Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng

Utami Suprasanti - detikTravel
Senin, 25 Jul 2016 14:59 WIB
loading...
Utami Suprasanti
Dari atas bukit di Pulau Papan
Ikan nemo atau ikan badut
Bawah laut Pulau Togean
Hotel California di Togean
Kami adik-adik Pulau Papan
Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng
Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng
Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng
Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng
Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng
Jakarta - Siapa yang tidak tahu Wakatobia tau Bunaken? Semua tahu dimana kedua tempat itu. Tapi Togean di Teluk Tomini, Sulteng, mungkin sedikit asing. Tapi tak kalah soal keindahan.Teluk Tomini ternyata menyimpan keindahan alam yang luar biasa terutama keindahan dan kekayaan alam lautnya. Terletak di Sulawesi yang bersinggungan dengan 3 provinsi sekaligus, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara.Kepulauan Togean sendiri adalah kepulauan yang tepat berada di tengah-tengah Teluk Tomini yang bisa diakses melalui Palu - Poso - Ampana atau Gorontalo - Wakai. Kami sendiri memilih Ampana sebagai gerbang masuk menuju surga tsb.Dari Ampana kami menaiki kapal perahu menuju Wakai. Pulau terbesar di Kepulauan Togean di mana menara sinyal (BTS) terpancang tegak. Lokasi terakhir untuk kami menghidupkan gadget. Setelah itu, bye bye kantor. Saatnya berlibur.Butuh waktu sekitar 4 jam dari Ampana ke Wakai untuk selanjutnya kami dijemput oleh pihak cottage menuju "rumah" kami selama di Pulau Kadidiri, Togean.Matahari hampir tenggelam saat kami tiba di Kadidiri. Sebuah pulau yang diatasnya terdapat 3 cottages. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk bisa jatuh hati dengan semua yang Tuhan ciptakan di sini.Kadidiri memiliki pantai pasir putih yang bersih. Tidak perlu jauh-jauh untuk bisa menemukan clown fish. Jernihnya air, membuat hewan tersebut mudah terlihat bahkan tanpa perlu membasahi seluruh badan dengan snorkeling.Hari pertama di Togean, semua letih terbayarkan. Mimpi indahnya Togean, semakin nyata. Berbagai informasi kami dapatkan dari sesama penghuni cottages yang pada umumnya justru wisatawan mancanegara. Hanya kami berlimalah penghuni asli Indonesia di tempat tersebutBanyak dari wisatawan yang sudah berkunjung ke Togean berkali-kali. Mereka pun sudah terpikat terutama dengan keindahan bawah lautnya. Ya, diving menjadi aktivitas harian mereka. Bergerak menyelam, dari satu spot ke spot lainnya. Dan bukan dalam waktu singkat. Ada yang tinggal di pulau Kadidiri lebih dari satu pekan. Bagi mereka, Togean adalah tempat yang tepat untuk berlibur dan menikmati alam tanpa perlu terusik dengan kehidupan lain.Listrik pun mati pada pukul 10 malam. Layaknya kehidupan di pulau terasing, tanpa listrik artinya gelap. Tapi ini lah cerita yang justru ingin kami sampaikan ke anak cucu kami kelak. Sesuatu yang indah, memang perlu pengorbanan. Sehari, dua hari bahkan seminggu menjauh dari teknologi, toh tidak akan membuat kami mati atau sengsara. Nikmatilah, kawan. Matahari pagi muncul dengan cerahnya. Menu sarapan kami nikmati di depan 'lobby' cottage dengan pemandangan pasir putih dan pantainya. Hari ini itinerary kami adalah menuju Pulau Papan. Pulau paling jauh yang memakan waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal katingting, sebutan untuk kapal perahu kecil bermuatan 5-7 org berbahan bakar solar.Pulau Papan sendiri menjadi icon Kepulauan Togean karena di sini terdapat bukit yang bisa digunakan untuk melihat pemandangan sekitar pulau dan jembatan yang menghubungkan dua pulau dengan panjang yang cukup fantastis.Bagi yang ingin berkunjung ke pulau ini atau ke Kepulauan Togean, ada baiknya kalian membawa buku-buku bekas untuk diberikan ke adik-adik penguhuni pulau. Tentu akan menjadi sedkit oase bagi mereka saat buku tersebut mereka baca. Mereka yang jauh dari hiruk pikuk kota dengan semua fasilitasnya.Menuju bukit, kami harus trekking sekitar 15 menit. Jalurnya tidak terlalu terjal bagi kami yang pemula. Panas yang menyengat dan membakar kulit, tidak membuat kami menyerah. Keringat memang bercucuran, tapi angin yang menyegarkan menghapuskan itu semua setibanya kami di atas bukit di Pulau Papan.Dari atas, kami bisa melihat indahnya laut dengan warna yang berdegradasi. Puas berfoto dengan berbagai gaya, kami pun turun menuju jembatan. Menurut warga, jembatan sudah mengalami penggantian dari yang sebelumnya hanya dibuat dari papan dan kayu, sekarang sudah berubah menjadi lebih kokoh karena disemen.Β  Aman berarti kami untuk menginjakkan kaki diatasnya.Panjang jembatan ini sekitar 800 meter. Tapi entahlah, saya terlalu larut hingga lupa menanyakannya. Panas memang, namun belum liburan kalau belum hitam. Bahasa lainnya sih eksotis.Sebelum siang benar-benar membakar kami, Pulau Papan pun kami tinggalkan menuju ke spot yang bernama Hotel California. Awalnya kami tidak peduli karena masih kagum dengan Pulau Papan. Lama-lama, kami saling bertanya, "Kita ke hotel?"45 menit berlalu, pemilik kapal menginfokan kalau kami sudah tiba di Hotel California yang ternyata hanya berupa bangunan kokoh di tengah laut yang biasa digunakan nelayan untuk beristirahat.Makan siang kami habiskan diatas bangunan ini. Nasi bungkus yang sudah disiapkan sebelumnya dari Kadidiri. Nikmat, apapun itu lauknya. Berteman dengan pemandangan laut sejauh mata memandang. Indah.Di spot ini, kami harus berhati-hati karena arus bisa tiba-tiba berubah dan membawa kami ke laut dalam tanpa alat diving. Namun, keindahan tetap bisa kami nikmati tak jauh dari kapal ditambatkan. Satu jam berlalu dengan cepat. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Pulau Katupat.Pulau Katupat bertetangga dengan Pulau Tom Ken yang terdapat cottage milik WNA kalau tidak salah dengar. Rencana ingin nikmati siang menuju sore dengan minum kelapa muda, namun apa daya kelapanya belum ada. Ya sudah, kita cari air putih saja kalau begitu. Kami pun pulang kembali ke Kadidiri setelah puas menambah koleksi foto di pulau Tom Ken.Hari kedua berakhir dengan indah. Tidak ada yang mengecewakan dari aktivitas kami hari itu. Semua panca indera merasakannya. Jiwa & raga kami pun menikmatinya. Ini baru yang namanya liburan. Dan kami masih hidup, bahkan tanpa bunyi handphone.Β 
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads