Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat

Pradikta Kusuma - detikTravel
Selasa, 30 Agu 2016 11:20 WIB
loading...
Pradikta Kusuma
Puncak tertinggi di Jawa Barat
Berdiri di atas lautan awan
Terdapat kawah mati tepat di puncak ciremai
Pemandangan menakjubkan diatas ketinggian
Gunung Ciremai adalah gunung yang harus kalian taklukan
Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Menggapai Puncak Tertinggi Jawa Barat
Jakarta - Bagi Traveler yang haus petualangan, mendaki gunung bisa jadi pilihan. Untuk pemula, puncak Gunung Ciremai di Jawa Barat bisa jadi rekomendasi.Gunung yang sebenarnya bernama Cereme ini sering salah kaprah disebut Gunung Ciremai yang berada di perbatasan 3 kabupaten di Jawa Barat yaitu Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Memiliki ketinggian 3.078 mdpl yang merupakan tanah tertinggi di Jawa barat. ada 3 jalur pendakian resmi untuk dapat mencapai puncak tertingginya, yakni melalui jalur Linggarjati, Palutungan dan Apuy.Pos 1 pintu pendakian Apuy. Di sini kita melakukan registrasi dengan biaya Rp 20 ribu/orang, air bersih terakhir hanya ada di pos ini, karena selama pendakian tidak ada sumber air lagi. Keadaan Pos 1 ini tampak terawat dengan baik, ada Mushola, MCK, dan beberapa warung. Informasi mengenai jalur pendakian pun ada di pos ini. Setelah memberi sedikit asupan pada perut, akhirnya tepat pada pukul 10.00 WIB kami benar-benar melangkah mendaki Gunung Ciremai. Trek awal dari pos 1 masih landai dengan beberapa plang peringatan dan peraturan pendakian. Saya sarankan agar membawa masker jika keadaan sedang kemarau, karena jalur menjadi sangat berdebu.Jarak pos 2 ke pos 3 merupakan jalur terpanjang di Apuy. Setiap kali yang nampak hanya tanjakan dan tanjakan yang tiada berakhir. Tapi di sepanjang jalur ini banyak ditemui beberapa titik dengan tanah datar yang bisa dijadikan untuk mendirikan tenda dalam keadaan darurat. Kami pun begitu melihat tanah datar atau kayu yang bisa dibuat duduk manja pasti kami berhenti dan menikmatinya. Mendaki bukan tentang puncak yang kita kejar tapi bagaimana proses dalam perjalanannya karena itu yang lebih kami nikmati.Hampir jam 2, kami akhirnya tiba di Pos 3 Tegal Jamuju. Pos datar yang bisa menampung beberapa tenda, banyak pendaki beristirahat di sini. Tak membuang banyak waktu kami melanjutkan kembali. Trek tetap menyajikan tanjakan yang tak berujung namun lebih banyak batang pohon yang bisa kami jadikan tempat duduk. Kabut pekat pun mulai sering mendekap langkah, kadang hilang kadang muncul kembali. Tanda tanda alam yang kurang bersahabat nampaknya, tapi saya tetap berharap agar hujan tidak turun saat itu. Satu jam kemudian kami tiba di Pos 4 Tegal Masawa. Kami hanya melewati pos ini dengan cepat karena mendung yang semakin gelap. Membayangkan berjalan di trek menanjak seperti ini akan sangat menyulitkan. Rintik rintik air pun berjatuhan dari langit, semakin cepat langkah kami. tapi apa daya akhirnya hujan pun turun dengan derasnya. Suara alarm cukup berisik pagi itu, masih pukul 15.00 WIB. Tapi apa boleh buat kami harus bangun bersiap dan meneruskan perjalanan. Tepat pukul 04.00 subuh kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati pos 5 vegetasi di sekitar jalur tampak mulai terbuka. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dalam gelap ini, hanya gemerlap lampu kota Majalengka yang menemani langkah kami pagi itu. Matahari pagi pun tampak menampakkan sinarnya, tapi kami masih di perjalanan gagal menikmati sapa sang surya di Puncak Ciremai. Kami masih di pertigaan Jalur Apuy dan Palutungan. Menengok ke atas puncak sudah Nampak tapi masih cukup jauh, Pos 6 Goa wallet pun belum Nampak. Yang bisa saya katakan saat summit attack ini adalah 'nanjak abis', tak ada tanah datar sedikit pun. Jalur ke puncak ini beruba batuan sisa sisa letusan Ciremai pada masa lalu. Tampak banyak batu seperti leleran lava yang telah membeku. Kita harus hati-hati dalam melangkah naik. Alon-alon asal kelakon, akhirnya saya pun sampai di puncak tertinggi Jawa Barat. Matahari yang tampak meninggi pun memberi salam kehangatannya. Kawah Ciremai yang sangat curam pun dapat kami jumpai dengan asap belerang yang mengepul di tengahnya. Melihat jauh kebawah tampak gulungan awan nan indah. Kami ada di atas awan bukan dengan sayap atau pun pesawat, tapi hanya dengan langkah kaki. Kita harus berhati hati saat di Puncak Ciremai ini karena bibir kawah yang sangat curam rawan. Kalau ingin narsis tetap ingat safety first kawan. Nampak jelas bekas letusan mengerikan Ciremai di masa lalu yang meninggalkan kawah besar seperti ini. Di puncak seperti ini kami selalu mensyukuri semuanya. Setelah perjalanan panjang kami akhirnya bisa berdiri di tanah tertinggi di Jawa Barat.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads