masih sangat antusias menikmati syahdunya hujan di tengah Klenteng Sam Poo Kong.Beberapa pengunjung tampak sedang berfoto, bermain hujan di sekitar panggung pertunjukan, bahkan mereka tampak bersemangat meskipun ritme hujan terus tak dapat ditebak. Saya pun akhirnya mengambil jas hujan dan ikut terjun dalam euforia bermain hujan di area sekitar klenteng.Perasaan takjub masih tak kunjung usai saat saya berkeliling melihat patung-patung, corak bangunan, dan membaca sejarah serta berbagai keunikan Klenteng Sam Poo Kong. Sepanjang sejarah, bangunan ini juga telah mengalami beberapa kali pemugaran disebabkan situasi politik pasca kemerdekaan, dan banjir.Pengunjung lainnya juga dibuat kagum dengan pilar-pilar besar nan bercorak, dominasi warna merah yang sangat tegas, area klenteng yang juga luas, dan sejarah yang menarik untuk disimak.Saya pulang dengan perasaan senang, antusias, dan takjub dengan segala kemegahan dan keindahan Klenteng Sam Poo Kong. Bagi kawan-kawan yang ingin berkunjung ke Sam Poo Kong, waktu terbaik untuk menikmati keindahan Klenteng Sam Poo Kong adalah sore hari. Percayalah, perpaduan senja dan nuansa merah di area klenteng akan membuat semua mata terpukau.












































Komentar Terbanyak
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
DPR Pertanyakan Harga Tiket Pesawat Mahal Jelang Lebaran, Aneh Bin Ajaib