Mengintip Tempat Persembunyian Rasulullah di Makkah
Senin, 17 Mar 2014 17:52 WIB
Fajr Muchtar
Jakarta - Saat ke Makkah, jangan lupa untuk menengok Gua Tsur atau Jabal Tsur yang jadi salah satu destinasi bersejarah. Di sana, Rasullulah SAW pernah bersembunyi dari kejaran musuhnya.Gua Tsur, salah satu tempat bersejarah di Makkah dan menjadi tempat kunjungan jemaah haji. Cerita Gua Tsur terkait dengan hijrah Rasulullah SAW. Di gua itulah Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran orang kafir Quraisy.Beserta istri saya dan 2 orang lainnya, kami mencoba mendaki gunung berketinggian 747 mdpl itu. Jam 3 dini hari kami sudah keluar dari hotel dan mencari taksi yang mau ke sana. Setelah tak bisa menawar taksi yang dipatok 10 Riyal, meluncurlah taksi ke arah Jabal Tsur. Tentu saja pagi adalah waktu yang tepat untuk mendaki gunung ini.Sampai di kaki Jabal Tsur, suasana sangat sepi. Tak ada rombongan yang naik. Saya pikir hanya kami berempat yang naik ke Jabal Tsur. Setelah melewati tenda besar yang disediakan untuk para pendaki, sampailah di trek yang menuju puncak. Perjalanan dilakukan setapak demi setapak.Baru pada seperempat jalan kami bertemu dengan empat orang China yang mendaki dari jalur lain. Bersama mereka kami melewati jalan yang gelap dan sepi. Untung saja lampu senter sudah disiapkan.Di perhentian pertama, adzan subuh terdengar dari masjid-masjid kecil di kaki gunung. Setelah melaksanakan shalat berjamaah, kami melanjutkan perjalanan. Karena masih gelap, tak banyak pemandangan yang dilihat. Hanya tebaran lampu dari menara Zam-Zam Tower dan lampu-lampu dari Kota Makkah.Entah berapa kali kami berhenti dan istirahat. Istri saya yang masih batuk rupanya cukup terhambat perjalanannya. Udara subuh memang cukup dingin sehingga menggelitik tenggorokan.Setelah 1,5 jam, akhirnya sampailah di puncak gunung. Segera kami menuju gua. Untung saja belum ramai orang, sehingga untuk masuk gua tak perlu mengantre. Shalat sunnah dua rakaat pun dapat dilakukan dengan tenang. Gua Tsur merupakan gua dengan dua ujung terbuka, sehingga antrean bisa dilakukan dengan lebih tertib. Lebarnya tak lebih dari 2 meter dengan panjang 3 meter. Cukup untuk persembunyian berdua.Kisah pada saat Rasulullah bersembunyi di gua itu sangatlah menakjubkan. Saat kaum kafir mengetahui persembunyian Rasulullah, mereka juga menyusul ke puncak.Namun Allah menolong hamba-Nya. Saat para kafir Quraisy tiba di mulut gua, pintu gua terhalang jaring laba-laba dan merpati. Mereka berpikir, sekiranya ada orang yang masuk gua tentu jaring laba-laba itu akan rusak. Akhirnya kaum kafir itu tidak jadi masuk ke dalam gua dan Rasulullah selamat.Oh iya, di puncak gunung itu akan ditemui dua gua yang diklaim sebagai Gua Tsur. Namun menurut pendapat yang kuat, gua yang ditemui pertama itulah yang menjadi tempat persembunyian Nabi. Namun tak salah juga untuk mengunjungi gua yang ke dua karena jaraknya cukup dekat.Sambil menunggu matahari terbit, kami mengisi perut dulu dengan makan mie rebus dan tak lupa teh susu yang menjadi penawar lapar dan pengusir udara dingin. Sedikit-demi sedikit, mentari mulai menyibak kegelapan dan menyinari Puncak Jabal Tsur.Setelah itu barulah kami mengelilingi gua dan melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Dari puncak gunung, bisa dilihat pemandangan di sekitar Makkah dan baru kelihatan trek yang dilalui dini hari tadi.Sayangnya, kondisi kebersihan di puncak tidak terjaga baik. Sampah minuman plastik berserakan di mana-mana, mulai dari puncak hingga bawah. Bau pesing juga sangat mengganggu kenyamanan. Maklum, di puncak tak disediakan toilet. Oleh karena itu, para pengunjung harus mengatur ritme tubuhnya agar jangan sampai buang hajat selama pendakian.Setelah puas menikmati puncak dan bertemu dengan jemaah haji dari berbagai negara, kami memutuskan turun sebelum panas matahari lebih menyengat. Saat turun kami sering bertemu dengan jamaah haji yang baru naik. Biasanya pertanyaan mereka sama "sudah dekat?" untuk memompa semangat kami jawab "sangat dekat, sangat dekat. Sebentar lagi sampai."Saat turun itulah kami melihat berbagai macam bentuk batuan yang seolah ditumpuk dan dipahat oleh tangan-tangan besar. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru